Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi : Journal | Adi
Pada bulan November lalu, pihak lembaga membuat peraturan baru, yakni dengan membuka Bussines Students Center (BSC) di hari Senin-Minggu, mulai pukul 07.00 – 22.00 WIB. Peraturan baru ini rilis melalui surat edaran No. 001/SE.WAREKIII/AMIKOM/XI/2018 karena menindaklanjuti aspirasi dari mahasiswa.

BSC ini merupakan tempat mahasiswa “nokturnal” berkreativitas, seperti menciptakan karya, gagasan dan ide, biasanya di malam hari. Sekarang harus berhenti beraktivitas di jam-jam klimaks pemikiran.

Singkat cerita, sebelum tahun 2013 sebenarnya sudah menerapkan 24 jam. Namun, setelah adanya 
suatu kejadian (cerita pengguna lama BSC), penggunaan BSC hanya sampai jam 10 malam di hari kerja. Walaupun telah ditambah di hari Minggu, mahasiswa tetap kehilangan haknya.

Ini yang perlu digaris bawahi, bahwa kejadian tersebut dilakukan oleh 2 mahasiswa, kemudian timbul aturan jam malam yang berlaku untuk semua mahasiswa. Artinya, banyak mahasiswa yang menjadi korban. Dalam hal ini, birokrat telah membuat kebijakan yang tidak bijaksana, yang melakukan kejadian itu hanya dua orang yang sudah lulus juga, mengapa pengguna BSC setelahnya harus terkena imbasnya.

Aturan yang ada di perguruan tinggi dibuat dengan beberapa acuan. Dibuat berdasarkan konstitusi, yakni UU No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan aturan yang dibuat secara kondisional, atau aturan yang sah ketika ada SK dari Rektor. Walaupun demikian, Undang-undang tetap menjadi acuan induk dalam membuat aturan yang kondisional.

Lantas apakah aturan jam malam dibuat dengan mengacu pada Undang-undang Pendidikan Tinggi (UUPT) No 12 Tahun 2012. Sebagai contoh pada pasal 4 (b) UU No 12 Tahun 2012 bahwa perguruan tinggi berfungsi mengembangkan Sivitas Akademika yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, berdaya saing, dan kooperatif melalui pelaksanaan Tridharma.

Saat ini mahasiswa Amikom terbagi menjadi dua golongan. Pertama, Mahasiswa yang mengembangkan kreativitas dan intelektualnya melalui pelajaran di kelas. Kedua, Mahasiswa yang mengembangkan kreativitas dan intelektualnya di luar perkuliahan, seperti komunitas dan organisasi.

Adanya jam malam tidak berpengaruh bagi mahasiswa golongan pertama, karena menggunakan waktu perkuliahan. Selebihnya bisa dilanjutkan di rumah dan pasal 4 pun masih sejalan.

Tapi bagaimana dengan mahasiswa golongan kedua, mereka yang memanfaatkan organisasi sebagai wadah pengembangan kreativitas dan intelektual harus dibatasi dengan jam malam dan BSC yang tidak secara maksimal dimanfaatkan. Maka aturan tersebut sudah tidak sejalan dengan Undang-undang perguruan tinggi, terutama pasal 4.

Ini hanya satu poin dari sekian banyaknya poin-poin UUPT yang tidak sejalan dengan aturan jam malam. Lalu? Gimana penilaian pembaca terhadap kebijakan aturan jam malam tersebut.

Bagaimanapun, saya tetap positive thinking bahwa kebijakan ini adalah hasil dari musyawarah lembaga demi kemaslahatan bersama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by LPM JournalColorlib