Judul: Queer etc. Melampaui Identitas, Menemukan Kemungkinan Baru
Pengarang: Abigail A., Agnia Sambara, Alvi A.H., Amahl S. Azwar, Ardhana Rishvara, Arjuna, Dédé Oetomo, Desca Ang, Diana Mayorita, Ester Pandiangan, F Daus AR, Hendri Yulius Wijaya, Ingrid Tambunan, Kedung Soejaya, Kolektif As-Salam, Minanto, Rizal Iwan, Victoria Tunggono.
Penerbit: Buku Mojok Grup
Cetakan: Pertama, Juni 2021
ISBN: 978-623-96940-2-9
Tebal Halaman: XII+242 halaman.

Terlepas dari apa dan bagaimana lingkungan memberi label, setiap individu berhak atas identitas gendernya. Aku berharap kamu menyempatkan waktumu untuk membaca buku ini, barangkali dengan itu kita lebih membuka mata akan keberagaman.

Buku ini tidak hanya memuat perihal queer yang sudah memiliki definisi, namun juga ‘queer’ yang belum atau barangkali sudah  memiliki definisi, tapi terlupakan. Karena itu di bagian judul terdapat tambahan ‘etc’ yang dapat juga diartikan ‘dll’ atau ‘dan lain-lain.’

Pada mulanya, istilah queer dipergunakan untuk merujuk mereka yang dianggap gila, aneh, tidak biasa, serta menyimpang. Sekitar abad ke-20, masyarakat USA memakai istilah queer untuk orang-orang yang dianggap mengalami, penyimpangan seksual.

Dalam buku ini, kita akan disuguhkan oleh kumpulan esai personal yang ditulis oleh beragam latar belakang dan identitas. Mereka yang dianggap ‘aneh’ oleh lingkungannya karena orientasi seksual, etnis, serta kepercayaan.  Di buku ini kita diperlihatkan bahwa mereka juga manusia yang memiliki kehidupan. Di mana itu tidak hanya perihal selangkangan.

Perjalanan Melela (coming out) di antara keluarga, teman, juga kekasih yang tidaklah mudah. Pasangan heteroseksual yang terhalang restu orang tua karena disabilitas dianggap tidak mampu dalam membangun rumah tangga yang ‘baik’. Kemudian masih banyak lagi contohnya. Beberapa mengalami penolakan, dianggap kesalahan, bahkan murka Tuhan yang dapat membawa malapetaka bagi sekitar.

“Pernahkah kamu lihat ilustrasi kepingan puzzle, di mana semua orang adalah potongan puzzle yang pas untuk membentuk sebuah gambar besar bernama masyarakat? Masing-masing potongan biasanya dapat mengisi kekosongan ruang dengan pas. Nah, ada satu kepingan puzzle yang tidak muat di mana pun. Dia memutilasi dirinya sendiri agar membentuk potongan puzzle yang sesuai dan klop dengan sekitarnya. Jika tidak melakukan itu, ia pasti diasingkan dan tidak akan pernah masuk ke ruang kosong di lanskap puzzle tersebut,” ungkap Ardhana Rishvara melalui esainya. Ia yang akhirnya memilih untuk tidak ‘memutilasi’ dirinya lagi dengan melakukan transisi.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini cukup mudah untuk dimengerti, bagaimana cara penulis menyampaikan kisahnya juga tidak terkesan menggurui. Oleh karena itu, aku berharap kamu dapat membaca buku ini. Barangkali kamu dapat menemukan dan memahami identitas dirimu setelahnya.

“Dengan kehadiran buku ini mengajak kita semua untuk menemukan titik-titik ke-queer-an yang mungkin belum memiliki bahasa, atau justru selama ini tertutup oleh bahasa dan kebiasaan, sehingga kita semua tidak melihat dan dapat membahasakannya tanpa bergantung pada bahasa dominan.” tutup Hendri Yulius Wijaya dalam paragraf terakhir Epilog: Queer dan Perkara Lain yang Belum Terbahasakan.

No more articles