Beberapa hari yang lalu ada kabar yang mengejutkan dari negara New Zealand, yaitu adanya pembantaian umat Islam yang berada di Masjid Al-Noor. Pembantaian tersebut terjadi pada Jumat (15/3/2019) ketika jamaah muslim New Zealand sedang menjalani ibadah Salat Jumat. Seorang bernama Brendon Tarrant secara mengejutkan membantai umat muslim yang sedang beribadah dengan senjata AR–15.

Dilansir dari laman Tempo.co, ternyata senjata AR-15 ini pernah digunakan untuk penembakan massal di sebuah sekolah, Amerika Serikat. Penembakan sekolah di Florida pada Februari 2018 yang menewaskan 17 orang siswa, dan serangan terhadap kerumunan konser musik di Las Vegas yang menewaskan 58 orang pada Oktober 2018. Yang lebih mengejutkan lagi senjata AR–15 ini pun sering digunakan dalam penembakan massal di AS dalam sepuluh tahun terakhir.

Dan kini tersiar kabar lainnya, bahwa Brendon Tarrant dalam menjalankan aksinya pun terinspirasi dari sebuah gim Fortnite. Tetapi kabar ini belum pasti benar atau tidaknya.

Banyak negara yang mengecam aksi ini, termasuk Indonesia. Kini New Zealand melakukan kebijakan melarang semua senjata yang bertipe Semi-otomatis seperti yang digunakan saat pembantaian. Apa kebijakan yang dilakukan di Indonesia? Melarang gim PUBG. Ya, kebijakan yang menurut saya sendiri aneh dan tidak masuk akal. Apa hubungan PUBG dengan pembantaian di New Zealand? Apa karena kejadian pembantaian yang terinspirasi dari gim sejenis PUBG, yang itupun belum dipastikan kebenarannya. Hal yang menjadikan saya sendiri merasa aneh dengan kebijakan ini adalah, apakah tidak ada solusi lain selain pemblokiran gim PUBG?

Jujur, saya tidak memainkan gim PUBG atau sejenisnya, tapi disini saya akan mengutarakan pendapat mengenai kebijakan pemblokiran gim PUBG yang dirasa tidak benar. PUBG merupakan gim ber-genre Battle Royale yang telah memiliki sekitar 400 juta pemain di seluruh dunia. Di Indonesia, game ini digandrungi para remaja dan telah mengalahkan popularitas dari game ber-genre MOBA. Apabila saya ditanyai mengenai keputusan pemblokiran gim ini, jawabannya adalah tidak setuju, Mengapa? Karena seharusnya keputusan yang lebih tepat mengenai pembantaian di New Zealand adalah menanamkan sikap toleransi yang kini mulai memudar; memberantas paham radikalisme, dan mengajarkan bahwa membunuh tidak pernah dibenarkan dalam ajaran agama apapun.

Seharusnya inilah yang perlu ditanamkan pada generasi sekarang untuk mencegah terjadinya hal sama yang terjadi di New Zealand. Bukan malah memblokir gim. Ya, mungkin ada yang tidak sependapat dengan saya karena bisa saja gim ini menginspirasi seseorang untuk berbuat hal yang jahat seperti membunuh, dll. Tapi, sekarang peran orang tua lah yang sangat dibutuhkan. Ketika anak bermain gim tidak meniru adegan yang ada dalam gim karena hal tersebut tidak benar, dan menanamkan pemikiran bahwa “kita seharusnya memainkan gim, bukan dipermainkan oleh gim.”

Terakhir, kebijakan pemblokiran PUBG karena “katanya” menginspirasi teroris. Ini bisa diibaratkan ada seseorang yang membunuh menggunakan pisau dapur lalu kebijakan yang berlaku adalah melarang pabrik pisau memproduksi pisau, aneh tentunya. Karena seharusnya yang salah adalah pelakunya bukan pabriknya. Pisau apabila digunakan di tangan seorang koki restoran untuk memasak maka menghasilkan masakan yang enak, apabila digunakan pembunuh maka bisa digunakan untuk membunuh orang. Semua tergantung pengguna serta kebijaksanaan penggunanya. []

No more articles