Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi oleh Bayu

Penulis: M. Yusuf Ismail
Penyunting: Adi Bayu Utomo

Agustus telah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kita semua memperingati hari proklamasi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kata-kata merdeka digaungkan kembali ke angkasa Indonesia. Sama seperti pertanyaan apakah kita sudah benar-benar merdeka? Apakah kemerdekaan sudah kita raih sepenuhnya? Setiap tahun pertanyaan tersebut diuapkan kembali. Tetapi disini kita tidak akan membahas kata merdeka, melainkan merdesa.

Ya, merdesa.

Artinya kembali ke desa. Bukan kembali ke desa kemudian mengekploitasinya menjadi kota. Tetapi kembali ke kearifan lokal. Menggali dan mempelajari inti dari adat yang dari dulu sudah dikembangkan nenek moyang kita bertahun-tahun lamanya.

Seperti contohnya adat sebuah suku di daerah Ciptagelar, Jawa Barat. Disana terdapat adat yang menyatakan bahwa menjual beras atau makanan pokok adalah sebuah dosa besar. Adat itu beralasan jika kita menjual sumber makanan kita, sama saja kita menjual kehidupan kita. Jadi semiskin-miskinya orang disana, mereka masih bisa makan, masih bisa bertahan hidup untuk mencari nafkah. "Nggak usah nyolong, apalagi repot repot impor beras."

Jika kita telaah kembali, adat tersebut sudah menciptakan apa yang pemerintah sebut dengan kedaulatan pangan meski dalam skala yang kecil. Bila inti dari adat tersebut kita lakukan secara luas, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi negara yang berdaulat pangan. Makan dan hidup dari hasil bumi sendiri.

Tetapi kenyataanya pemerintah sekarang lebih suka mengeluarkan uang untuk petani Thailand daripada petani Indonesia. Lebih suka impor beras daripada memajukan petani di negeri sendiri. Akibatnya banyak dari petani yang berganti dari menanam padi ke menanam beton. Mengurug lahan pertanian dan mengubahnya menjadi kontrakan, kost, dan kios.

Selama ini kita selalu menaruh perhatian besar kepada ilmu dari barat. Baik ilmu kedokteran, ekonomi, maupun filsafat. Sangat minim sekali kita menaruh perhatian kepada ilmu asli nenek moyang. Padahal banyak hal yang bisa kita ambil dari sebuah adat istiadat.

Mungkin itu dikarenakan pelajaran-pelajaran dari barat menawarkan sesuatu yang sangat kita butuhkan, yaitu uang. Belajar tinggi-tinggi, mengenyam bangku sekolah banyak-banyak supaya nanti bisa menjadi orang sukses yang mempunyai banyak uang. Terlepas baik atau buruk cara mendapatkan uang tersebut.

Sedangkan pelajaran adat nenek moyang ‘hanya’ menawarkan kemuliaan hidup. Walaupun itu dirasa penting dan lebih berharga dari lembaran rupiah. Tapi, dijaman sekarang boro-boro mikirin kemuliaan hidup, wong mikirin makan aja sudah bikin pusing.
x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib