Post Page Advertisement [Top]

Menulis Ap Saja Untuk Bekal Esok Hari
Ilustrasi/Bayu Utomo

 “Saya belajar banyak dari membaca, sesuatu yang tidak didapatkan di sekolah-sekolah.”

Saya terlahir bukan dari keluarga yang doyan membaca buku, tetapi bukan berarti mereka tidak membaca, hanya saja mereka membaca apa yang sesuai dengan kebutuhannya, itu saja. “Belajar membaca itu penting, karena dari sana kamu belajar,” kata mereka menasehati sewaktu saya masih berseragam putih merah. Belajar dan membaca itu sangat penting untuk hidupmu.

Setelah berada pada jenjang perkuliahan, baru saya sadar dan sangat setuju dengan perkataan mereka. Sebelumnya saya adalah orang yang bisa dibilang tidak gemar membaca. Dipikiran saya saat itu, belajar berarti sekolah, sekolah adalah modal untuk mendapatkan pekerjaan, dan bekerja itu enggak asyik. Jadi apapun yang enggak asyik tidak akan dikerjakan. Huhh, zaman kegelapanku, sediih :((

Saya sangat kurang dalam membaca, hanya membaca karena suatu kebutuhan dan bukan karena keinginan sendiri. Seperti membaca (baca:googling) untuk keperluan tugas sekolah, atau membaca hanya untuk mencari quotes keren yang ada dalam buku yang kemudian jadi ajang pansos di medsos. Setiap membalikkan lembar halaman terasa seperti minum obat yang sangat pahit tetapi harus diminum.

Ketika pengumuman kelulusan menengah atas, saya berpikiran bahwa saya sudah terbebas dari menulis esai, paper, presentasi, makalah dan tetek-bengeknya. Terutama membaca.

Namun, tidak ada yang benar-benar hilang, justru sekarang, hal-hal semacam itu malah semakin banyak dan menunggu untuk digarap setiap harinya. Pada akhirnya saya pun tertindih tugas, hmmm..

Ironisnya, waktu nge-game saya menjadi sangat sedikit, apalagi untuk streaming di YouTube atau sekedar menonton serial kesukaan di Netflix. Akhirnya saya jenuh dengan semua ini.

Saya merasa seperti berada dalam sebuah penjara yang merenggut kebebasan saya untuk menghirup udara segar di luar penjara. Kecuali menyelesaikan semuanya (tugas) dengan cepat karena dikejar deadline.

Tapi itu semua bukanlah akhir dari hidup, bukan? Ku ingat-ingat lagi pesan yang disampaikan oleh orang yang mendidik saya sedari kecil, yang seolah menjelma sebagai rembulan di tengah gelapnya malam. Mendorong saya dan bertekad untuk tidak lagi berlarut-larut tenggelam dalam kenikmatan zat adiktif di zaman modern dengan scroll tanpa batasnya.


Berproses

Tentu saja mengubah kebiasaan dari tidak gemar membaca menjadi gemar membaca tidak terjadi secara ujug-ujug. Melainkan dari sebuah proses bertahap. Mungkin cocotan saya ini bakal ngebantu kamu untuk gemar membaca, tidak ada salahnya mencoba, kan?


Pertama, Luangkan Waktu Sebentar Saja Untuk Mencari Buku Yang Sesuai Minatmu

Saat saya telah nawaitu serta memantapkan niat untuk gemar membaca, langkah pertama saya yakni harus menemukan buku yang sesuai minat saya, sesuai dengan topik yang saya sukai, sebuah buku yang membuat kita excited dan jatuh cinta kepadanya, temukan buku itu, ucap mbak Nana dalam quotes yang terpampang saat mencari quotes-quotes blio.

Karena baru dalam dunia perbukuan, biasanya kita akan langsung mencari buku dengan tulisan Best Seller besar yang ngeksis jelas di sampulnya, atau mencari berdasarkan penulis yang sedang hype, sesekali kita juga mungkin pernah terbuai oleh judul clickbait, tidak ada yang salah dengan itu.

