Siang ini saya membaca sebuah tulisan di lpmjournal.id yang berjudul “Kias Kebebasan dan Pembatasan Diri.” Berharap menemukan uraian atau polemik tentang apa itu kebebasan, namun harapan saya harus luntur karena yang saya temukan tidak lebih dari fatalisme dan senioritas yang tersirat. Dari sekian banyak masalah pendidikan yang ada, penulis berlagak layaknya seorang wali menggurui pembaca tentang kenakalan remaja, kontrol diri, dan ekspektasi.

Lagi-lagi yang salah adalah moral maba, nafsu mereka yang menggeliat dan liar serta pencarian jati diri mereka.  Lagi-lagi moral, dan lagi-lagi solusinya adalah belajar yang giat, rajin ke masjid, mendekatkan diri pada tuhan dan berdoa agar insya’Allah IPK tinggi dan segera lulus.

Bukan berarti permasalahan-permasalahan moral seperti ini tidak penting, namun permasalahan moral seperti ini terlalu subjektif dan hanya akan membuat kita acuh akan permasalahan-permasalahan lain yang lebih objektif dan sistematis. Dari mulai komodifikasi pendidikan, pendidikan yang masih cukup mahal, alienasi antara siswa dengan pendidikan itu sendiri dan bagaimana untuk melawan hal-hal tersebut atau setidaknya membentuk alternatif di lingkungan-lingkungan yang kecil.

Ini semua diabaikan dan penulis hanya fokus pada kenakalan remaja, bahkan tidak memberi analisis yang radikal tentang mengapa hal-hal yang penulis sebut itu merupakan bagian dari “Kenakalan” dan kondisi apa yang melahirkan eskapisme tersebut.

Penulis hanya menyalahkan “Kebebasan” seolah di jenjang pendidikan yang lebih rendah yang lebih mengikat siswa-siswanya, seperti SMA, kenakalan tersebut tidak terjadi. Ketika membaca prasangka subjektif tersebut, saya tidak bisa menahan mulut saya untuk berkata: “Dolanmu kurang adoh, turumu kurang mbengi.” Pendidikan yang lebih ketat, tidak menjamin para murid untuk tidak terjatuh dalam kenakalan-kenakalan tersebut, dan ini saya dapatkan dari pengalaman empiris saya di SMK yang cukup ketat, melihat kawan-kawan saya sendiri.

Dan kalaupun hal ini berhasil mengikat siswa menjadi disiplin, ini tidak menyelesaikan permasalahan yang lebih penting tentang bagaimana pendidikan bisa menjadi sarana aktualisasi diri dan menggali potensi setiap orang, alih-alih menjadi pabrik tenaga kerja masa depan yang mana para murid dituntut untuk patuh, tunduk, agar kelak bisa jadi sapi perah yang efektif bagi Industri.

Selanjutnya, apakah kebebasan di kampus itu benar-benar ada? Atau itu hanya ilusi? Ya mungkin kita bebas untuk mengerjakan tugas atau tidak, kita bebas untuk memilih jurusan, kita bebas untuk masuk kelas atau menolak dengan segala konsekuensinya.

Pertanyaannya, apakah siswa menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri? Apakah siswa ikut serta dalam merancang kurikulum pendidikan dan berpartisipasi dalam proses belajar mengajar? Apakah orientasi dari pendidikan adalah untuk menciptakan tenaga kerja-tenaga kerja baru atau untuk membangun individu-individu merdeka? Apakah siswa ikut menentukan UKT? Saya tidak menemui hal ini di lingkungan kampus, ini membuat saya muak, dan saya memilih “Nakal” dan membangkang!

Mengapa saya sebut ini sebagai fatalisme? Karena penulis mengabaiakan permasalahan-permasalahan fundamental ini dan seolah menuntut diri kita untuk pasrah terhadap sistem pendidikan yang ada, karena melawan atau mencari alternatif darinya adalah sebuah kesia-siaan. Banyak intelektual-intelektual hebat yang justru lahir dari pembangkangan, kenakalan, dan pertanyaan-pertanyaan ulang tentang sistem moral suatu masyarakat yang membelenggu dan membutakan. Sebut saja; Trotsky, Foucault, Nietzsche, Gramsci, dll.

Jika kita terus terjebak dalam perdebatan subjektif dan moralis macam ini,maka persoalan pendidikan di Indonesia, lingkungan kita dan keluarga kita tidak akan pernah terselesaikan. Banyak PR yang harus kita kerjakan dalam hal reformasi ataupun revolusi pendidikan, dan ini harus segera kita jawab.

Bukan dengan sekedar menyalahkan mahasiswa baru dan angan-angan mereka, namun mengajak mereka dalam diskusi penting bahwa dunia pendidikan kita masih rusak dan berantakan. Mengajak mereka dalam membangun alternative, ataupun melawan kapitalisme yang yang telah merusak sistem pendidikan sedemikian rupa sehingga membuatnya menyebalkan. Hak dari siswa untuk membangkang dan malas!

Oleh: Gendhero Abang

No more articles