Sore itu, 11 Desember 2019. Ketika saya membuka gawai, ada suatu hal yang membuat ketertarikan untuk mengikuti ketimbang datang ke acara Musyawarah Besar Lembaga Mahasiswa di kampus.

Fenomena Twitter Mesum dan Eksistensi Pornografi
Screenshot trending topic twitter pada 11/12/2019 sore.

Suka atau tidak, pornografi hadir dan berkembang dalam setiap lini masyarakat. Segelintir orang boleh saja membenci, tapi percaya atau tidak, pornografi tidak akan mati. Justru pornografi akan berkembang seiring dengan perubahan teknologi.

Saat itu trending topic nomor satu di twitter adalah tagar #bokepterbaru. Istilah ‘bokep’ (film porno, -red) bagi mayoritas warga Indonesia sudah tidak asing lagi. Pornografi sejak beberapa bulan terakhir bersama hoaks menjadi konten paling efektif dalam mempersatukan bangsa. Hanya saja hoaks mempersatukan dalam kubu masing-masing, sedangkan pornografi tidak mengenal ‘kubu’.

Evolusi Peredaran Pornografi

Pada era 80-90-an, orang menyalurkan fantasi seksualnya dengan membaca stensilan atau buku panas. Buku tipis yang terbuat dari kertas murahan berisikan bacaan mesum, cerita yang nakal, vulgar dan pastinya erotis. Penulis stensilan yang paling terkenal adalah Enny Arrow. Pada waktu pertama kali kemunculan stensilan, sejarawan menggolongkan karya tersebut sebagai sastra erotis, karena isi ceritanya masih mengandung alur yang jelas. Tetapi banyak yang berpendapat juga bahwa stensilan tidak menjual alur ceritanya, orang memburunya karena ingin membaca bentuk tubuh, organ vital dan fantasi adegan seksualnya yang bernarasi deskriptif. Penulis stensilan terkenal lainnya adalah Fredy S., dia adalah penulis yang piawai menyelipkan elemen seksual nan erotis pada novel-novelnya. Saking terkenalnya Enny Arrow dan Fredy S. akhirnya menjadi nama genre yang di pakai oleh oleh penulis stensilan lain. Dibandingkan nama baru ataupun nama asli, dua nama tadi jauh lebih menjual dalam bisnis buku mesum.

Di Jakarta, kota asalsaya, buku bergenre stensilan banyak dijual di Pasar Senen, Blok M (dulukawasan toko buku Kwitang) dan Pasar Baru. Kala itu, peredarannya dilarang danpenjualnya sesekali kena razia, tetapi orang-orang masih membelinya secaradiam-diam dan tersembunyi. Bagi sejumlah pedagang, penjualan stensilan menjadisumber pemasukan terbesar. Profitnya puluhan persen lebih besar ketimbang bukulainnya.

Kemunculan Video Compact Disk atau biasa disingkatdengan VCD di penghujung 90-an, menyebabkan kejayaan stensilan berakhir. Sesuaidengan hukum permintaan dan penawaran, cakram laser di era sebelumnya yangharganya mahal dan sulit digandakan, maka kemunculan VCD menjadi pilihan untukperubahan besar bagi masyarakat dalam mengkonsumsi konten mesum.

Menyempurnakan Imajinasi

VCD menyempurnakan imajinasi mereka, karena menyajikan konten mesum dalam bentuk audio visual. Lapak pornografi kemudian beralih menjadi pedagang atau rental VCD. Orang membeli atau menyewa VCD porno dengan istilah ‘film Donald Bebek atau film Unyil’ maklum, karena status peredarannya terlarang dan generasi muda yang mesum masih malu-malu karena dianggap tidak sesuai dengan norma budaya.

Salah satu judul film porno terkenal pada era VCD adalah “Bandung Lautan Asmara”. Pada 2002, video tersebut langsung menimbulkan polemik baru di masyakarat. Apalagi setelahnya muncul film porno baru, misalnya seperti video berjudul “Bulan Madu”  pada 2004 atau “Casting Sabun” yang berasal dari penipuan model iklan sabun mandi rumah produksi di Jakarta.

Sekitar 2005, VCD porno mendapat ancaman baru. Bukan dari teknologi DVD, dikarenakan DVD masih mahal yang mana belum bisa menjadikannya popular. Pesaing VCD adalah teknologi baru yang lebih terjangkau, lebih personal dan lebih praktis untuk saling berbagi video porno. Ponsel layar warna generasi pertama koneksi 3G hadir pada 2007. Sejak saat itu berbagi video porno bisa melalui infrared dan bluetooth. Nah, ini biasa terjadi ketika diem-diem di kelas nih.

