Login With Google

LPMJOURNAL.ID – Senin siang, saat matahari tepat berada diatas kepala, di depan parkiran Abu Bakar Ali (ABA) Yogyakarta, kerumunan orang memadati tempat tersebut, ada yang membawa poster, ada juga yang mengenakan kostum khusus.

Setiap 22 April tiap tahunnya diperingati sebagai hari bumi. Jika ditilik dari awal mulanya, hari bumi merupakan kampanye untuk memunculkan kepedulian lingkungan hidup kepada setiap orang di seluruh dunia.

Jaringan hari bumi―organisasi nirlaba (LSM) yang anggotanya dari berbagai LSM yang tersebar di seluruh dunia mengkoordinasikan hari bumi di seluruh dunia―pada tahun ini fokus untuk menyadarkan setiap orang di muka bumi mengenai krisis ekologis atas kepunahan keanekaragaman hayati.

Beberapa spesies yang sangat mengkhawatirkan salah satunya adalah Bilby atau kelinci paskah yang sangat rentan akan kepunahan. Banyak faktor yang penyebab, salah satunya adalah kehilangan habitat.

Kini bilby hanya ditemukan di daerah terpencil Australia Barat, Queensland, dan wilayah Utara Australia. Padahal sebelumnya bilby pernah menempati lebih dari 80 persen benua Australia.

Spesies yang terancam punah lainnya adalah kura-kura Yangtze yang kini diperkirakan hanya tersisa tiga ekor menurut data dari Wildlife Conservation Society (Masyarakat Konservasi Alam Liar).

“Masih banyak spesies lain yang terancam punah, tugas kita untuk menjaga lingkungan agar tetap dapat bisa dihuni, bukan hanya dihuni manusia, tetapi juga makhluk hidup lain.”

Seperti yang dikutip dari World Wide Fund (WWF) Indonesia yang menyatakan bahwa negara ini (Indonesia, -red) merupakan rumah bagi banyak spesies baik tanaman maupun hewan, tidak terlepas dari yang ada di daratan, udara, serta lautan.

“Meskipun daratan Indonesia hanya menutupi 1,3% dari permukaan Planet Bumi, secara global negara kita merupakan rumah bagi 12% mamalia, 16% reptil dan amfibi, 17% burung, 10% tanaman berbunga, serta 25% spesies ikan.”

Aksi Damai Aliansi Muda Mudi Membumi

Massa aksi yang sedari tadi berkumpul memadati parkiran ABA Yogyakarta terlihat bersiap-siap untuk selanjutnya melakukan long march menuju titik Nol KM. Terdengar massa aksi menyanyikan lagu darah juang yang dipimpin oleh Koordinator Lapangan (Korlap), Adi Hermawan.

Di barisan terdepan terlihat sebuah pedati yang beratap dua panel surya dengan sepasang roda di samping dan satu roda kecil di bagian depan didorong oleh dua orang.

Dilanjutkan dengan spanduk besar berwarna kuning bertuliskan “Duka Ibu Bumi” yang terpampang jelas pada bagian tengah di ikuti tulisan Hari Bumi 22 April dan Muda Mudi Membumi 2019 pada bagian kiri dan kanan spanduk tersebut.

Barisan selanjutnya terdapat massa yang memegang beberapa poster berukuran kecil hingga besar, ada juga massa lainnya yang memegang keranjang sampah.

Kerumunan massa tersebut tergabung dalam Aliansi Muda Mudi Membumi yang diinisiasi oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta. Mereka menggelar aksi damai di sepanjang jalan Malioboro Yogyakarta dan mengajak warga setempat untuk sadar akan krisis ekologis di lingkungan.

Selain massa Aliansi, terdapat pula gabungan massa dari Paguyuban Becak Motor yang juga turut serta meramaikan aksi tersebut dan semakin menambah jumlah massa yang ada sebelumnya.

Selain massa aksi yang melakukan longmars di jalan Malioboro, massa lainnya, dengan berbekal keranjang sampah, menyusuri pinggiran jalan untuk mencari sampah yang kemungkinan dapat menyumbat aliran air maupun sampah yang terselip pada tanaman.

Seperti dalam wawancara bersama radiosolidario.net, Sugito, salah satu massa yang tergabung dalam Paguyuban Becak Motor menuntut agar dirinya dan juga pengemudi becak motor lainnya tetap dapat mencari nafkah.

“Tuntutannya ya mencari nafkah, udah gitu aja.” Ucap Sugito saat diwawancarai di tengah aksi damai.

Mengenai tanggapan yang menyatakan becak motor menyebabkan polusi, Sugito mengatakan hal tersebut merupakan masalah lingkungan, dan mengatakan kuantitas ‘narik-nya’ begitu jarang. Ia mengaku siap untuk beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.

“Tidak masalah. Siap” tutup pria dengan kaos bertuliskan Betjak Motor ini.

Hari Bumi dan Pentingnya Lingkungan Hidup

Selain kampanye mengenai krisis ekologis dan keanekaragaman Hayati, Aliansi Muda Mudi Membumi juga mengingatkan mengenai ancaman terhadap ruang hidup yang sewaktu-waktu dapat tergantikan atas dalih ‘kepentingan umum’.

Deforestasi misalnya, diklaim oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus mengalami penurunan tiap tahunnya.

Sawit yang banyak dibicarakan nampaknya bukanlah penyebab dari deforestasi dengan alasan perkebunan kelapa sawit tidak berasal dari konversi wilayah hutan, setidaknya itu yang didapat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh IPB.

Perbedaan terminologi definisi mengenai deforestasi dari dalam maupun luar negeri kerap membuat kekeliruan persepsi, deforestasi merupakan alih fungsi atau perubahan fungsi dari kawasan hutan menjadi peruntukan non hutan, setidaknya itu pengertian yang ada di negeri ini.

Sementara pemahaman orang Eropa dan LSM asing, deforestasi adalah membuka lahan yang memiliki tutupan pohon.

Infografik/WRI Indonesia

Kondisi kehilangan hutan akibat pembukaan lahan yang berlebihan dalam area konsesi maupun luar area konsesi menunjukkan data statistik yang sama mengkhawatirkannya.

Sementara menurut Lembaga Survei Independen, World Resources Institute Indonesia (WRI Indonesia), menunjukkan bahwa 55 persen kehilangan hutan terjadi di dalam area konsesi, di mana penebangan pohon diperbolehkan hingga batas tertentu, sementara 45 persen kehilangan hutan terjadi di luar area konsesi yang legal.

Analisis yang dilakukan oleh WRI Indonesia sejak 2000 hingga 2015 menunjukkan bahwa sekitar 55 persen kehilangan hutan atau sekitar 4,5 juta hektar terjadi di dalam area konsesi.

Hampir 1,6 juta hektar dan 1,5 juta hektar hutan primer telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri.

Infografik/WRI Indonesia

Sementara kehilangan hutan di luar area konsesi juga menunjukkan statistik yang mengkhawatirkan, dimana 3,6 juta hektar hutan hilang sejak 2000.

Menurut data WRI Indonesia, sebagian dari kehilangan hutan ini berasal dari pemegang izin konsesi yang melakukan penanaman di luar area konsesi, atau dari penebangan kayu yang berlebihan sehingga berpengaruh terhadap terjadinya deforestasi.

Beberapa sebab lainnya dapat pula disebabkan oleh pekebun kelapa sawit yang memproduksi hampir 40 persen dari total produksi kelapa sawit nasional.

Energi Alternatif Sebagai Solusi yang Tidak Murah

Pedati tersebut melaju begitu pelan namun stabil, sepasang panel surya yang berada di atap sekilas menarik  perhatian orang-orang yang sedang berada di sepanjang jalan Malioboro kala itu.

Kahar 5.. Kahar 5.. Disini Rainbow Warrior..//
Anda berada di kawasan Konservasi Taman Nasional Karimunjawa yang terlarang untuk dilewati..//
Kapal-kapal tongkang batu bara telah membuat kerusakan terumbu karang di Karimunjawa dan kami meminta anda untuk segera keluar dari kawasan konservasi..//
Kami akan melakukan aksi damai, tanpa kekerasan, untuk menunjukkan betapa berbahayanya lalu lintas kapal tongkang batubara terhadap terumbu karang yang ada di kawasan konservasi ini..//
Kami akan beraksi mengecat lambung kapal anda dengan cat air ramah lingkungan dan kami tidak akan melakukan pengrusakan apapun terhadap kapal anda..//
Kami tidak akan melukai kru anda dan kami harap kapal anda bisa segera keluar dari kawasan konservasi ini..//
Kami bersama media dan jurnalis akan mendokumentasikan seluruh kegiatan ini.

Cuplikan dalam film dokumenter Sexy Killers tersebut memperlihatkan aktivitas kapal tongkang batu bara yang ditarik menggunakan kapal dengan panjang seperempat kapal tongkang keluar dari kawasan konservasi.

