Tidak tahu
Aku tidak tahu
Aku tidak tahu akan berucap apa
Aku sungguh-sungguh tak tahu
Sudah..
Aku memang tidak tahu
Hey..
Aku memang tidak tahu
Karena itu aku berkata bahwa, “aku tidak tahu”
Aku tak akan berkata “tahu” jika sebenarnya aku tidak tahu
Aku tak akan berkata, “tidak tahu” jika sebenarnya aku tahu
Aku tidak tahu
Haruskah aku bersumpah atas nama Tuhan bahwa aku tidak tahu?
Aku memang tidak tahu
Aku tak kan ucapkan sajak, mungkin?
Sajak yang dirangkai dari diksi sebab
sedih..
senang..
atau pun berbagai rasa lainnya
Aku tak tahu
Ku tulis ini atas ketidaktahuanku
Ku biarkan ketidaktahuanku ini memelukku
Kubiarkan ketidaktahuanku ini mencekikku
Tak apa
Aku tak kan mati atas ketidaktahuanku ini
Kan kulengkapi ketidaktahuanku ini
dengan tahuku.”

Eh.. eh.. apa-apaan ini? muehehe

Baru dibuka dengan puisi yang kata penciptanya belum dikasi judul. Soalnya, bikinnya dadakan, dan belum sempat ngasih judul. Katanya..

Kalau misal nih, misal ditanya, “kok tulisannya dikasi puisi sih?” ya gimana ya, penulisnya (red: saya) pengen sih hihihi

Eitss.. ini mau nulis apa sih? okok fokus.

Ngga ding, jangan fokus-fokus gitu lah. “ojo sepaneng-sepaneng lurrr kwkwk” tulis penulis sambil ngomong.

Jadi ceritanya itu saya lagi pengen nulis, tapi yang ngga hanya puisi. Biar saya ngga dibilangin, “puisi puisi teros.. sastra sastra teross” siapa yang bilang? adalah, manusia bumi pokoknya.

Ngomong-ngomong soal ngomong nih, ngobrol kuy..

Ngobrol di warung kopi, sekalian beli kopi pahit (red: biar ga cepet abis minumannya). Kayaknya kita kurang ngobrol deh. Kayaknya.

Baru-baru ini saya dateng ke acara yang saya sebut, ‘acara gontot-gontotan.’ kenpa gontot-gontotan? hayo.. coba tebak hihi

Saya datang sebagai perwakilan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang diundang di acara tersebut. “kok bisa/ mau jadi perwakilan?” karena diminta muehehe.

Saya yang memang sudah tahu isi undangannya, tersadar..

“wah.. undangannya pukul 09:30 – Selesai nih. Kira-kira, selesainya jam berapa ya?” liat jam di hp “waduh, udah mau 09:30 aja nih, berangkat ahh, nanti malah telat lagi”

Dengan segera, saya pun meluncur menuju lokasi acara diselenggarakan.

Sesampainya di sana, biasa lah, presensi dulu. Ok

lah, kok?

Setelah presensi, saya mlipir duduk di kursi yang disediakan di sana. Sebenarnya saya ngga tahu, harusnya ini duduk di sebelah mana. Fix, ini memang bukan acara pernikahan. Jelas, orang ngga ada among tamu.

Duduk, manis, kalem. Berasa jadi Putri Solo kan jadinya.

Mengedarkan pandangan, barangkali ada makanan datang.

Makanan tak datang, malah teman saya yang ada di sekitar sana, “Semua orang boleh duduk disitu?” tanyanya melalui WA.

Saya pun membalas,”ga tahu” disusul dengan”kenapa ngga?”

Saya pun memutuskan untuk mlipir, pindah tempat duduk sana-sini, karena gabutss yang menghampiri, sebab acara yang dari tadi tak jadi-jadi dimulai.

Alhamdulillah..

Sekitar pukul 11:00 WIB, acara pun dimulai.

Iya, iya, itu status saya muehehe.

iya, iya, itu status saya lagi.

Demi trotoar dan debu yang berterbangan

Ku bersumpah

Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar

Ku ungkapkan

Atas nama orang-orang

Berdatangan ke utara

Kau kan ku jelang

Kan ku persembahkan sekuntum mawar

Aku di matraman kau di kota kembang

Bagus kan lagunya? Iya dong. Udah gih cari lagunya dulu kalau belum tahu hihii.

Jadi, gimana?

Kami di matraman.. klean di kota kembang” jauh ya? mayan sih. kami tanya apa, klean jawab apa. Kan jadinya saya teringat dengan lagu Matraman- The Upstairs.

Kesel? jelaslah.

Apanya yang gimana?

Dari drama, tragedi peristiwa molor, moderator salah tafsir, lan diem-diem bae saat keadaan tidak kondusif, jawaban paslon yang tidak sesuai dengan pertanyaan, ada paslon yang berhalangan hadir, dan”iki ga ada makanan apa?” ada kok ada, ada.

Udah, gitu aja. Capek ngetik. Jadi, cukup itu aja. Sekian dan, monggo kalau mau menanggapi 🙂

“wah.. ketahuan deh acara apa.”

No more articles