Aku Malu Jadi Manusia: Sajak Perlawanan Dari Cupay

Terlihat Riska [tengah] sedang berbicara menggunakan microphone diantara Cupay [kiri] dan Raihan [kanan]. Foto. Journal/Bayu Utomo
Terlihat Riska [tengah] sedang berbicara menggunakan microphone diantara Cupay [kiri] dan Raihan [kanan]. Foto. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sembilan tahun

Bunga diperkosa dengan keji oleh paman

Bunga menjadi bulan-bulanan ibu kandung karna stres akan

keadaan ekonomi

 

Tiga belas tahun

Bunga memutuskan kabur ke pondok keagamaan

Karna takut tinggal bersama ibu kandung

Jauh semakin jauh semakin jauh uh uh uh

Bunga meninggalkan cinta menyiksa, disebut rumah

 

Dua puluh empat tahun

Bunga menjadi korban kampanye hitam dipersekusi oleh ormas

Bunga di paksa memakai tutup kepala untuk mendapatkan KTP

Bunga dianggap mangkir dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Karna tak mampu bayar uang cuti empat ratus ribu rupiah

Menjelang dua puluh lima tahun

Terimakasih Tuhan, Alam, Amak Apak, Kawan

Karna membuat bunga malu menjadi Manusia

Ngungsi di Jogja, April 2019

•    •    •

Suasana tempat ngopi yang semula riuh dengan obrolan orang-orang yang memenuhi tempat tersebut seketika hening, ketika seorang perempuan dengan suara lantang membacakan puisi berjudul Menjelang Dua Puluh Lima Tahun. Puisi tersebut dibacakan di akhir acara Musyawarah Buku dan Literasi (MUBAL) yang digelar oleh Ngopinyastro dan Mepi di Djelajah Kopi pada (21/5).

Cupay―si pembaca puisi Menjelang Dua Puluh Lima Tahun, merupakan sosok di balik terciptanya puisi tersebut. Tepatnya pada 17 Mei lalu, Cupay baru saja meluncurkan buku antologi puisi berjudul “Aku Malu Jadi Manusia”. Salah satu puisi dalam antologi Cupay merupakan puisi yang ia bacakan di akhir acara MUBAL.

Perjalanan puisi Cupay tidak serta-merta lahir dengan waktu yang singkat, ia telah bergumul dengan hidup dan menuangkan pengalamannya ke dalam puisi sejak 2014. Selain Cupay selaku pembikin antologi, acara MURAL ini dimoderatori oleh Rhy Husaini dan Riska Kahiyang dari Ngopinyastro sebagai pemantik diskusi.

Bercerita mengenai perlawanan

Buku antologi puisi Aku Malu Jadi Manusia terdiri dari dua puluh tujuh puisi, dimana tiap puisinya memiliki cerita dan jalannya sendiri. Misalnya saja, puisi berjudul Talang yang lahir ketika Cupay berada di pusaran konflik pembangkit listrik tenaga bumi (Geothermal) di Gunung Talang Bukit Kili, Sumatera Barat. Dalam Talang, Cupay menggambarkan kengerian yang timbul akibat penggundulan gunung yang dilakukan oleh korporasi dengan balada aparatnya yang katanya ‘mengayomi’ itu.

///Talang///Mentariku menyambut//Menyambut kegaduhan//Menyambut ketakutan//Menyambut kegelisahan//Karena kemunafikan//Siangku menangis// Tak lagi menemani bocah kecil berlarian//Tak lagi menemani gadis bercerita mimpi//Tak lagi menemani pemangku cangkul//Karena seonggok daging bernyawa berbisul//Bermulut kakus//Malamku tanpa bintang dan bulan//Hanya kesuraman//Suram karena jangkrik dan burung malam tak lagi bersenandung//Suram karena suara ketakutan//Karena aparat yang katanya bersama rakyat//Karena aparat yang katanya mengayomi rakyat//Dan kau yang disinggasana//Gunung kami digunduli korporasi//Kenapa kau hanya beronani dan menjilat//Kelamin teman sendiri//Ih//Masyarakat Talang menangis//.

Dalam puisi-puisi Cupay, penggunaan diksi yang dipergunakan tidak melulu dengan bahasa yang begitu rumit dimengerti atau menggunakan metafora kompleks maupun sajak ab-ab. Cupay lebih memilih diksi yang frontal, tujuannya tentu agar pesan dalam puisinya dapat memprovokatori pembaca untuk melawan.

Untuk orang-orang yang bergelut dengan dunia aktivisme maupun orang-orang dengan pemikiran terbuka, puisi-puisi Cupay yang vulgar ini tentu akan dengan mudah diterima. Riska membandingkan puisi-puisi vulgar Cupay dengan karya-karya Djenar Maesa Ayu yang secara tersurat menyebutkan kata vagina, payudara, dan penis dengan sangat terang.

Riska lebih menyarankan penggunaan diksi sensitif dengan berangkat dari puisi dari Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya) yang memainkan diksi vulgar namun dengan cara yang halus. Misal ketika Romo Mangun mengatakan seks dan malam pertama dapat menganalogikan diksi sensitif dengan tumpang tindih. Cara Romo Mangun yang menggunakan diksi sensitif dengan cara halus menurut Riska dapat dengan mudah diterima di semua kalangan.

Untuk semua kalangan

Puisi-puisi vulgar Cupay tidak serta membuatnya tersegmentasi, untuk lingkaran sendiri, atau orang-orang yang seideologis dengan penulisnya. Puisi dalam buku Aku Malu Jadi Manusia, menurut pengakuan Cupay sendiri, puisinya tidak untuk segmen tertentu, melainkan untuk semua kalangan. Berangkat dari puisi ini, Cupay, di satu titik ia ingin menyadarkan orang-orang yang ‘terlalu lama tertidur’.

Karya adalah anak kandung dari si seniman, Ketika dia sudah disiarkan (dipamerkan) dia adalah milik publik

Cupay menyebutkan bahwa puisi-puisi yang lahir dengan diksi yang terlalu banyak pengembangan bahasa, metafora, hanya akan membuat pembaca kesulitan dalam mengartikannya. Ia lebih memilih diksi yang mudah dimengerti walau dengan diksi yang begitu frontal dan realistis.

Nilai tawar dari puisi ini, dimana dia itu tidak hanya menulis sekedar menulis, tetapi dia itu sudah mengalami perjalanan itu sehingga dia bisa menulis. Mba Cupay disini memotret jejak langkah kakinya, bukan lagi memotret tempat mana yang ingin mba Cupay jajaki. Tutup Riska.

Kopi, senja, dan hujan

Riska mengatakan, ketika melihat fenomena sastra terkhusus puisi saat ini, maka puisi yang sedang hype adalah puisi indie. Puisi dengan kata-kata senja, hujan, dan kopi akan lebih ngena di kalangan anak muda hari ini walau ada juga yang mengartikan kata-kata khas anak indie tersebut begitu hina.

Menurutnya, tidak ada yang salah dengan itu semua, jika memang kata-kata yang sedang digandrungi tersebut dapat dianalogikan dan bertransformasi menjadi sebuah bentuk perlawanan. Melihat perkembangan puisi hari ini, Riska teringat akan penyanyi yang kerap ditemui di tengah konflik perampasan lahan maupun acara kesenian, khususnya di Yogyakarta; Sombanusa.

Riska menyebut bahwa Sombanusa merupakan salah satu contoh fenomena puisi yang dapat dinikmati saat ini, ia (Sombanusa) berbicara mengenai perlawanan yang dibalut dengan romantisme ala anak indie. Sombanusa dilihat mampu memanifestasikan suatu bentuk perlawan romantisme ke tengah orang-orang hari ini. Terlepas dari itu semua, kopi, senja, dan hujan merupakan puisi ke-bhineka-an yang harus dirangkul tanpa harus membuat mereka terlihat hina.

Apabila kopi ditolak, hujan dibungkam, hanya ada satu kata; Senja

―Rhy Husaini

Banyak yang mengatakan, bahwa sastra bermuatan sangat dalam, simbolisme, dan perlu mengulik lagi untuk mendapatkan sudut pandang yang lain. Riska sendiri mengamini bahwa sastra itu harus berkembang. Tidak terlepas dari sastra tersebut bersifat indie atau sebutan lainnya yang mungkin akan membuat kepala anak progresif hari ini mules.

Bisa saja bacaan-bacaan yang kita baca hari ini, Bagi mereka, bermula dengan membaca buku dari Tere Liye ataupun Fiersa Besari, yang kemudian akan mengenalkan mereka kepada Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad, atau bahkan Ayu Utami. Jadi jika memang ada kanonisasi sastra, maka kanonisasi sastra tersebut ditujukan kepada zaman itu.

Jeritan Pemberontak

Cupay merupakan perempuan yang tumbuh besar di Minangkabau, namun ia bukanlah perempuan yang hanya ‘manut’ pada takdir. Hasrat memberontak telah terbentuk dalam dirinya dan menjelma menjadi puisi-puisi yang kini dapat kita baca dalam bukunya.

buku lpmjournal.id aku malu jadi manusia
buku Aku Malu Jadi Manusia. Foto. Journal/Bayu Utomo

Mengenai mereka yang tak berpihak kepada tanah ulayat Minangkabau hari ini, Cupay ingin menawarkan sebuah perlawanan atas konflik agraria yang terjadi disana. Masyarakat Talang, masyarakat Simpang Tonang, terluntang-lantung hari ini, banyak yang dikriminalisasi, banyak yang dipenjara tanpa alasan yang pasti, ayo kita suarakan itu! ucap Cupay menggebu-gebu. Melalui buku antologi puisi ini, Cupay ingin menghadirkan konflik-konflik agraria yang terdapat di Sumatera Barat kepada semua kalangan dan kepada uda-uda disana, toh pada dasarnya, Plato melawan Socrates kok, tutupnya.

Aku Malu Jadi Manusia, secara empiris merupakan sebuah kutukan terhadap diri Cupay sendiri karena ia tidak mampu untuk menyelamatkan orang-orang yang ia tulis dalam bukunya untuk selamat dari pusaran konflik agraria yang terjadi. Seperti halnya ketika ia dengan ikhlas menerima Drop Out (DO) dari kampus yang membuat orang tuanya dirundung pilu yang begitu mendalam.

Dengan hadirnya buku antologi puisi karya Cupay ini, serta kemudahan memperoleh informasi dan akses terhadap penulis, analogi yang berkembang hari ini seolah bergeser pemaknaannya; menghidupkan penulis dan mematikan pembaca.

Riska menutup diskusi dengan pernyataan, Membunuh orang lain itu mudah, membunuh diri sendiri itu yang sulit, maka teruslah berpuisi, karena puisi adalah senjata pembunuh paling indah. []

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email