Post Page Advertisement [Top]

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels


2018 merupakan tahun yang  unik, tahun dimana politik dan lick bergabung dan menjadi Policik. Ya, tahun ini juga merupakan tahun terakhir sebelum memasuki panasnya tahun politik, dan akan makin memanas pada puncaknya. Puncaknya adalah pada saat Pemilihan Umum (pemilu) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan juga Pemilihan orang nomer satu di negeri ini, tidak lain dan tidak bukan adalah pemilihan presiden.

            Pemilu masih tahun depan tetapi panasnya hawa pemilu sudah jauh dirasakan dari sekarang seperti di jalan-jalan banyak bendera partai memenuhi jalan dan menempel pada pohon yang seharusnya merindangkan dan meneduhkan pengguna jalan, bukannya sebagai sarana bagi partai politik dalam mengenalkan partainya.

            Panasnya tahun politik juga sudah mulai terasa panas dalam dunia maya (online), banyak perdebatan dari para netizen di media sosial, perdebatan dengan saling membela pilihannya dan menghujat lawan pilihannya, mulai dari mulai grup jual beli, grup para travelling, dan juga grup driver ojek online sudah penuh dengan debat kusir. Parahnya, “sumpah serapah” sangat gampang kita jumpai saat perdebatan di media sosial saat ini. Pensusuk  media sosial bahkan seolah terbagi menjadi dua golongan, yaitu “kampret” dan “cebong”. Kampret adalah sebutan untuk pendukung Prabowo, sedangkan cebong adalah sebutan dari pendukung Jokowi. Jadi saat anda mengkritik Jokowi, siap-siap saja dicap sebagai kampret, begitupun sebaliknya.

Pada musim politik ini kita dihadapkan pada permasalahan baru, dimana tidak bisa “netral” dalam menentukan sikap atau berada di tengah-tengah antara kampret ataupun cebong. Lantas apakah budaya seperti itu harus dilestarikan disetiap menjelang tahun politik seperti saat ini? Tentu jika terus lestari, media sosial akan panas dengan debat kusir yang mejelekkan satu sama lain dan membuat kita akan semakin jauh dengan norma sopan yang merupaka ciri khas negara ini, padahal media sosial di ciptakan agar yang jauh menjadi dekat, dan yang tidak kenal menjadi kenal bukan sebagai sarana saling memperolok. Saling jagal menjagal setiap akan memasuki tahun politik harus disudahi. Tapi yang selalu terselip diingatan, apakah mungkin? Entah. nantoi80

x

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib