Login With Google

Pernah tidak ketika kamu akan menulis, selalu saja ada kendala. Baik berupa mekanisme tulisan yang hendak kamu tulis, atau sekedar merasa tulisan serta analisis kamu kalah jauh dibanding yang lainnya [yang sebenarnya adalah ketakutan mengalami perundungan yang dilakukan oleh orang lain].

Paragraf di atas merupakan contoh pengantar sebuah tulisan yang biasanya ada di sebagian mekanisme kepenulisan, biasa sebagai jembatan sebelum menuju inti tulisan.

Tai kucing!” kata seorang di bawah lampu remang-remang di sebuah tempat ngopi. Ia enggak sedang melihat seonggok kotoran kucing yang tercecer di pandangannya. Melainkan sedang berpikir keras guna merampungkan tulisannya yang sejak bulan lalu tidak ada kata selesai itu.

Sedangkan teman sejawatnya yang berada di samping si ‘yang menyebut tai kucing tadi‘ berusaha menjadi malaikat dengan cara menyuguhi beragam rujukan tulisan yang diharapkan mampu menutun si ‘yang menyebut tai kucing tadi‘ untuk menuntaskan tulisannya.

Dengan berbekal sebuah laptop yang harus terus mendapat pasokan energi, ia pun kudu memasok pikirannya dengan energi berupa ide-ide segar untuk terus menulis.

Jika ditinjau dari sisi sosial yang enggak sosial sosial amat, menurut seorang sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan yang kebetulan sedang berada di tempat ngopi itu berpendapat, “sebenarnya pengkotak-kotakan [rubrikasi, –red] dalam kepenulisan itu hanya akan membuat orang-orang menjadi bingung, menjadi apa atau harus seperti apa tulisan yang mereka buat.”

Namun, si sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan tersebut tetap mengamini anggapan bahwa kebermanfaatan rubrikasi adalah untuk sebagai gap atau pembatas tulisan-tulisan sampah dan tulisan yang baik.

Begitu disebutkan mengenai tulisan sampah, salah seorang audience di sebuah tempat ngopi itu langsung naik pitam. Orang yang naik pitam ini tidak terima, kemudian mendatangi si sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan tersebut.

“Bukan gitu masss…” kata orang yang naik pitam ini.

Orang yang naik pitam ini melanjutkan, “kamu tahu tidak perjuangan seorang jurnalis dari mulai liputan ke lapangan sampai naik? [maksud orang yang naik pitam ini adalah diterbitkan, baik cetak maupun daring]”

“Hloh memang begitu adanya mas,” kata si sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan tersebut. “Lihat aja di portal-portal berita onlen sekarang, isinya sensasional banyak jenis-jenis cairan, judul klik bait, bahkan satu halaman berita bisa ketutupan iklan semua dan satu tulisan dibagi beberapa halaman lagi. Iya apa iya?” lanjut si sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan tersebut dengan nada menantang.

Si orang yang naik pitam itu semakin naik pitam, dengan nada yang lebih tinggi ia mengatakan, “Iya sih benar semua yang kamu katakan mas! Tapi yang perlu kamu tahu, mereka, para jurnalis sudah mati-matian bekerja demi menyajikan informasi buat klean-klean. [Iya, si orang yang semakin naik pitam itu mengatakan klean-klean]”

“Harusnya yang musti kalian kritisi itu ya sistemnya, yang membuat hasil liputannya begitu menyebalkan dan masuk kategori yang kamu bilang sampah barusan.” Lanjutnya.

Dan si orang yang semakin naik pitam ini belum selesai berbicara, “Sistem ini, sistem yang membuat berita yang kita konsumsi menjadi busuk, karena orientasi media-media itu ya lagi-lagi mencari keuntungan. Iklan yang nutupin tulisan, judul klik bait, satu berita yang dipisah-pisah, dan segala hal menjengkelkan itu semua ya buat cari keuntungan. Begitulah media yang berorientasi benefit bekerja mas!”

