Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi oleh: Journal | Sendy Garjito

Oleh: Sendy Garjito

Le Supray sangat ketakutan waktu itu. Dia terus bertanya terhadap masyarakat Intole ada apa ini sebenarnya. Le Supray diarak keliling kampung dan semua warga berseru

“Bunuh !!! Bunuh !!! Bunuh !!! Pembunuh!!!”.

Ini adalah kali kedua Le Supray akan dibunuh. Sebelumnya Le Supray ketahuan melakukan hal yang tidak disetujui oleh masyarakat Intole, namun Le Supray berhasil lolos berkat dia bisa menjelaskan apa yang dilakukan sebelumnya.

Le Supray merupakan orang yang baik, santun dan sopan. Dia juga merupakan keturunan orang Jawa. Le Supray juga merupakan tokoh di desa Intole, namun bersebrangan dengan warga sekitar karena dia membawa budaya asli Jawa. Dengan begitu Le Supray dicap dukun maupun perkataan-perkataan yang kurang enak didengar. Namun, Le Supray tetap melakukannya karena cinta budayanya. Namun, Le Supray tidak pernah mengajak warga desa Intole untuk mengikutinya. Le Supray juga menghargai budaya yang diusung oleh masyarakat Intole sendiri.

Hingga suatu hari ada sebuah kasus pembunuhan yang terdapat di desa Intole, korban tersebut bernama Garban. ia adalah seorang pendatang entah darimana tidak ada yang mengetahui. Dia seperti alien yang sangat asing saat warga desa Intole melihatnya. Garban menyewa rumah, rumah yang disewa Garban tersebut milik Lurah desa Intole.

Garban sangat terkenal dengan pendatang nakal. Dia kerap sekali meminum minuman keras, membawa gadis yang berganti tiap malamnya. Namun tidak ada satupun warga yang dipengaruhi olehnya. Garban merupakan orang yang hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan, tanpa melihat siapa saja yang telah melihatnya. Tidak ada yang mengetahui pekerjaan maupun asal Garban. Dia datang dan hanya membayar langsung rumah sewaanya kepada pak Lurah. Bahkan pak Lurah sekalipun tidak mengetahui latar belakangnya.

Waktu Garban tewas tidak ada satupun polisi maupun pihak berwajib yang mengetahuinya. Serta kematian Le Supray yang digantung juga tidak ada yang mengetahuinya. Mungkin juga karena desa Intole bertempat di hutan-hutan namun jalur utama untuk masuk ke kota, sehingga menyebabkan tidak seorangpun yang mengetahui kasus tersebut kecuali warga desa Intole sendiri.

Beberapa bulan kemudian dikarenakan banyaknya omongan yang menyebar hingga ke kota. Seorang detektif perempuan mendengar kabar tersebut, perempuan tersebut bernama Detektif Riris. Dia tertarik untuk mengupas kematian 2 warga di desa Intole. Dengan berbekal keberanian dan rasa ingin tahu, detektif tersebut menyamar menjadi pendatang. Setelah detektif tersebut tiba di desa Intole, ternyata desa Intole sedang berduka atas kematian bapak Lurah dengan cara meminum racun.

Setelah Riris menempati rumah sewaan yang dulunya digunakan oleh Garban, dia sudah mulai meneliti dari mulai rumah yang ditinggalinya hingga kelakuan masyarakat disana. Riris menemukan fakta bahwa masyarakat disana sangat ramah satu dengan yang lain. Namun saat Riris datang ke desa tersebut, Riris merasakan ada yang beda perlakuan warga terhadapnya. Namun dengan berbekal keberanian dan ilmu yang memadai Riris berhasil beradaptasi dan bermasyarakat di desa Intole.

Hingga pada waktunya, Riris menemukan sebuah bangunan kolonial semasa penjajahan Belanda dulu. Disulap oleh warga desa Intole menjadi Ruang Laboratorium, ia melihat berbagai bahan kimia berada disana. Namun anehnya tidak ada seorangpun yang ada di bangunan tersebut. Riris melihat sekeliling ruangan melalui jendela, Riris tiba-tiba kaget waktu ia menemukan sebuah tulisan “Ruang Rapat Pembunuhan”. Merasa ketakutan Riris bergegas meninggalkan bangunan tersebut.

            “aku harus bergegas meninggalkan tempat ini, lalu aku akan membawa beberapa bawahanku untuk melakukan operasi ditempat ini” Riris sambil tengok kanan kiri agar tidak ketahuan orang.

Sebelum Riris meninggalkan lebih jauh ada seorang petani yang sedang pulang dari sawah.

            “woi, siapa kamu!” terikan sang petani kepada Riris.

            “hoek, Hantuuu!” seru Riris sambil berlari.

            “woi hantu jangan kau lari!” sang petanipun mengejar Riris.

