Hoaks dan Hantu Politik. Repro/Bayu Utomo
Hoaks dan Hantu Politik. Repro/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Pemerintah berulang-kali memperingatkan kita tentang bahaya mempercayai berita palsu/hoaks. Namun, pernahkah kita berfikir bahwa hoaks yang paling menakutkan adalah yang berasal dari pemerintah itu sendiri? Pemerintah dengan segala perangkat pemerintahannya mempunyai segala bentuk fasilitas yang mampu digunakan untuk memanipulasi data dan membuat realitas palsu.

Pernahkah kita meluangkan waktu untuk merenung dan bertanya, “apakah kita telah terjebak ke dalam realitas palsu yang diciptakan oleh rezim itu sendiri?” Namun, tidak ada yang mampu membuktikan dan memvalidasinya. Oleh karena itu, saya selaku penulis hanya bisa berputar-putar dan berhenti di asumsi semata.

Pemilu 2019 menurut saya tidak lebih dari sandiwara murahan yang bercerita tentang seorang penyelamat yang berusaha menyelamatkan kita dari diktatur fasis yang ingin merenggut kebebasan kita. Dengan segala hal, para buzzernya berusaha meyakinkan kita bahwa seorang malaikat telah turun ke bumi, seorang pangeran piningit yang berasal dari kelas “proletar” yang mengerti dan memahami betul penderitaan orang-orang kecil, atau yang biasa mereka sebut dengan “wong cilik.”

Sungguh saya adalah salah satu korban yang percaya bahwa dia akan membawa bendera merah berkibar di masa kecil saya, tepatnya pada saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Lambat laun, seiring saya tumbuh dan seiring saya berproses, saya mulai mengerti bahwa dia hanyalah boneka yang sukses diciptakan oleh oligarki lewat kerangka kepimimpinan yang melampaui kerangka kepemimpinan Niccolò Machiavelli. Sebuah kerangka kepemimpinan diktatur pasar bebas. Pasar telah menentukan setiap inci dari takdir kita dan kita masih merasa tenang seolah tidak ada yang harus dikhawatirkan.

Sekarang coba saya ingatkan kembali kepada kalian tentang peristiwa kebakaran hutan di Kalimantan 2015 lalu. Sempat terdengar kabar bahwa kebakaran hutan “termasif” itu disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan dan diperparah oleh pemanasan global. Lagi-lagi sebuah antagonisme perokok yang terus menerus dikabarkan.

Sebuah pola absurd yang dikabarkan berulang-ulang. Namun pemerintah jarang sekali melalui media-media yang mereka kuasai memberitakan tentang bisnis kelapa sawit yang terus menggerus berhektar-hektar tanah di Kalimantan dan menyebabkan kekeringan yang berimbas pada warga sekitarnya.

Pemerintah justru membanggakan ini sebagai sebuah ‘progress‘, sebuah kemajuan yang pantas dibanggakan oleh orang Indonesia. Pada kenyataannya, keuntungan terbesar didapatkan oleh investor, bukan kita. Kita, lagi dan lagi, hanya mendapat imbas dari kerusakannya.

Sekarang, sebuah pertanyaan muncul kepada kita, “pernahkah kita takut akan kerusakan yang ditimbulkan oleh pasar itu?” Fakta yang saya lihat di lapangan menyatakan tidak. Kita cenderung takut pada ancaman “fiktif” tentang kebangkitan Khilafah dan diktatur fasis yang akan merenggut kebebasan kita.

Kalau kita pikir-pikir, sebuah boneka yang saya sering sebut sebagai “owo”, tidak mungkin menjadi kepanjangan tangan dari mereka yang terus menerus mengeluhkan diri mereka sebagai pengibar “Al-Liwa” dan “Ar-Raya.” Sedangkan “owo” pernah bersekongkol dengan “Megamendung” dalam Pemilu 2006.

Mungkinkah “owo” adalah sebuah karakter fiktif yang sengaja diciptakan sebagai antagonis dalam sebuah sandiwara peran yang disutradarai oleh Oligarki? Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab, namun hanya menjadi sebuah renungan.

Saya tidak memungkiri keberadaan dari mereka yang begitu menginginkan kepemerintahan khilafah di-Indonesia. Namun, sama dengan kita, mereka hanyalah komoditas yang diciptakan sebagai figuran dalam sebuah sandiwara.

Sama seperti mereka, kita hanya dibodohi. Mungkin memang mereka adalah salah satu ancaman yang harus kita waspadai. Namun, jangan sampai kita terlalu waspada kepada mereka hingga kita melupakan ancaman nyata yang berada tepat di depan kita. Satu pesan saya, kebenaran di era ini sangat sulit ditemukan. Kanon

In a time of universal deceit, telling the truth is a revolutionery act.” ―George Orwell

[spacing size=”50″]

Tulisan opini berjudul “Hoaks dan Hantu Politik” ini merupakan kiriman kontributor dengan nama pena Kanon. Jika kamu juga memiliki sedikit kegelisahan, kamu dapat menuangkannya melalui LPMJOURNAL.ID atau simak mekanisme pengiriman tulisan disini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email