Kemunculan koneksi berbasis 3G tersebut menghadirkan 3GP, sebuah format video berkompresi rendah yang digarap oleh Third Generation Partnership Project (3GPP). Pada era ini video porno paling legendaris menyangkut nama orang terkenal seperti “Ariel Peterpan dan Luna Maya” dan “Ariel Peterpan dan Cut Tari”  atau anggota DPR “Yahya Zaini dan pedangdut Maria Eva”.

Pertengahan 2000-an, penyebaran konten porno semakin tidak terkendali. Orang-orang mengakses forum mesum seperti BB17 di kaskus, situs17tahun.com hingga semprot.com. Laman-laman diskusi ini tidak berumur panjang, karena pemerintah cukup rajin melenyapkannya. (tirto.id)

Lantas, apakah langkah tersebut efektif untuk memberantas peredaran video porno? Dari jokes yang bawakan oleh Pandji Pragiwaksono tentang pandangannya mengenai konten porno, “Pemerintah buang duit buat sesuatu yang gak berguna, mending duitnya untuk menyebar luaskan internet ke wilayah tertinggal,“ Sejujurnya membatasi konten porno di internet seperti halnya menabur garam di laut, yakni tidak berguna dan sia-sia saja. Situs-situs yang dimatikan tadi, nantinya akan muncul dengan nama baru alamat web baru dan konten baru juga pastinya dan lebih fresh.

Eksistensi Video Porno

Masyarakat masih bisa mengakses situs porno luar negeri walaupun pemerintah telah memblokirnya. Situs tetap bisa diakses oleh masyarakat menggunakan Virtual Private Network (VPN), koneksi privat yang berjalan di atas koneksi publik dan berfungsi sebagai ‘Man in the middle’ karena menyediakan koneksi antara pengguna dan penyedia.

Dari statistik menunjukkan pada 2017 ada 27% pengguna internet memasang VPN untuk mengakses situs yang diblokir oleh pemerintah, kemudian pada 2018, Indonesia menjadi negara pengguna VPN terbesar di dunia bersama dengan India, jumlahnya mencapai 38% dari total pengakses internet. Angka tersebut lebih besar dari pengguna VPN di asia-pasifik dan menunjukkan bahwa semakin gemarnya pemerintah memblokir konten pornografi maka akan semakin tinggi pengguna VPN di Indonesia.

Dengan adanya internet, masyarakat dimudahkan, salah satunya dalam mengakses video porno sesuai dengan selera. Konten porno semakin banyak kategorinya, baik berdasarkan gaya, bintang film, set lokasi, dll. Ada video milf untuk penggemar perempuan paruh baya, erotika untuk yang suka softcore, amatir dan BDSM untuk yang suka hardcore.

Bintang film porno juga sebagai salah satu unsur untuk menggaet penggemar dari berbagai negara. Misalnya Maria Ozawa atau Miyabi, barangkali tidak ada bintang film porno lain yang se-terkenal dia di Indonesia. Banyak penggemarnya yang sedih saat tau bahwa dia pensiun dalam industri film porno pada 2017 lalu, Miyabi belum lama ini juga menjadi perbincangan netizen, karena meluangkan waktunya untuk mendukung timnas sepak bola Indonesia dalam berjuang di SEA Games 2019. Reaksi yang sama sedihnya juga datang dari penggemar film porno, pada 2018 bintang film porno Amerika Sasha Grey memutuskan pensiun.

Film porno bisa dibilang punya karakter yang expansive, karena bisa menyelundup di berbagai platform internet, media sosial juga tak luput dari slundupannya. Tumblr misalnya, pada awal kemunculannya, media sosial ini menjadi paling mesum, karena di penuhi oleh akun penyebar film porno. Banyak pihak yang gerah. Perubahan terjadi saat Yahoo membeli Tumblr pada 2013, yang mana akun-akun mesum mulai diperangi. Pada akhir 2018, pemerintah Indonesia mengambil langkah berani, yakni memblokir Tumblr. Walaupun hanya berlangsung sebentar, pada akhirnya jumlah konten porno di Tumblr memang berkurang. Kini konten mesum semakin menjamur di Twitter. Dimana Twitter tidak menggunakan kecerdasan buatan seperti Facebook untuk mendeteksi konten porno. Dan fenomena ketikan netizen “Bagi link dong gan..” mulai mewabah. Apa mungkin kita bisa bebas sepenuhnya dari video porno?

No more articles