Belum sempat si sarjana yang tidak ingin riya’ dengan menyebut nama dan jabatan tersebut berkata, si orang yang tadinya naik pitam namun sudah tidak naik pitam itu berujar lagi, “Parahnya lagi, ada teman saya yang satu hari dituntut harus mengerjakan lima sampai sepuluh berita, bahkan ada yang sampai belasan mas perharinya. Gaji yang diperoleh pun tak seberapa, bahkan di tempat yang katanya media besar, satu tulisan hanya dibayar belasan ribu. Apa iya itu masih mending ketimbang anak-anak yang dimintai tolong membuat desain namun hanya dibalas terimakasih? hmm…”

Si orang yang tadinya naik pitam namun sudah tidak naik pitam itu menghela nafas dengan lega. Bukan akibat ia telah menyelesaikan apa yang hendak ia omongkan, melainkan karena orang yang menulis tulisan ini hanyut dalam sebuah tidur yang enggak lama-lama amat, namun cukup untuk meredakan adu mulut yang terjadi sebelumnya.

Aku pribadi, yang menjadi saksi mata terjadinya adu bacot tersebut hampir-hampir turut serta dalam arena pertarungan itu. Untungnya, aku ingat akan tupoksi ku yang hanya menjadi seorang penulis saja, bukan malah ikut tersulut.

Itu sebabnya, aku membuat tulisan ini dalam bentuk yang ala kadarnya. Selain tidak ingin dibuat pusing oleh mekanisme penulisan yang ribet, juga untuk melancarkan proses kelahiran tulisan ini [jika terbit tentunya].

Apalagi, di sebuah tempat bernama sosial media, seorang penulis tidak lagi dapat sesumbar. Harus ada penjelasan singkat terlebih dahulu agar orang yang membaca dapat menangkap apa yang hendak seorang penulis utarakan.

Hal tersebut malah terkesan lucu, “masa iya mau mengkritik [dengan cara seolah menjilat] harus menuliskan ‘ini satire’ terlebih dahulu.” kesal seorang warganet yang ketika menulis di portal berita selalu diintervensi oleh Editor maupun Pemred.

Aku ingin menulis dengan sederhana, terbebas dari segala intervensi siapapun!

Apalagi Editor dan Pemred yang selalu menyebarkan ketakutan di setiap tidur-tidur yang tidak pernah lagi nyenyak.

Bekerja di industri media memang tidak pernah mudah. Selain harus siap pasang badan ketika media atau individu dipersekusi, mereka juga harus dapat bertahan dari badai oligarki media.

Begitu banyak media-media yang orang-orang menyebutnya media alternatif, harus cepat-cepat gulung tikar. Pendanaan lagi-lagi menjadi faktor utama. Mojok dan Remotivi adalah salah satu yang telah mengalami asam-pahit garam dunia media. Meski hari ini masih juga tersendat-sendat dalam bertahan. Namun keduanya masih tetap eksis, dan malah terus berinovasi. Tjakep!

Kesadaranku telah kembali ke warung kopi. Ketika si ‘yang menyebut tai kucing’ di awal terlihat semakin gusar setelah mendengar perdebatan dua orang yang tidak ia kenal tersebut.

Dikarenakan batas kumpul tulisan yang tidak ada satu jam, si ‘yang menyebut tai kucing’ di awal mengebut proses pengetikan. Ia tidak lagi peduli dengan mekanisme apa saja, dan jenis tulisan seperti apa yang hendak ia tulis. Ia menulis apa yang memang ia ingin tulis. “Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam,”katanya bangga.

“Okay! Tulisan rampung sudah. Tinggal satu langkah lagi, mengirim via email!” katanya kepada teman di sampingnya yang telah gagal menjadi seorang malaikat penolong.

Namun usaha temannya si ‘yang menyebut tai kucing’ di awal harus tetap diapresiasi. Jika tidak ada dia, barangkali si ‘yang menyebut tai kucing’ di awal hanya menggarapnya sendiri di sebuah tempat ngopi tersebut.

Hujan semakin deras, terbukti dari gemerincik yang semakin cepat yang menghujam genting tempat ngopi tersebut. Tiba-tiba saja listrik padam, sebelum si ‘yang menyebut tai kucing’ di awal mengirimkan tulisannya via email.

Sambil menangisi tiap sendi-sendi kemalangan, ia teringat akan penggalan perkataan salah seorang penyair yang tidak ingin disebutkan namanya, hidup hanya menunda kekalahan // tambah terasing dari cinta sekolah rendah // dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan // sebelum pada akhirnya kita menyerah.

No more articles