Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi tujuan dari hidup bukanlah bahagia, melainkan bermanfaat. | Repro/bayu utomo

Selama kurun waktu yang lama, awalnya saya percaya bahwa kita lahir untuk menjadi orang yang bahagia.

Kita mempunyai cobaan hidup yang berat, terkadang menyakitkan, untuk apa? Tentu untuk kebahagiaan suatu hari nanti. Seperti kata pepatah: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Saya bukan satu-satunya orang yang percaya dengan sikap tersebut, faktanya jika melihat sekeliling kita, banyak orang yang mengejar kebahagiaan dalam hidup mereka.

Itulah mengapa kita secara kolektif membeli barang yang tidak kita butuhkan, tidur dengan orang yang tidak kita cintai, dan berusaha bekerja keras untuk mendapatkan restu dari orang yang tidak kita sukai.

Mengapa kita melakukan semua itu? Tentu jawaban dari pertanyaan tersebut adalah menyangkut dari permasalahan kita masing-masing.

Kamu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain

Mari kita jujur saja, sebagian dari kita seringkali mempertanyakan tentang orang-orang yang tidak mendapatkan kebahagiaan, tentang orang-orang yang menjalani hidup bukan sebagaimana mestinya, tentang orang-orang yang hidupnya “tidak normal”. Dan saya adalah tipe orang yang tidak peduli dengan pertanyaan “mengapa.”

Saya lebih peduli tentang “bagaimana” kita akan berproses dan berkembang.

Mungkin selama ini, saya telah melakukan apa saja untuk membuat diri ini bahagia, termasuk berbuat sesuatu yang tidak saya sukai, atau menjalani hari-hari dengan dia dan berpikir akan berbahagia dengannya. Sesekali diakhir pekan pergi ke tempat rekreasi dan berharap akan menemukan kebahagiaan, pernah juga bekerja ditempat yang tidak disukai kemudian berharap berbahagia disana.

Pada akhirnya, saat sedang berbaring di tempat tidur, kita akan berpikir, “Selanjutnya apa yang akan dilakukan untuk mencapai kebahagiaan yang tiada akhir ini?”

Secara tidak kita sadari, kita mengejar sesuatu yang sangat bias dan percaya bahwa itu akan membuat kita bahagia.
Semuanya palsu, sebuah kebohongan, sebuah kisah yang dibuat-buat.

Jadi sampai disini, apakah filsuf Yunani, Aristoteles, berbohong kepada kita mengenai ucapannya yang mengatakan:
Happiness is the meaning and the purpose of life, the whole aim and end of human existence.
Mungkin ketika kita membaca kutipan tersebut, kita akan menangkap bahwa tujuan akhir dari hidup kita adalah bahagia. Mungkin juga kita harus melihat kutipan tersebut melalui sisi yang berbeda.

Tapi masalahnya adalah bagaimana mencapai kebahagiaan itu?

Kebahagiaan tidak terjadi dengan sendirinya. Untuk itu, kebahagiaan bukan sesuatu yang dapat dicapai.

Saya percaya bahwa bahagia adalah capaian dari apa yang disebut “berguna/bermanfaat.”

Kebanyakan hidup kita hanya berisi aktivitas dan pengalaman baru, entah pergi ke sekolah, tempat kerja, makan malam, berbelanja, berlibur, atau membeli action figure dari suatu karakter anime.

Kegiatan seperti itu seharusnya membuat kita bahagia, bukan? Tetapi nyatanya tidak. Kita tidak menciptakan apapun, kita hanya melakukan suatu tindakan yang konsumtif dan melakukan sesuatu. Dan itu luar biasa, hmmm…

Jangan salah paham dahulu dongs, husnuzon dulu kek, saya juga suka liburan, sesekali membeli action figure, makan bersama, apalagi ngopi. Tapi jujur saja, bukan itu yang memberikan arti dalam hidup.

Apa yang membuat saya bahagia adalah ketika saya dapat berguna bagi orang lain. Saat saya membeli sesuatu yang juga bisa bermanfaat bagi orang lain, atau saat saya membuat sesuatu yang dapat saya (ataupun orang lain) rasakan manfaatnya dan dapat digunakan.

Sejauh mana konsep dari bermanfaat dan bahagia ini berkorelasi?

Ralph Waldo Emerson mengatakan bahwa tujuan hidup bukanlah untuk bahagia. Tetapi untuk bermanfaat, terhormat, berbelas kasih, untuk membuat perbedaan bahwa Anda telah hidup dan hidup dengan baik.

Terdengar sangat berat, tetapi sebenarnya sangat simpel.

Apakah yang kita lakukan itu membuat berbeda?

Apakah kita melakukan sesuatu yang bermanfaat dalam hidup kita? Kita tidak perlu mengubah dunia terlebih dahulu ataupun melakukan sesuatu. Kita hanya perlu melakukannya sedikit lebih baik daripada saat sebelum kita dilahirkan.

Kesulitan? Mari kita permudah. Saya, sebagai mahasiswa yang mengambil pendidikan IT biasanya akan membuat karya seni ataupun kolase untuk si dia, sesekali menulis artikel tentang pengalaman dalam dunia koding, membantu teman yang terkena musibah, mengajari teman mengenai pengembangan website, atau hanya sekedar menemani orang yang sedang depresi.

Lihat, kan? Bukan sesuatu kegiatan yang besar. Tetapi ketika kita melakukan suatu kegiatan kecil yang bermanfaat bagi orang lain, dan dilakukan terus menerus setiap hari, itu akan membuat kehidupan kita benar-benar hidup. Sebuah kehidupan yang penting.

Merubah pola pikir

Menjadi berguna adalah sebuah pola pikir, dan sama halnya dengan pola pikir lainnya, tentu dimulai dengan sebuah keputusan. Pernah saat bangun dari tidur semalaman, saya memikirkan: apa yang telah saya lakukan untuk dunia ini? Dan jawabannya adalah tidak ada.

Karena saya tumbuh dan berkembang bukan hanya di dunia perkuliahan namun juga di pers mahasiswa, yang saya lakukan adalah menulis, atau sesekali saat kelelahan saya akan mencoba menuangkannya dalam media digital. Atau jika kalian mungkin akan mencoba melukis di kanvas, membuat sebuah produk, atau apapun yang kalian sukai.

Jangan terlalu serius mazz… jangan terlalu dipikirkan, lakukan saja apapun yang menurut kalian bermanfaat. Apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib