Login With Google

LPMJournal.id – Hari ini (09/03/2020), aksi Gejayan Memanggil digelar kembali di Jalan Gejayan, Kabupaten Sleman, DIY. Massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) berunjuk rasa menolak disahkannya Omnibus Law oleh DPR RI dan pemerintah Indonesia.

Massa aksi sekitarpukul 13.00 WIB sudah berada di titik Pertemuan pertigaan Colombo Gejayan setelahsebelum berkumpul di tiga titik yang berbeda, yakni Multi Pupose UniversitasIslam Negeri Sunan Kalijaga, Taman Pancasila Universitas Negeri Yogyakarta danBundaran Universitas Gajah Mada.

Kontra Tirano, HumasARB menyebutkan masa aksi diikuti oleh berbagai elemen mahasiswa, buruh,aktivis lingkungan, jurnalis dan musisi.

“Kita harus turun kejalan untuk menolak dan menggagalkan RUU Cilaka dan Omnibus Law,” ujarnya.

Menurutnya, RUU “SapuJagad” ini tidak ada sosialisasi yang jelas dan rinci sehingga menimbulkankeresahan di masyarakat dan kalangan buruh.

 “Langkah yang paling tepat saat ini adalahmelawan dengan suara rakyat,” katanya.

Dalam RUU Omnibus Law Cipta Kerja ada 11 klaster, yaitu Penyederhanaan Perizinan; Persyaratan Investasi; Ketenagakerjaan; Kemudahan; Pemberdayaan dan Perlindungan UMK-M; Kemudahan Berusaha, Dukungan Riset dan Inovasi; Administrasi Pemerintahan; Pengenaan Sanksi; Pengadaan Lahan; Investasi dan Proyek Pemerintah; dan Kawasan Ekonomi.

Selain itu, aksi ini bukansekedar aksi unjuk rasa. Mereka telah membaca Omnibus Law dan membuat sebuahkajian. Dari hasil kajiannya, pasal-pasal dalam Omnibus Law dinilai merugikan buruh,mengancam kelestarian lingkungan dan mengintervensi pers.

“Kami bahas lewatkonsolidasi dengan berbagai jaringan,” ungkapnya.

Sekitar pukul  14.20 WIB, massa aksi diguyur hujan deras.Mereka berkomitmen untuk bertahan di lokasi hingga pukul 17.00 WIB.

Ditengah aksi, massa aksi dihibur oleh para musisi yang ikut bersolidaritas. Di antaranya Spoer, Tashoora, Amuba, Rebelian, Rara dan Kepal SPI.

Reporter : Panggih | Arief

Editor : Adi

No more articles