Login With Google

Saat si Barat dan si Timur saling melakukan perluasan wilayah demi tujuan menguasai dunia, banyak manusia dijadikan sebagai tumbal. Siapa yang tidak mendukung maka akan dipidanakan dengan status tahanan politik (Tapol) atau bahkan sampai dibunuh. Sejatinya Si Barat dan Si Timur sama-sama bergerak di bawah payung partai, Partai Nazi dan Partai Komunis. Saat Perang Dunia I berakhir, banyak negara atau partai saling berlomba-lomba menciptakan senjata tercanggih, menciptakan pasukan tempur yang tangguh dan membangun sebuah politik yang kuat. Semua hal dilakukan oleh Jerman dengan Partai Nazi dan Rusia dengan Partai Komunis untuk dapat menguasai dunia.

Sebuah film yang diadaptasi dari kisah nyata dalam buku The Long Walk karya Slavomir Rawicz mengangkat mengenai kehidupan para Tapol di Eropa Timur. Saat Partai Komunis menerapkan komunisme di Polandia pada tahun 1945, semua warga negara Polandia yang tidak setuju dengan ideologi tersebut akan dipenjarakan bahkan dibunuh. Hal tersebut membuat banyak warga Polandia dipenjarakan bahkan oleh suami atau istrinya sendiri. Tidak hanya warga negara Polandia saja yang dijadikan Tapol, warga asing pun tidak luput untuk dipenjarankan. Mengingat waktu itu Pemimpin Partai Komunis, Stalin yang anti pati terhadap asing.

Film garapan National Geographic ini mampu menghipnotis para penonton untuk ikut terbawa alur kisah nyata yang diperankan ulang oleh para aktor. Ed Harris pemeran utama sebagai Janusz dipenjarakan oleh pemerintah dibantu oleh saksi yang saksi itu sendiri adalah istrinya. Dalam sebuah sidang sederhana istri dari Janusz disuruh untuk mengungkapkan apa saja yang telah dilakukan oleh Janusz untuk merusak tatanan pemerintahan. Semua diungkapkan oleh istri Janusz dan Janusz dijatuhi hukuman penjara sebagai tahanan politik. Hal tersebut karena Janusz tidak mau mengakui perbuatannya dengan menandatangani sebuah surat pernyataan.

Dalam sebuah penjara di Siberia para tahanan politik dipaksa untuk bekerja, mulai dari memecah batu, menebang pohon sampai dengan menambang. Hal tersebut membuat Janusz benar-benar ingin keluar dari penjara tersebut. Dalam keinginannya tersebut, Janusz berkenalan dengan Khabarov yang sama-sama orang Polandia. Khabarov bercerita banyak mengenai penjara tersebut kepada Janusz bahkan mengenai cara melarikan diri dari penjara.

Sampai suatu malam, Janusz bersama teman-temannya memutuskan untuk melarikan diri, namun saat hal tersebut diungkapkan Janusz kepada Khabarov, Khabarov tidak sependapat. Terjadi perdebatan antara kedua teman tersebut. Janusz yakin bisa kabur sejauh mungkin dari kamp penampungan tapol dikarenakan malam itu turun hujan salju yang sangat lebat, lain hal Khabarov berpendapat bahwa ada faktor lain yang harus mendukung, salah satunya persediaan makanan. Dua teman tersebut akhirnya saling memisahkan diri, Khabarov tetap tinggal di kamp dan Janusz bersama teman-temannya ingin meninggalkan kamp.

Mister Smith, orang Amerika yang ikut ditahan di kamp penampungan bernegosiasi dengan penjaga kamp untuk melakukan sebuah sabotase pemadaman listrik. Dengan padamnya listrik, diharapkan Janusz bersama teman-temannya bisa melarikan diri sejauh mungkin. Waktu pergantian shift penjaga kamp terjadi dan dengan sigap Janusz bersama teman-teman melarikan diri melalui pagar kawat yang dijebol. Walau bunyi sirine berbunyi dan para penjaga kamp mengejar dengan melepaskan anjing pelacak pun tidak bisa mengejar Janusz dan teman-temannya mengingat hujan salju yang sangat deras.

Semalaman mereka bersusah payah untuk terus berlari selama hujan salju turun dengan deras. Moment seperti inilah yang mereka gunakan agar jejak kaki mereka di salju langsung tertimbun oleh salju baru. Akhirnya pagi tiba, mereka mumutuskan untuk beristirahat dan saling menyatukan makanan yang ada. Pada saat inilah, perjalanan para tahanan politik dipertaruhkan. Berjalan kaki sejauh 4000 mile dari Siberia hingga India. Berjalan untuk kematian dalam kebebasan. Berjalan untuk kembali ke sebuah negara. Berjalan untuk memegang teguh ideologi dalam kemerdekaan. Berjalan untuk bersatu dan bertemu kembali setelah hampir 50 tahun terpisah.

Film yang berdurasi 2 jam 13 menit ini cukup untuk memberikan sebuah gambaran-gambaran masa lalu namun tidak untuk sebuah gambar lengkap dari sebuah peristiwa seperti menguasai dunia. Hal-hal yang sangat disayangkan adalah pengambilan gambar yang pada beberapa moment harus dipercepat, sehingga alur cerita kurang lembut masuk ke memori penonton. Selain dari sisi pengambilan gambar, hal yang harus disayangkan kembali adalah sudut pandang ideologi yang kurang sportif. Anda hanya akan menemukan kegagalan Ideologi Komunisme dan Nazisme tidak untuk diluar ideologi tersebut.

“Setidaknya mereka mati sebagai manusia bebas” – Janusz

No more articles