Hypebeast: Ideologi Menjadi Komoditas

Hypebeast, Ideologi Menjadi Komoditas
Hypebeast, Ideologi Menjadi Komoditas. Repro/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Streetwear saat ini adalah tren mode/fesyen yang sedang menjalar. Bukan hanya dikalangan anak muda, namun juga hingga ke kalangan paruh baya. Banyak orang rela menghabiskan uang hingga puluhan juta, hanya untuk membeli produk dari sebuah brand mode.

Dalih yang mereka pakai untuk menjustifikasi sebuah tindak konsumerisme berlebihan ini adalah ide dan cerita dibalik pembuatan brand tersebut. Tentu bukan hak saya untuk mengatur kemana uang mereka harus digunakan. Namun dalam negara demokrasi, saya tentu mempunyai hak untuk mengkritik sebuah pola absurd yang terjadi dalam kehidupan sosial. Tentu anda sebagai pembaca juga mempunyai hak untuk mengkritisi esai saya kali ini.

Gaya hidup masyarakat kelas atas sudah sangat berlebihan. Bagaimana tidak, mereka rela membuang uang hingga jutaan hanya untuk sebuah kaos yang kita bisa beli dengan harga Rp50 ribu dan memiliki kualitas yang sama.

Bagi saya, mereka mungkin sudah kebingungan kemana uang mereka harus dipergunakan, hingga mereka rela membuang-buang uang mereka untuk sesuatu yang tidak perlu. Dari alasan-alasan yang saya temui, ada dua alasan yang paling banyak saya temukan. Alasan pertama adalah bukti pencapaian dari keras yang mereka lakukan selama ini.

Saya menanggapi alasan sini sebagai sebuah pengakuan eksistensi terhadap diri sendiri, oleh diri sendiri, suatu individualisme yang menggelikan dan membuat saya tertawa. Alasan kedua adalah mereka membeli ide, atau wacana, dari brand yang mereka kenakan. Alasan kedua inilah yang akan menjadi topik utama dari kritik saya ini.

Sebuah ide atau gagasan, menurut saya adalah hal/entitas yang memang tak ternilai harganya. Karena itu, ribuan orang rela mengabdikan hidupnya menjadi seorang filsuf atau pemikir, demi kemaslahatan umum. Dan banyak dari mereka juga menjadi martir layaknya Sokrates, Trotsky, dan Syekh Siti Jenar yang meninggal demi mempertahankan gagasan mereka.

Beberapa lagi meninggal dan hilang demi memperjuangkan ide atau gagasan yang mereka warisi dari pemikir-pemikir terdahulu layaknya Munir, Widji, dan Marsinah. Maka dari itu, adalah sebuah penghinaan bagi saya, jika sebuah ide kemudian menjadi sebuah komoditas yang hanya mampu dinikmati untuk kalangan-kalangan tertentu. Saat sebuah gagasan kemudian dipakai untuk mengeruk profit sebesar-besarnya.

Yang saya lebih tidak terima lagi, adalah sebuah bentuk apresiasi terhadap pemilik brand tersebut, mengalihkan kita dari produsen sebenarnya, yaitu para buruh yang bekerja keras demi mempertahankan hidupnya sendiri, serta anak dan istrinya.

Ironisnya lagi, gaji yang mereka dapatkan bahkan tidak cukup untuk membeli barang yang mereka ciptakan sendiri. Lalu dimana letak “kesakralan” yang mereka hasilkan dari ide atau cerita yang membuat harga dari brand mereka ini menjadi tidak masuk akal?

Dan apakah pengguna brand tersebut masih akan bangga saat mereka melihat kenyataan dibalik proses produksi barang yang mereka kenakan? Apakah mereka masih mau mengeluarkan uang jutaan rupiah demi meng-apresiasi sebuah bentuk penindasan kelas? Belum lagi jika kita mengingat kasus Nike 2014 lalu yang menggaji karyawannya 50 Cent per jamnya.

Bagi saya, sebuah ide harus mampu membuat perubahan setidak-tidaknya dalam pola pikir masyarakat. Bukan hanya menjadi pajangan dengan harga mahal, dan pembuktian eksistensi segelintir orang yang ingin menunjukan superioritas mereka diantara orang lain.

Sebuah arogansi yang kekanak-kanakan menurut saya. Bagi saya, trend hypebeast tidak lebih adalah sebuah kebodohan masyarakat kelas atas yang ingin memperbesar kesenjangan sosial yang terjadi dengan membedakan kelas mereka dengan kelas-kelas dibawah mereka.

Tulisan opini berjudul “Hypebeast: Ideologi Menjadi Komoditas” ini merupakan kiriman kontributor dengan nama pena Hipokrit. Jika kamu juga memiliki sedikit kegelisahan, kamu dapat menuangkannya melalui LPMJOURNAL.ID atau simak mekanisme pengiriman tulisan disini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email