Login With Google

Sekarang pilihannya ada di tangan kamu: Mengambilnya atau membiarkannya berlalu begitu saja.

Sebagai gambaran, tulisan berikut ini tidak akan membahas konsep pemikiran Plato mengenai dunia ide, alam ide maupun asal-muasal ide. Jadi harap ambil kembali semangat tubir yang telah menggebu-gebu dalam dada itu.

Ide yang saya maksud disini, merupakan ide yang kerap bersliweran saat hendak menulis sebuah fiksi. Itu!

Ketika sedang beraktivitas seperti biasanya, kerap kali saya terdiam barang beberapa saat—lalu sorot cahaya turun dari langit—kemudian secara ajaib saya memiliki ide untuk menulis. Namun sangat disayangkan, ide tidak hadir dalam bentuk keseluruhan cerita, melainkan hanya potongan kecil dalam cerita tersebut.

Terkadang ia datang dalam bentuk latar tempat yang dipenuhi pepohonan yang menjulang setinggi langit. Kadang dalam bentuk karakter yang kelewat murah hati. Atau kadang juga dalam bentuk benang merah yang masih benar-benar lurus dan belum semrawut.

Ia (ide) selain dapat muncul dalam bentuk satu benang merah, juga terkadang muncul menjadi beberapa potong latar yang terpisah. Jadi kamu harus membongkar-pasang ide tersebut dengan kata dan kalimat tertentu agar menjadi tulisan utuh.

Seperti yang diungkapkan Neil Gaiman—seorang pengarang, dalam tulisannya mengenai ide, ia mengatakan bahwa kamu bisa memperoleh ide kapan saja dan di mana saja. Namun, hal yang membedakan seorang penulis dan orang lain, lanjut Gaiman, yakni kami dapat mengenali keberadaannya (ide) dengan cepat.

Masalahnya, tidak semudah itu untuk menangkap sebuah ide kemudian menyimpannya dalam sebuah alat pengingat. Terkadang, ide-ide itu berlarian mengikuti hembusan angin dan datang tak kenal kasihan. Misalnya saja ketika kamu sedang rebahan sembari melakukan aktivitas menjaga jarak.

Atau barangkali, jika mengacu pada pernyaraan Gaiman, kesulitan dalam menangkap ide lantaran kita masih menjadi sosok orang lain dan belum menjadi sosok penulis. Walau saya pribadi berpandangan bahwa sulit tidaknya seseorang menangkap ide bukan perkara kamu sosok orang lain atau penulis, melainkan kamu belum mengetahui kondisi seperti apa ide-ide tersebut hadir kepada kamu dalam wujud terbaiknya.

Pasca menangkap ide

Maka, selepas kamu menangkap ide-ide yang berlarian tersebut, selanjutnya adalah mengembangkan ide tersebut hingga usai menjadi cerita yang utuh. Idealnya seperti itu. Masalahnya lagi, sebelum sempat menuliskannya, ide-ide tersebut keburu hilang.

Tetap chill, tidak usah panik. Bahkan seorang Gaiman pun pernah mengalaminya. Ketika hendak menulis, ia bilang bahwa awalnya cerita miliknya nampak telah jelas alurnya. Namun begitu Gaiman mulai menulisnya, Ia tersadar bahwa prosesnya sama seperti mencoba untuk menggenggam pasir dalam kepalan tangan: setiap kali Gaiman berpikir pasir itu sudah tergenggam, pasir itu selalu lolos melalui celah-celah jemarinya dan pergi menghilang begitu saja.

Memang, menulis tidak pernah mudah. Itu sebabnya ketika sebuah tulisan sedang dikerjakan, buru-buru menjadi hakim atas suatu tulisan, apalagi belum utuh, merupakan tindakan yang gegabah. Ide-ide liar yang masih menari-nari di suatu tempat itu bisa saja mengurungkan niatnya dan memutar arah saat hendak datang menemui kamu.

Tidak jarang pula, diperlukan waktu yang tidak sebentar untuk merampungkan suatu tulisan lantaran banyak faktor, salah satunya ide. Untuk itu, ketika telah menangkap ide, silahkan meluap-luapkan apa yang ada dalam beragam mediumyang telah tersedia.

Karena, bagi Neil Gaiman, neraka adalah lembaran kertas kosong. Dan ketika kamu berada di hadapannya, tanpa bisa memikirkan satu hal pun yang pantas untuk disampaikan, satu karakter yang bisa dipercaya keberadaannya oleh orang lain, atau satu cerita yang belum pernah diceritakan sebelumnya.

Semua bentuk fiksi adalah sebuah proses pengandaian: apapun yang kamu tulis, dalam medium atau genre apapun, tugas kamu adalah untuk menciptakan dunia yang meyakinkan, menarik, dan baru.

Neil Gaiman

Satu yang mengganjal tiap kali berhadapan dengan merangkai sebuah tulisan adalah ketakutan akan sebuah apa yang dikatakan sebagai: selera.

Tentu setiap orang memiliki daya tarik yang berbeda-beda terhadap sebuah topik. Jadi kamu tidak harus memaksakan dirimu untuk dapat menulis dengan bahasa yang ndakik-ndakik yang hanya digunakan oleh politisi, atau tidak harus juga tulisan yang ngananngiri mentok agar telihat berwawasan. Kamu hanya perlu menulis apa yang kamu ingin tulis.

Bayu Utomo

No more articles