Petani kehilangan jejak Hantu atau maksudnya Riris saat di persimpangan jalan.

Setelah sesampainya di rumah kontarakan, Riris langsung bergegas menyiapkan berbagai perlengkapannya yang kemarin dibawa untuk langsung pergi dari desa ini. Tak diduga, seluruh warga sudah mulai berdatangan ketempat Riris untuk melakukan pembunuhan terhadap Riris. Semua warga berkata

            “Bunuh Riris Mata-mata orang kota Bunuh Riris Mata-mata orang kota” di kumandangkan dengan mengambil nada naik-naik ke puncak gunung.

Sesegera mungkin Riris langsung meninggalkan rumah sewaanya itu, syukur diucapkan Riris saat dia bisa langsung pergi dari desa itu.

Sesampainya di kota Riris langsung melaksanakan rapat untuk penculikan satu warga dari desa Intole.

            “saya ingin menculik 1 saja orang dari desa Intole untuk memberikan kita info”

            “tapi Ris, apakah ini tidak beresiko”

            “tentu tidak karena kita akan melewati hutan-hutan lalu kita sembunyi disitu, semua siapkan bius untuk tawanan kita.”

            “apakah akan selalu ada orang lewat disana Ris?”

            “banyak sekali ronda disana, ronda keliling dan setiap malam ada 2 orang yang berkeliling, start mereka dari selatan di bagi ke barat satu ke timur 1 nanti ketemu di utara lalu kembali lagi ke selatan, seperti itu ronda disana. Nanti kita menyerang dari sisi timur, dan culik dengan menggunakan bius lalu kita bawa ke markas” Riris menjelaskan dengan serius.

            “oh iya tambah lagi, sebelum pagi kita kembalikan sandraan kita” imbuh Riris.
Selain untuk mengetahui bangunan tersebut, Riris juga berencana untuk menguak pembunuhan yang terjadi pada Garban dan Le Supray.

Malam tiba, saatnya Riris dan para polis merapatkan barisan, dengan menyerbu lewat sebelah timur desa, rombongan Riris melihat 1 warga yang sedang ronda. Dekat mendekat dan mendekat.

            “apaan ini wo....i” menjatuhkan kantong keresek yang dibawa, dengan cepat para polis membuat lumpuh warga tersebut

            “cepat, bergegas kita ke markas.” Seru Riris.

Setelah sampainya di markas, Riris menunggu salah satu warga itu tersadar, Riris mempercikkan air ke wajah warga tersebut.

            “dingin dingin apa ini cuhh!”

            “hey, kamu tadi ngpain didesa Intole?”

            “aku sedang belanja, kenapa kalian menangkapku.”

            “aku tidak menangkapmu, aku hanya ingin mengajakmu main disini.” Kata Riris menenagkan.

            “kamu tadi siang kan yang ingin dibunuh warga”

            “sudah diam, sekarang kamu ceritakan apa yang terjadi dengan desa Intole akhir-akhir ini.”
Warga tersebut hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Riris, langsung dari depan pukulan mengarah keperut warga itu. Masih tetap diam lalu dipukul lagi oleh polis, sampai akhirnya warga tersebut mau angkat bicara tentang desanya.

            “sudah cukup dasar polis gak tau aturan, kau mengiginkan sesuatu selalu dengan kekerasan, itu seperti kau ingin bercinta namun kau memperkosanya” ujar warga itu dengan mata penuh amarah.

            “desa Intole itu desa sangat sakral, tradisi kita kuat, budaya kita kencang.” Ujar warga tersebut sambil menahan sakit.

            “kita ini hidup tidak hanya sebagai petani, melainkan sebagai ahli laboratorium, semua dapat membuat racun yang mematikan hanya untuk menghapus warga asing yang akan merubah budaya desa Intole.

            “Ini adalah desaku, ini tradisi kami jika ada orang yang melanggar atau membuat onar tak segan akan dibunuh oleh semua masyarakat.”

Warga tersebut juga menceritakan bahwa yang membunuh Garban itu bukan Le Supray melainkan warga desa sendiri yang membunuh mereka. Ia juga menjelaskan bahwa Garban dibunuh dengan diracuni dan menuduh Le Supray sebagai pembunuhnya.

            “dengan cara ini, saya serta masyarakat Intole hidup dengan nyaman tentram aman dan sejahtera.” Saur warga tersebut dengan menunjuk dadanya.

Dengan memberikan beberapa sumbangan kepada warga tersebut, Riris bilang jangan beritahu warga yang lain, karena ini hanya akan menjadi arsip Riris. Riris juga berkata untuk tidak akan lagi mencampuri urusan desa Intole lagi.

Sebelum pagi datang, warga tersebut sudah dikembalikan di Desa Intole. Setelah kejadian tersebut tidak ada lagi pendatang yang datang didesa tersebut. Dengan demikian warga masyarakat Intole hidup sejahtera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib