Jatuh cinta memang sering membuat mabuk kepayang, lupa diri, hingga tidak sadar sedang dikelabuhi. Endorfin yang dihasilkan sangat mampu menutupi kejahatan-kejahatan yang sedang dilakukan oleh pasangan, sehingga pasangan selalu terlihat baik dan nyaris sempurna.

Setiap kejahatan, tentu merugikan bagi korban dan orang lain yang terkait, terlepas dari bentuk kejahatan yang dilakukan. Mirisnya, masyarakat saat ini belum begitu mengerti kapan harus memaafkan pasangan dan kapan harus pergi mengakhiri hubungan.

Baru-baru ini sedang ramai pemberitaan mengenai aktris Korea, Seo Yea Ji, yang melakukan tindakan gaslight pada mantan kekasihnya, Kim Jung Hyun, ketika mereka masih memiliki hubungan.

Seo Yea Ji mengontrol segala perilaku Kim Jung Hyun, seperti melarang Kim Jung Hyun melakukan adegan skinship dengan lawan mainnya. Hal tersebut menyebabkan naskah dramanya mengalami banyak revisi.

Hingga akhirnya Kim Jong Hyun memutuskan mundur dari drama yang sedang dibintanginya tersebut karena alasan kesehatan. Seo Yea Ji juga diberitakan membuat Kim Jung Hyun yang tadinya ramah berubah sangat dingin kepada para staf wanita yang berada di lokasi syuting.

Banyak yang ikut berkomentar pada berita ini, namun tidak banyak yang memiliki kesadaran akan bahaya gaslighting di dalam hubungan entah itu pertemanan maupun percintaan.

Mereka mengatakan bahwa kesalahan berada pada Kim Jung Hyun karena tidak mampu bersikap profesional dan lebih memilih menuruti kekasihnya. Bahkan ada yang berkomentar bahwa Seo Yea Ji tidak melakukan kejahatan karena gaslighting adalah hal yang lumrah dalam sebuah hubungan.

Apa Itu Gaslighting?

Gaslighting adalah perilaku manipulatif yang bertujuan mengontrol pikiran dan tindakan korban, hingga korban sering kali merasa ragu akan kebenaran yang dipercayainya dan berakhir dengan mempercayai pelaku. Perilaku ini sering dimulai dengan kebiasaan berbohong pada orang lain, dan dapat dilakukan oleh siapa saja.

Karena otak mengalami manipulasi, para korban tidak sadar bahwa mereka sedang menerima perlakuan gaslighting dari orang terdekatnya. Itu membuat mereka melakukan hal-hal yang bukan keinginannya sendiri. Perilaku ini adalah bentuk dari kekerasan mental yang menyerang psikologis korban.

Berdasarkan pengertiannya, gaslighting jelas tidak boleh dianggap lumrah antar pasangan, karena kekerasan mental adalah bentuk lain dari kejahatan.

Sikap posesif  berlebihan yang cenderung membatasi keinginan pasangan, mengancam pasangan jika tidak melakukan hal yang diperintahkan, memblokir interaksi sosial pasangan dengan lawan jenis dan memonopoli handphone serta seluruh akun media sosial pasangan adalah akar gaslighting yang akan tumbuh menjadi hubungan tidak sehat atau toxic relationship.

Dapat Dilakukan Siapapun

Kekasih, teman, orang asing yang baru pertama kali ditemui, bahkan keluarga pun berpotensi menjadi pelaku gaslighting atau yang disebut juga gaslighter. Hal ini diimplementasikan dalam film Joker (2019).

Arthur Fleck, nama tokoh utama dalam film Joker (2019) ini dikisahkan berprofesi sebagai pelawak. Ia diceritakan memiliki seorang ibu yang tengah sakit. Sebagai anak baik dan berbakti, ia selalu merawat ibunya yang mengidap skinzofrenia akut.

Singkatnya, skinzofrenia merupakan sebuah gangguan mental yang membuat penderitanya berhalusinasi, delusional hingga mengalami kekacauan berpikir. Ibunya yang penuh delusi tersebut, memanipulasi pikirannya dan membuat Arthur percaya bahwa Thomas Wayne adalah ayahnya. Padahal, Arthur adalah anak yang diadopsi oleh ibunya.

Saat Arthur mengetahui kenyataan bahwa Thomas Wayne bukan ayahnya, ia mengalami frustasi dan hal tersebut membawanya pada tititk balik kehidupan. Arthur bukan lagi pelawak yang mendedikasikan hidup untuk ibunya, ia mulai menyebut dirinya sebagai Joker dan melakukan berbagai kejahatan.

Film ini memberi gambaran yang sangat jelas mengenai dampak psikologis pada korban yang mengalami gaslighting. Itu memberikan pemahaman bahwa siapa saja bisa menjadi gaslighter, dan hal ini bisa terjadi di mana saja.

Sikap manipulatif, pelecehan perasaan, dan kekerasan mental lainnya adalah kejahatan karena hal ini sangat merugikan korban. Masyarakat sudah harus melek akan bahaya ini. Sangat penting membangun benteng pertahanan diri dan kematangan pikir, agar tidak mudah memakan omongan orang lain, dan punya pendirian sendiri.

Tentu tidak baik juga menjadi egois, yang selalu merasa diri sendiri paling benar. Mulai mempelajari cara membedakan mana yang benar dan yang salah, mana yang informasi dan mana yang manipulasi, sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

No more articles