lpmjournal.id – Tujuh dosa mematikan (seven deadly sins) yang disebut dalam Alkitab, oleh Darkside direpresentasikan ulang menjadi album debut mereka yang berjudul “VII” (baca: Seven). Sesuai namanya, album VII memuat tujuh lagu dan telah dirilis secara mandiri ke berbagai platform layanan streaming musik populer pada Selasa, (04/02/2020) lalu.

Perilisan album debut tersebut mewarnai jalan panjang band metal asal kota Magelang ini sejak awal berdiri pada November 2008 silam. Sebelum album VII ini, Darkside juga sempat merilis mini album berjudul “Last Faith” pada 2012 silam. Namun, pasca perilisan mini album tersebut, Darkside sempat mengalami perombakan personil yang cukup masif sebelum akhirnya beranggotakan lima orang seperti sekarang.

Kelima personil tersebut diantaranya Satrio Rizki (Vocal), Anugerah Widi (gitar), Agung Kusuma Wardhana (gitar), Robby Prawira (bass) dan Tri Anggoro (Drum).

Jalan panjang kelahiran album “VII”

Melalui rilis pers yang dipublikasikan, Darkside menyebut bahwa proses produksi album VII pada mulanya dibuat sebagai penanda tujuh tahun perjalanan bermusik Darkside—terhitung sejak tahun 2008 hingga 2015.

“Awalnya album ini memang diniatkan untuk menandai tujuh tahun perjalanan bermusik Darkside, juga menjadi sekuel dari mini album Last Faith yang rilis pada tahun 2012.”

Melalui Jarod—frontman pertama Darkside—mulai menginisiasi album VII pada tahun 2013. Namun proses produksi album VII memakan waktu yang lebih lama dari perkiraan. Hingga pada 2020, Darkside akhirnya berhasil mematangkan seluruh materi yang ada di dalamnya.

Proses perekaman seluruh track dalam album VII direkam di dua lokasi: home studio recording milik gitaris Darkside, Anugerah Widi Putranto, dan; “Bugs Studio”, di Magelang. Sedangkan proses mixing dan mastering dikerjakan di “Senatarium Studio”.

Album VII menjadi wujud dari eksperimen baik dari segi sound, maupun aransemen. Album VII juga menyuguhkan sesuatu yang jauh berbeda meski tidak sepenuhnya menghilangkan karakter yang pernah diperoleh Darkside lewat Last Faith.

Hadirnya element thrash metal yang agresif disertai sambaran-sambaran hook a la progressive metal, dibungkus dengan harmonisasi instrumen gitar dan bass untuk menghasilkan atmosfer yang lebih melodius.

“Layaknya sebuah melting pot dari ide-ide liar dan referensi-referensi yang melatarbelakangi pengalaman bermusik masing-masing personel,” tegas mereka.

Evolusi dalam bentuk yang dirasa paling mematikan pasca mini album Last Faith yang mengadopsi mentah-mentah riff-riff 2000’s American Metal, groove southern rock dengan benang merah metalcore. 

Kombinasi dari kesemuanya menjadi latar bagi lirik-lirik yang sebagian besar ditulis oleh Satrio yang pada proses pembuatan album ini menggantikan posisi Jarod yang mengundurkan diri dari band.

Seperti yang telah diujarkan sebelumnya, VII mengambil tema besar dari ‘tujuh dosa mematikan’ dalam Alkitab. 

“Namun tanpa ingin terbatasi dengan narasi serupa yang pernah diadaptasi oleh karya legendaris “Dante’s Inferno”, film “Se7en”, dan lain-lain, representasi tujuh dosa mengalir lewat banyak pendekatan,” Pungkasnya.

Yang konkret maupun abstrak, baik fiksi maupun realita yang ditangkap indera dan rasa, referensi dari teks sejarah bahkan yang komikal sekalipun.

Penulis: Adi Bayu Utomo
Editor: Adi Ariyanto

No more articles