Penawaran dariku, adalah bertemu dengan circle kamu yang memiliki ketertarikan serupa terhadap buku. Temui mereka, dan mintalah rekomendasi buku darinya. Coba deh. Mereka tentu dengan senang hati akan memberikan rekomendasi mengenai buku-buku yang kamu butuhkan.

Selain itu kamu juga bisa memanfaatkan meminta bantuan mereka untuk mengingatkan kamu menyelesaikan buku yang sedang kamu baca. Dari sana kamu bakal mendapat teman berdiskusi yang asyik mengenai buku yang kamu baca, agar buku yang telah kamu selesaikan itu tidak hanya terekam di pikiran dan penyimpanan smartphone kamu yang kelak bakal tenggelam juga oleh foto selfie-mu.



Selanjutnya, Bawalah Buku Kemanapun Kamu Pergi

Awalnya akan terasa aneh memang, saat semua orang berpegang pada smartphone mereka, bukan agama, membagikan instastory, menulis status WA, sedangkan kamu malah hanya berpegang pada buku yang kamu bawa. Rasanya seperti kembali ke zaman batu. Tapi tenang, jangan ambil pusing mengenai ghibah orang-orang modern di zaman 4.0 itu. Lakukan kebiasaan itu secara konsisten, maka nantinya kamu akan merasa mempunyai kewajiban untuk membuka dan membacanya. Persis seperti kebiasaan society kita yang tidak bisa lepas dari menggenggam smartphone. Jlebb..

Tentu kita tidak mau, kan, dikatakan munafik karena hanya meletakkan buku di atas meja, kemudian mulai meng-unlock smartphone, dan meminum obat yang bikin candu dengan scroll tak terbatas pada aplikasi anti sosial itu? Hasilnya, kamu akan mencoba mencari kesibukan lain, dan tiada lain, kamu akan mulai membaca buku, entah saat sedang menunggu kedatangan Bus Trans Jogja di Halte, menunggu pesanan makanan dari abang ojol, atau sekedar duduk di bangku taman sambil memikirkan hidup yang meaningless tapi enggak less-less amat.



Terakhir Paling Berat, Meletakkan Buku di Samping Tempat Tidur dan Menjauhkan Smartphone Sejauh-jauhnya.

Ketika ingin mengakhiri hari, pasti kamu bakal menaruh smartphone di samping kamu, bukan? Dan akan sangat sulit untuk menaruh smartphone di tempat yang jauh dari tempat tidur. Kebiasaan paling susah tersebut, jika kamu konsisten dan sudah hatam, maka buku akan menggantikan posisi smartphone di hati tempat tidur dan secara otomatis akan membuatmu membaca buku. Mungkin akan terasa gampang jika smartphone kamu hanya berisi pesan dari operator, percakapan grup kelas, atau karena kehabisan paket data.
“Membaca akan mengusir kebosanan di otakmu dan membuatnya terpuaskan.”
Tapi disamping dari tujuan mulia itu, ada hal lain yang akan kita dapatkan dari membaca. Seperti membuka perspektif berbeda mengenai disiplin ilmu baru, mencerahkan pikiran dan hati dengan mempelajari pikiran mereka.

Saya sendiri tidak menyebut diri saya sebagai seorang yang maniak dalam membaca, karena saya hanya penduduk setempat. Dari membaca kita akan lebih menghargai mengenai dunia literasi di manapun kita, atau ia berada, dan dari sana juga saya yakin tidak akan ada lagi razia atau sweeping buku atas dasar terlarang oleh mereka yang tidak gemar membaca dan yang selalu mengkambinghitamkan oknum sebagai pelaku. 


Karena saya hanya manusia biasa, tentunya cocotan saya ataupun realitas yang ada juga tidak bisa sempurna. Tapi… ketika saya berhasil melakukannya, saya tidak menyesal untuk membaca, yang saya agak sesali adalah, kenapa baru sekarang saya mulai gemar membaca?




Penulis: Adi Bayu Utomo

1 komentar:

  1. Aku suka di smartphone, dengan hiasan-hiasan notifikasi, dan sesekali ku sentuh mereka hanya untuk menyuap kebucinan.

    BalasHapus

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by LPM JournalColorlib