Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang

Adu Argumen? Sebuah Pergumulan Jalan Bercabang
Ilustrasi. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Kalau bisa berdiri sendiri, untuk apa berdampingan?

Kalau dapat melangkah bersama diri, untuk apa membersamai yang lain?

Pernyataan diri yang dibalut kata tanya. Mungkin bentuk kewaspadaan, atau mungkin juga kepercayaan untuk melangkah tanpa perlu yang lain. Beberapa memandang diri penuh keegoisan, sombong, congkak, dan beberapa gel var yang mungkin cocok ‘tuk jadikan nama belakang.

Saya tak mau melebur, karena itu saya pilih jalan lain, yang mereka sebut mundur atau menyerah.

Diri lebih mengenal individu ini lebih baik dari pada diri-diri yang lain. Diri mengetahui sampai batas mana ia berada. Apa yang ia cari, apa yang ia mau, dan apa yang lebih baik untuk individu ini. Sang diri lebih tahu dari diri-diri yang lain.

Memilih jalan lain bukan berarti sama dengan, ‘mundur, ‘ ataupun, ‘menyerah.’ Namun tak apa jika yang lain mengartikan seperti itu. Toh juga diri tak hidup dengan pengertian yang lain.

Ketakutan, amarah, bahagia, dan emosi diri yang lain, cukup jadi masalah pribadi yang tak perlu semua tahu. Dongeng-dongeng manis nan berkesan, telah tersimpan rapi dalam sudut ruang. Harapan-harapan nan jua mimpi pun sudah terseleksi dengan lebih baik lagi. Mana yang cocok untuk kehidupan yang nyata, dan mana yang cocok untuk kehidupan dalam benak berangan.

Saya tak akan menuntut yang lain untuk mengerti. Karena itu, jangan tuntut saya untuk mengerti yang lain.

Individu lahir dengan ketentuan yang berbeda. Namun bukan berarti ada ketentuan yang lebih baik ataupun lebih buruk. Tak perlu merasa dipojokkan oleh Tuhan. Beberapa hanya belum menyadari, bahwa setiap diri, pasti diberi garis hidup.

Langkah gontai tanpa ambisi hanyalah pandangan yang lain…

Alunan kehampaan tak pernah benar-benar mampir dalam ingatan…

Diam lebih diperlukan daripada iba dan hujatan yang ditujukan…

Saya juga memikirkan yang lain.

Deklarasi atas pandangan yang, ‘acuh,’ dibelakang namanya.

Saya juga mengambil tindakan untuk yang lain.

Melangkah tanpa menutup telinga dan juga mata.

Namun saya sadar, tak semua dapat saya campuri urusannya.

Langkah terasa lebih ringan, perjalanan terasa lebih menyenangkan.

“Itulah yang saya pegang sampai saat ini,” tungkas diri dalam perdebatan hati.

 

Oleh: Dina Fadhilah
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email