Baru-baru ini saya mendengarkan Podcast seorang Influencer bernama Revina VT yang berjudul “Tidak Punya Siapa-Siapa,” yang kembali mengganggu saya dengan trend yang terjadi ditengah generasi saya yang diwariskan dari satu generasi di atas saya.

Trend ini adalah filosofi dan gaya hidup individualis yang menitik beratkan segala hal kepada ambisi individu, serta hedonisme sebagai bentuk pencapaian atas kerja keras individu.

Entah dari mana nilai-nilai narsistik ini populer, tapi saya secara pribadi sudah merasa muak. Filosofi ini juga menegasikan kesenjangan sosial yang terjadi sehingga seolah-olah semua orang punya pilihan dan akses yang sama sehingga tidak ada tanggung jawab sosial yang melekat dalam diri mereka, seolah semua manusia terlahir setara.

Dan saya rasa, hal ini pula yang membuat filsafat Übermensch (Superman) Nietzsche jadi fenomenal. Homo Homini Lupus seolah absolut dan menjadi dasar untuk menghindar dari ketergantungan manusia terhadap yang lainnya.

Pada akhirnya, gaya hidup ini hanyalah bentuk pelarian terhadap fakta, bahwa ada sistem yang senantiasa memaksa kita untuk saling berkompetisi dalam mencapai ambisi-ambisi pribadi kita.

Tidak beda dengan doa pada waktu subuh, menjamurnya gaya hidup semacam ini adalah bentuk keputusasaan generasi ditengah gempuran kapitalisme yang semakin keras. Pada kenyataannya, manusia akan selalu bergantung pada manusia lainnya, juga pada alam.

Manusia memang bebas memilih, tapi kita hanya bisa memilih lewat pilihan yang telah disodorkan oleh “pasar”. Individu memang bergerak sendiri, tapi dituntun dengan peta yang telah dikonstruksikan oleh sistem.

Tidaklah salah untuk melepas ketergantungan kita pada mereka yang dinyatakan lebih kuat dari kita. Namun untuk melawan, kita harus bergantung pada solidaritas dan memperkuat persaudaraan kelas tertindas. Masalahnya ada dalam relasi kuasa, bukan ketergantungan terhadap manusia lain.

Saya sadar, bahwa generasi saya dan satu generasi di atas saya adalah generasi yang lelah di tengah kejamnya kompetisi yang diciptakan oleh kapitalisme. Hal ini membuat mereka ketakutan melihat rakusnya kelas yang berkuasa, dengan monopoli dan eksploitasi yang mereka lakukan.

Sehingga mereka menganggap bahwa manusia bisa menjadi kejam, dan mereka harus melepaskan ketergantungan mereka pada manusia lainnya agar selamat. Dan saat mereka membawa paranoia ini ketitik yang paling ekstrim, mereka harus mengalahkan yang diatas, dan menjatuhkan yang dibawah.

Mereka lupa syarat terjadinya kekejaman ini bukan semata-mata karena ini adalah sifat manusia, tapi kepentingan kelas yang dibentuk oleh kondisi objektifnya.

Sosialisme bagi generasi saya dianggap terlalu kuno dan sudah tidak relevan, padahal mereka secara tidak langsung sebenarnya tidak memedulikan relevansinya, dan memandang ini semua sebagai fesyen sehingga memilih untuk mengikuti trend yang ada.

Apa yang Revina katakan bahwa manusia juga merupakan Homo Homini Lupus sebenarnya ada benarnya, tapi itu semua karena sistem yang memaksa kita untuk berkompetisi agar tetap hidup.

Dan pesimisme terhadap kehancuran kapitalisme tidak akan pernah membawa kita kemana-mana karena kita hanya akan terus lari dan menyalahkan diri kita sendiri saat kita gagal, dan sombong saat kita mendapatkan suatu pencapaian karena kita merasa tinggal satu langkah lagi menjadi Übermensch.

Ya, saya rasa perjuangan kelas mungkin terdengar mengada-ada dan tidak masuk akal. Pada kenyataannya, hal ini jauh lebih masuk akal ketimbang bercita-cita untuk membangun sebuah startup. 90% startup di Indonesia bangkrut, dan tidak sedikit dari startup yang berhasil diambil alih oleh yang lebih besar.

Jangan lupa kalau semakin lama posibilitas kita untuk menang dalam kompetisi kapitalisme akan semakin menurun. Dan masa depan telah jelas memperlihatkan fakta bahwa sebagian besar dari kita akan menjadi buruh, bersaing dengan jutaan mahasiswa lainnya yang juga melamar pekerjaan yang sama.

Kita harus bersaing dengan mahasiswa dari UI, UGM, ITB yang jelas punya status yang berbeda dengan kita di mata masyarakat yang dikonstruksi oleh kapitalisme.

Artinya, kita sudah tidak setara dari awal. Dan kita tidak mendapatkan pilihan yang sama sedari awal kita lahir hingga kita dewasa.

Banyak dari kita yang terlahir dari keluarga miskin dituntut untuk berkompetisi dengan segelintir orang yang terlahir dari keluarga kaya, dan hanya sedikit dari kita yang bisa mendapatkan beasiswa padahal ada akarnya kita sama-sama manusia. Hanya saja, kita tidak seberuntung mereka yang mendapatkan privilege lebih dari yang kita punya.

Fakta jelas menyatakan bahwa kita harus bergantung kepada orang lain, begitu juga bahwa orang lain harus bergantung pada kita. Ini bukan hanya “romantisme kata-kata,” tapi fakta yang dihadapkan ke kita.

Bahwa yang tertindas, harus memperkuat solidaritas yang ditindas, untuk mampu melawan dominasi yang menindas. Kita harus bergabung dalam solidaritas kelas yang tertindas, dalam ketergantungan yang setara dengan fungsinya masing-masing, untuk bisa mengalahkan dominasi dari kelas yang menindas.

Memang faktanya begitu, kita harus saling melengkapi atau mati dalam kompetisi yang sia-sia. Dan bagi yang tidak percaya, saya rasa mereka sudah terlalu banyak membaca igauan  Nietzsche si pemabuk.


Syarif Atamimi, kontributor

No more articles