Post Page Advertisement [Top]

Ilustrasi : sobsketsa.blogspot.com
Penulis : Arsi Imam B.

“Silahkan masuk.”

Pria Tua itu mempersilahkan. Dia selalu di sini. Ruangan kecil yang sepi dan hangat. Suara hembusan nafasmu dapat terdengar beriringan dengan suara detik jarum jam disini. Aku melangkah masuk. Menapakan kaki yang sebelumnya sudah ku cuci pada lantai yang dilapisi kain halus nan hangat. Begitulah peraturannya. Sebelum menemui Pria Tua itu, kita harus mencuci kaki.

“Boleh aku duduk?”

“Silahkan.”

Biasanya saat mengunjungi tempat ini dan menemuinya, lima atau empat menit ke depan adalah waktu yang cukup membosankan. Tapi, ku kira kali ini akan berbeda.

“Ada apa?”

Pria Tua yang bijak itu bertanya takzim. Seperti biasa, bersiap mendengarkan.

“Tidak, kali ini aku tak akan menangis. Aku tidak takut lagi.”

“Oh, begitukah?”

Aku menganggukan kepala. Beberapa hari terakhir, berkunjung di tempat ini terasa berbeda.

“Jadi, mengapa sebelumnya kau menangis? Sama seperti orang-orang.”

“Sejujurnya, Aku hanya ingin menipumu. Air mataku berkepentingan.”

“Oh benarkah?”

Pria Tua itu berpura-pura kaget. Tentu saja dia berpura-pura. Mana mungkin dia tidak tau jika kebanyakan orang yang datang menemuinya berusaha menipu. Meminta belas kasihan dengan air mata.

“Aku lelah.”

“Apakah kau mau minum?”

Aku menggeleng sebagai jawaban. Belakangan, semua terasa aneh dan membosankan. Semua berangsur-angsur menjadi jelas.

“Jadi bagaimana?”

“Aku ingin berkunjung ke rumahmu.”

“Kapan?”

“Secepatnya.”

“Kenapa?”

“Aku rindu. Kata orang-orang, Aku pernah kesana. Tapi aku lupa?”

“Kau serius ingin berkunjung?”

Aku mengangguk. Kenapa tidak. Sama saja buikan? Hanya perkara waktu. Cepat atau lambat, aku pasti kesana. Lagi pula, ruangan ini membosankan. Mungkin baunya harum. Tapi, terasa menjijikan setelah orang-orang pura-pura menangis di depan si Pria Tua. Dan entah bodoh atau apa, si Pria Tua tetap saja menuruti mereka.

Sekali lagi tempat ini sungguh membosankan. Apalagi di luar sana. Sungguh tempat yang menjijikan.

“Hanya itu nak? Ceritalah seperti biasa. Kau ada masalah bukan? Atau kau ingin bertanya mungkin?”

“Tidak, aku hanya lelah. Kau tau? Aku berusaha menjalankan semua saranmu. Juga termasuk hal-hal yang kau bilang adalah tujuan sebenarnya kenapa aku harus disini. Tapi, ku kira sudah saja. Orang-orang begitu menyebalkan. Maksudku, aku tak tahu kenapa mereka hanya peduli dengan apa yang menurutnya baik. Bahkan saat mereka tau mereka penting bagi kita, mereka hanya peduli pada perasaan dan kepentingan mereka.”

“Begitukah?”

“Iya. Ku dengar, rumahmu penuh dengan orang-orang menyenangkan”

No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by LPM JournalColorlib