Login With Google

LPMJOURNAL.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Amikom Yogyakarta, Rabu malam (9/10/2019) mengadakan agenda Duduk Bareng Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa di Lapangan Basket Kampus. Agenda tersebut sebagai sesi berbagi, serap aspirasi dan silaturahmi Lembaga Mahasiswa (LM).

Kegiatan yang dihadiri ketua atau perwakilan dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Semi Otonom (BSO) dan organisasi, BEM memaparkan kinerja mereka selama ini. Detail kinerja terkait rencana dan realisasi program kerja oleh masing-masing kepengurusan disajikan dengan dua lembar kertas HVS yang dibagikan ke peserta agenda tersebut.

Senat Mahasiswa Tidak Diundang

Dalam kegiatan tersebut, BEM tidak mengundang Senat Mahasiswa (Sema) sebagai pengontrol mereka. “Kenapa Sema tidak diundang?” celetuk peserta agenda tersebut.

Hadi Purnomo yang merupakan Presiden Mahasiswa Amikom menjelaskan bahwa kegiatan ini dikhususkan kepada teman-teman yang ada di garis koordinasi BEM, yaitu UKM dan BSO.

Menanggapi hal tersebut, Ketua KOMA, Fuad mengatakan, “Amikom hanya seupilnya UGM, kenapa harus dikotak-kotakkan? kecuali sekat sekre. Kita berkumpul, harusnya semua diundang, tanpa pengecualian.”

Berbeda pandangan, Ketua Mayapala, Sofwan mengatakan, “Jika Sema sebagai pengontrol BEM, berarti setiap kegiatan BEM harus ada kontrol dari Sema. Tapi kenapa kegiatan ini tidak mengundang Sema?”

Kejelasan Organisasi Primordial

Persatuan Mahasiswa Timur Amikom (Permata) juga mengikuti agenda tersebut. Perwakilan dari permata ikut bersuara untuk mempertanyakan kedudukan organisasinya di mata BEM. “Hadi bilang nantinya akan ada pertemuan ketua bidang organisasi, tapi ketua permata kenapa belum pernah di undang? Apa sih, permata di mata BEM?”

Menjawab pertanyaan tersebut, Hadi mengatakan, “Semua ada prosesnya, permata adalah organisasi kedaerahan. Posisi teman-teman memang mengadakan kegiatannya independen, mencari dana sendiri dan mandiri. Tapi tetap diakui sebagai mahasiswa Amikom.”

“Apakah organisasi primordial bisa naik menjadi UKM? mari dibicarakan dengan teman-teman pimpinan.” lanjut Hadi.

Mempertanyakan Sistem Kepengurusan BEM

Sistem kaderisasi kepengurusan BEM, dalam agenda tersebut turut dibincangkan. Fuad saat itu juga menanyakan tentang sistem kaderisasi BEM.

“Apa arti pemilwa? Toh yang nyalon juga cuma satu, sia-sia duit banyak tapi effort untuk mensukseskan acara tidak ada.” kata Fuad menanggapi kesuksesan Pemilwa yang selama ini diadakan untuk pemilihan presiden mahasiswa yang lalu.

Hadi menjelaskan sistem kaderisasi, pemilihan pengurus BEM atau presiden mahasiswa, bahwasanya tidak terikat dan bebas. Siapapun mahasiswa Amikom diperbolehkan mengajukan diri.

“Sulit memahami BEM jika bukan orang pergerakan. Kader terbaik setiap organisasi boleh mencalonkan.” lanjut Hadi.

Fuad menganggap BEM tidak terbuka, BEM hanya untuk internal, BEM bukan lagi untuk mahasiswa. Ia juga mengharuskan BEM untuk terbuka kepada mahasiswa Amikom.

“Aku takut Pemilwa ditiadakan, karena kader sudah ada di BEM.” kata Fuad.

Nanto yang merupakan Menteri Kajian Strategi BEM mengatakan bahwa bursa politik di Amikom sepi. Berbeda dengan kampus sebelah, Presiden Mahasiswa adalah jabatan yang pro.

Reporter : Rany, Chandra

Redaktur : Rany

No more articles