berbenah lagi
Ilustrasi. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Aku muak dengan semua ini. Harap-harap dan segala ambisi, nyatanya hanya sampai di ujung bibir. Katanya, ingin melakukan yang terbaik. Katanya, mau berusaha sekuat tenaga, sampai di titik darah penghabisan. Katanya.

Cihh…

Hanya membara di awal saja. Sekarang? Semua hangus termakan asmara tiada guna. Katanya merubah nasib. Katanya mau berguna bagi bangsa dan negara. Bahkan, pernah suatu waktu aku mendengar, ingin berguna sampai ujung dunia.

Mana janji? Apa hanya sekedar ucap?

Tak usah merasa paling terabaikan. Tak usah merasa paling dibenci Tuhan. Hanya karena asmara kandas, caci maki keluar di seluruh media sosial.

Hey..

Tak perlu merasa paling termenyedihkan. Berhentilah bertingkah seperti korban tanpa harapan. Hidup akan terus berjalan. Ada maupun tanpa kamu di dalamnya.

Ayolah..

Kamu hanya putus asmara, bukan putus nafas di kerongkongan. Tak perlu menikmati sedih berlarut-larut sampai lupa bahwa hidup akan terus berlanjut.

Beberapa orang berasumsi tentang, ‘jangan membandingkan dengan yang lain,’ tidak salah memang, tapi terkadang orang-orang yang gagal paham memaknainya.

Aku..

Aku bisa memaki dan berkoar-koar bahwa aku hancur, kecewa, sedih. Tapi apa? Apa yang bisa aku dapat setelah semua itu? Iba? Aku tak butuh iba manusia.

Keluargaku satu per satu pergi dikebumikan, para tetangga mencemooh hanya karena kami berbeda. Ya, aku sadar dan aku tahu, kami memang berbeda. Namun kami juga manusia, bukan bahan olokan. Aku pergi dan bertahan hidup di sini, dengan makan sekali setiap harinya dengan porsi dietmu, tanpa lauk yang selalu kau cela.

Apakah kau merasakannya?

Aku membandingkan hidupku dan hidupmu. Apakah kamu merasa baik-baik saja? Atau malah mulai muak akan semua ungkapan?

Tak ada uang bulanan seperti yang selalu kau keluhkan kurang itu. Tak ada ungkapan penyemangat dari orang terkasih. Tak ada. Sungguh, tak ada.

“Ihh.. nyebelin banget. Masa nyokap gue dari tadi telepon mulu. Dih, kaya ga ada kesibukan lain aja,”  dengan dalih mengerjakan tugas, kamu memutus sambungan secara sepihak.

“Males banget nih.. masa bokap gue ngasih duitnya kurang mulu sih. Anak kuliah kan punya banyak kesibukan, punya banyak anggaran. Harus fotocopy, ngeprint, beli buku, belum buat beli baju dll.”

Kamu berkeluh kesah dengan orang yang salah, mungkin?

Aku bisa mengeluh jika aku mau. Bisa memaki juga. Mungkin kamu akan menerima semua ini dengan keluhan, makian, atau mungkin keduanya.

Aku muak.

Sungguh, aku benar-benar muak akan semua sikapmu.

Percuma? Aku tahu. Tentu saja.

Untuk apa aku memaki? Aku tak mau membuang-buang energi lagi.

Terakhir kali kamu datang dan bercerita tentang putus cinta, “gue tadi diputusin. gue harus gimana dong?” dengan terisak, kamu menceritakan kisahmu yang kandas secara sepihak. Seolah hidup hanya berpusat pada kisah asmaramu dengan si dia saja.

Setelah ceritamu usai, aku mulai menceritakan kisahku yang tak pernah kamu bayang.

“Kan gue bukan lu. Setiap manusia itu punya jalannya masing-masing. Apa yang menurut lu berat, belum tentu berat buat gue, pun sebaliknya. Ihh.. lu kok malah jadi nyebelin gini sih.. Lu beda sekarang. Lu bukannya nguatin gue, tapi malah bikin gue tambah down,” aku mulai muak akan semua ini.

“Yasudah,” ujarku padamu.

“Hah? Maksud lu apa?” kau tampak kebingungan.

“gue muak. gue muak akan semua sikap lu. gue paham, manusia memang berbeda, dan punya jalannya masing-masing. Tapi lu harus inget juga, kalau manusia juga punya akal. Mereka bisa nentuin, jalan mana yang mau diambil,” aku berbalik arah, mengambil langkah menjauhimu.

“Hey!! Kok lu gini sih! Dasar..”

Aku terus melangkah, tak peduli apa yang kau teriakkan. Manusia memang perlu berbenah. Terkadang, kita perlu menghindari manusia yang membuat diri jengah. Bukan karena bagaimana-bagaimana, tapi karena hidup memang soal pilihan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email