Post Page Advertisement [Top]

Sekjen PPMI dk Yogyakarta, Sri Wahyuni melakukan orasi dalam aksi damai di Titik Nol Kilometer, Yogyakarta(24/1). Journal | Arsi

Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta bersama jaringan masyarakat sipil dan pers mahasiswa mendesak Presiden Joko Widodo untuk mencabut keputusan remisi yang diberikan kepada I Nyoman Susrama, pembunuh jurnalis Radar Bali, AA Gede Bagus Narendra Prabangsa.

Kepres No 29 tahun 2018, tertanggal 7 Desember 2018 merupakan bukti pemberian remisi perubahan dari pidana seumur hidup menjadi pidana sementara kepada Susrama.

Menanggapi Kepres tersebut, Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta bersama jaringan masyarakat sipil dan pers mahasiswa menggelar aksi damai yang berlangsung di Titik Nol Kilometer (24/1).

“Pemberian remisi ini menjadi ancaman bagi kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia,” kata Koordinator Divisi Advokasi, Tommy Apriando.

Ada beberapa sikap yang dinyatakan oleh Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta bersama jaringan masyarakat sipil dan pers mahasiswa dalam aksi tersebut. Antara lain, mengecam kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi kepada pelaku pembunuhan terhadap jurnalis.

“Apabila Kepres ini tidak dicabut 7x24jam, maka kami nobatkan Presiden Joko Widodo sebagai musuh kebebasan pers dan pemberantasan korupsi,” terangnya.

Tommy menilai pemberian remisi itu berpotensi mengembangkan impunitas dan membuat pelaku kekerasan terhadap jurnalis tidak jera. Hal itu, menurutnya bisa memicu kekerasan jurnalis di Indonesia terus berlanjut.

“Presiden Jokowi kemungkinan tidak cermat dalam memberikan remisi. Kalau cermat, seharusnya dilihat dulu apa kasusnya, karena Susrama merupakan pembunuh jurnalis yang tidak layak mendapat remisi,” ungkapnya.

Reporter : Chandra
Redaktur : Ate

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by LPM JournalColorlib