Masih seputar film dokumenter ini, di scene akhir film terlihat masyarakat Ciptagelar mengoyak peradaban yang dikatakan maju ini. Sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, walau ada juga yang menjadi buruh, pedagang, peternak dan pegawai.

Masyarakat Ciptagelar mampu berswasembada pangan dengan hanya bertani secara tradisional, tidak menggunakan alat-alat modern, pupuk-pupuk kimia, dan juga dilarang untuk menjual beras maupun padi.

Hanya dalam waktu satu kali tanam tiap tahunnya, masyarakat Ciptagelar mampu bertahan hingga beberapa tahun ke depan.

Tidak hanya soal pangan, Masyarakat ciptagelar juga mampu menggunakan energi alternatif dari air. Sumber energi Mikrohidro tersebut setidaknya mampu menerangi 1500 rumah atau 25 persen yang teraliri listrik dari Mikrohidro yang tersebar.

Lain di Ciptagelar yang menggunakan energi alternatif dengan memanfaatkan air, pedati dari Aliansi Muda Mudi Membumi memanfaatkan energi dari matahari.

Khalik selaku direktur WALHI menjelaskan bahwa satu panel di atap pedati tersebut berkapasitas 100 Watt Power (WP), dimana jika matahari terik dalam satu harinya dapat menghasilkan daya 500-600 watt.

Hari Bumi 2019, Munculnya Krisis Ekologis Hingga Solusi Energi Alternatif

Bayu Utomo/Journal

Namun daya yang dihasilkan tersebut harus dikurangi sejumlah 20% untuk aki, hal tersebut lantaran arus yang terdapat pada aki tidak boleh habis untuk tetap membuat aki tetap terawat.

Mengenai metode penyimpanan daya, Khalik mengatakan bahwa ada dua sistem penyimpanan.

“Karena panel surya ini kan ada dua sistem, sistem off grid, menggunakan aki, jadi kita nyimpen. Satunya sistem on grid, jadi kita integrasikan dengan PLN, kalau diintegrasikan dengan PLN kelemahannya kalau mati lampu ikut mati lampu. Tapi secara tagihan bulanan itu bisa kita kurangi.” ucap pria yang kerap disapa mas cepot ini.

Sementara untuk biaya, ia mengatakan bahwa “biaya untuk membeli dua panel surya, satu aki, controller dan komponen tambahan menghabiskan biaya hingga 7,5 juta”, tutupnya.

Tuntutan Aliansi Muda Mudi Membumi

Massa aksi tengah melingkar memadati titik Nol KM Malioboro, megaphone yang sepanjang jalan tadi berbunyi kini sunyi. Kemudian diikuti dengan orasi dan pembacaan permasalahan yang terjadi dan tuntutan massa aliansi yang dibacakan oleh Korlap.

Ada empat masalah mendesak yang dibacakan dalam peringatan hari bumi kali ini.

Pertama, masalah pariwisata, penguasaan tanah, pembangunan yang serampangan yang mendorong siklus bencana ekologis.

Kedua, masalah pengelolaan sampah dan limbah di seluruh wilayah di Indonesia. Diperlukan upaya penguatan aturan pengelolaan bekas kemasan tak terurai untuk produsen, dan pengetatan aturan pencegahan dan pengelolaan limbah industri.

Ketiga, masalah akibat pertambangan. Pertambangan atau sektor ekstraktif harus berhenti karena risiko jangka panjangnya yang tak mungkin dihindari manusia.

Keempat, masalah energi kotor. Pemerintah RI harus menyelenggarakan dan menjamin penyelenggaraan mandiri energi bersih.

Berikutnya, tiga poin yang menjadi tuntutan massa Aliansi Muda Mudi Membumi, yakni pertama, cabut seluruh tuduhan, batalkan, dan cegah upaya mengkriminalisasi pejuang lingkungan hidup.

kedua cabut dan batalkan UU No.2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Terakhir adalah cabut dan batalkan UU No.13 Tahun 2012 tentang keistimewaan DIY.

Setelah pembacaan masalah dan tuntutan usai, massa aksi menutup peringatan hari bumi dengan kembali menggemakan darah juang bersama-sama. Kemudian membubarkan diri menuju selasar barat titik Nol KM.

“Selagi oligarki menguasai negara, kita tidak akan bisa mendiri.”

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, siapkah pemerintah Negara Republik Indonesia, pemerintah setempat, komunitas, atau bahkan seorang individu untuk mulai menjaga lingkungan dengan memakai energi alternatif?

Dan lagi, untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak harus menunggu datangnya hari bumi, bukan?

Reporter: Bayu Utomo
Editor: Adi Ariyanto
No more articles