Login With Google

“Aku tidak ingin cinta yang sejati. Tapi biarkan aku mencicipi cinta yang bukan sesaat. Biarkan aku berjuang dan bertahan di sana. Biarkan aku tersiksa untuk terus belajar bersetia. Aku rela tenggelam di sana, sebagaimana segelintir orang yang beruntung mendapatkannya. Sesungguhnya, aku hanya ingin kebahagiaan sederhana. Sesederhana membangunkan seseorang dari tidurnya di pagi hari, dan kemudian bercinta…”

Novel bertema cinta memang tak pernah surut ditulis. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu berisi kisah percintaan seorang penulis lepas yang merupakan mantan aktivis ’98. Menjelang detik-detik runtuhnya rezim Orde Baru, kehidupannya bergejolak dan mengakibatkan ia depresi. Selama melewati masa-masa tersulit, kekasihnya selalu ada untuknya. Saat ia berhasil sembuh, kekasihnya justru meninggalkannya. Ia kembali tenggelam dalam kehidupan kelam.

Ketika bayang-bayang kepedihan masa lalu mulai menguap, ‘Aku’–sang tokoh utama– justru harus bertemu kembali dengan perempuan itu. Perempuan yang pernah menjadi kekasihnya. Kehidupan memang berjalan seperti yang seharusnya, namun ‘Aku’ justru kembali merasa kosong. Pertemuan itu membawa ‘Aku’ kembali ke masa-masa sulit.  Membuat kehidupan hanya berkisar komputer butut, kamar yang pengap dengan puntung rokok bertebaran di lantainya, juga setumpuk psikotropika dan ganja.

Identitas ‘Aku’ sebagai tokoh utama dalam novel ini memang tak pernah terungkap hingga akhir cerita. Puthut seakan memberikan ruang kepada pembaca untuk masuk ke dalam pusaran cerita. Membiarkan pembaca menjadi ‘Aku’ agar dapat menikmati konflik hingga mencapai klimaks dan anti klimaks. Pemilihan kata-kata yang cukup luwes dalam setiap percakapan antar tokoh semakin melarungkan pembaca ke dalam alur. Selain itu, penulis cukup cerdik menyelipkan humor-humor kecil di sela-sela mirisnya kehidupan tokoh utama.

Terlepas dari perdebatan apakah cerita ini berdasarkan kisah nyata yang dialami kawan sang penulis atau bukan, Puthut berhasil menyuguhkan sebuah novel yang mampu membuat para pembacanya tersenyum pilu ketika sampai pada akhir cerita. Sudah lama ‘Aku’ bertekad untuk menyingkirkan cinta dari kehidupannya. Meski ‘Aku’ menganggap cinta adalah omong kosong, ia tak pernah berhenti memperjuangkan dirinya untuk mendapatkan cinta. Jika benar novel ini diangkat dari kisah nyata, semoga saja kelak ‘Aku’ benar-benar didatangi cinta tepat pada waktunya. Lutfi

 

Judul buku            : Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Jumlah halaman : 278 halaman

Pengarang             : Puthut EA

Penerbit                 : Manasuka publishing

 

[Arsip daring lpmjournal]

No more articles