Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi/Bayu Utomo


Tepat hari ini (30/1) di Kanada, muncul sebuah tagar #BellLetsTalk, sebuah gerakan yang ditujukan untuk menunjukkan solidaritas terhadap kesehatan mental di negara tersebut. Gerakan itu berawal dari situs web letstalk.bell.ca, tepatnya pada September 2010, Bell Lets Talk mulai ngomongin tentang kesehatan mental di Kanada dikarenakan banyak orang-orang yang enggan membuka mulut mengenai masalah kesehatan mental mereka. Dari sana muncullah berbagai aksi yang dianggap perlu, seperti diskusi terbuka yang menghadirkan jutaan orang Kanada, bahkan publik figur terkemuka turut hadir membicarakan tentang kesehatan mental dengan menawarkan ide-ide segar dan harapan bagi siapapun yang berjuang dengan jumlah yang terus bertambah setiap tahunnya.

Hasilnya, lembaga dan organisasi besar maupun kecil di seluruh kawasan di Kanada mendapatkan pendanaan untuk memperoleh akses, perawatan dan penelitian dari Bell Let's Talk dan pemerintah, juga berbagai perusahaan yang turut serta bergabung dalam kampanye tersebut. Sejauh ini, total donasi yang telah dikeluarkan Bell dalam program kesehatan mental ini mencapai $93.423.628,80 (sembilan puluh tiga juta empat ratus dua puluh tiga ribu enam ratus dua puluh delapan dolar delapan puluh sen).

Tentu saja momen tersebut untuk meningkatkan kesadaran kolektif, agaknya, itu tentu dibutuhkan, dan tentu saja itu merupakan langkah besar dalam cara kita memandang kesehatan mental dalam kacamata kita sebagai masyarakat. Meminjam istilah Ashley Kett, pendekatan tersebut diibaratkan dengan bom karpet yang menyasar stigma yang sangat pribadi.

Tanya, Lalu Dengarkan

Apakah hanya dengan membagikan ucapan yang mengaitkan Bell Let's Talk atau tagar #BellLetsTalk akan membuat semuanya baik-baik saja? Atau mungkin akan membuat orang-orang yang mengalami gangguan akan membuka diri dan berbicara? Lalu bagaimana dengan mereka (pem-viral) yang hanya berdiam diri di dalam rumah sambil memegang smartphone dan mulai membagikan tagar ataupun ucapan khusus? hmmm… hmmm… hmmm...

Aksi nyata yang harus kita lakukan bukan hanya dengan menyebarkan pesan ataupun tweet mengenai tagar tersebut, tetapi sesuatu yang lebih konkret, seperti berinteraksi langsung dengan mereka yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental atau juga mereka yang sedang depresi. Tanyakan kabar mereka, keseharian mereka, lalu dengarkan apa saja yang mereka katakan, apapun itu, dengarkan saja.

Saya tidak sedang membual ataupun berbicara mengenai omong kosong dalam tong sampah yang berbunyi nyaring. Contohnya saja dalam circle saya, tidak sedikit mereka yang mengalami gangguan kesehatan mental, depresi, cemas tanpa sebab, atau sekedar kesepian (seperti saya, eh..), tentu yang mereka butuhkan bukanlah cuitan kita di Twitter, bukan? Melainkan seseorang yang menemani mereka dan mendengarkan setiap cerita mereka.

Salah satu teman hidup saya, bukan, maksud saya adalah teman satu rumah sewa yang juga mengalami depresi beberapa bulan ini, dan tentu saja kesepian seperti saya, mengatakan bahwa kondisi jiwanya akan merasa lebih baik ketika ia meluapkan segalanya melalui bercerita kepada seseorang. “Itu seperti ketika kamu membawa tas gunung yang begitu berat selama kurun waktu yang lama tanpa henti, dan waktunya istirahat kemudian meletakkan tas tersebut, terasa sangat lega.” Ia melanjutkan, “sesuatu itu muncul dari dalam dirimu, dan kamu tidak akan peduli dengan sekitar, kamu hanya menginginkan sesuatu yang tersembunyi tersebut dapat dilihat oleh orang lain,” ucapnya selepas menonton serial Netflix sewaktu orang-orang masih dalam mimpinya.

Ia melanjutkan ceritanya, mengatakan bahwa awalnya ia tidak tahu bagaimana mempercayai seseorang mengenai menjaga rahasia, “bisa saja suatu saat mereka akan membohongiku, menipuku, lalu membagikan semuanya kepada orang lain yang akan membuat diriku malu.” Pikiran seperti itu yang kerap akan membuat dirinya mengurung diri hingga tidak seorangpun yang akan tahu, sehingga ia memperpanjang barisan orang-orang yang tidak siap untuk mengakhiri stigma yang terus berkembang di masyarakat.

Tentu saja orang-orang seperti teman saya ini membutuhkan seseorang yang benar-benar dapat ia percaya, seseorang yang dapat mendengarkan setiap dari apa yang ia ceritakan. Tentu ia akan sangat senang menceritakan hidupnya kepada seseorang tersebut. Sesungguhnya ia hanya ingin didengarkan. Itu saja. Dan mereka butuh seseorang yang dapat mereka percaya.

Menjadi pendengar bagi orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan mental ataupun depresi, tidak dilakukan dalam kurun waktu singkat, tetapi perlu adanya konsistensi, kemudian secara perlahan akan membuatnya kembali menjadi dirinya sendiri. Buktinya beberapa teman saya yang mengalami gangguan, secara perlahan mulai pulih dan kembali bangkit dari rasa cemas tanpa sebab, depresi, ataupun mengalami gangguan kesehatan mental.

Jadi pada intinya, jangan hanya bersolidaritas di dunia maya dengan membagikan ucapan ataupun tagar khusus, tetapi berinteraksilah dengan mereka, tanyakan mengenai hal-hal kecil, lalu jadilah pendengar yang baik bagi mereka, bukan hanya satu dua hari, melainkan secara konsisten, sebuah tawaran langkah konkrit. Barangkali. Tidak ada salahnya mencoba.

Penulis: Adi Bayu Utomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by LPM JournalColorlib