Isu rasisme selalu menjadi momok tersendiri bagi setiap negara, khususnya Indonesia. Rasisme terhadap mahasiswa Papua di Jawa contohnya, di mana pemerintah dinilai kurang siap untuk mengatasi masalah tersebut. Mengakibatkan tindakan antisipasi yang dilakuakan aparat serasa kurang tepat, yang malah akan menimbulkan berbagai macam gejolak kedepanya.

Sore, sekitar jam 16.00WIB. SN, salah satu penghuni Asrama Paguyupan Papua Jogja di Maguwoharjo,Depok, Sleman, Yogyakarta. Terpaksa menghentikan aktivitasnya ketika mendengarsuara ketukan pintu. Keadaan kian menegang, dengan keberadaan 3 orang takdikenal, berdiri di luar bersama ketua RT setempat pada Kamis (27/2/2019).Tanpa basa – basi mereka langsung menanyakan keberadaan Ketua Asrama.

“KetuaAsrama lagi keluar asrama, paling nanti balik jam 18.00 WIB” jawab SN.

Kembali muncul rentetan pertanyaan yang dilontarkanoleh ketua RT beserta 3 orang tak dikenal tersebut. Salah satu pertanyaan yangditanyakan menyangkut tentang diadakannya diskusi yang diselengarakan olehIkatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai (IPMANAPANDODE)Yogyakarta – Solo. Diskusi tersebut akan dilaksanakan pada 17.00 WIB dengan temaOtsus dan Masalah yang Dihadapi Masyarakat Papua.

Dengan tegas mereka membatalkan diskusi yang akan diadakanjam 19.00 WIB nanti. Bahkan tanpa meminta izin kepada SN mereka langsungmenerobos  masuk, mengambil foto setiapkamar dan ruang asrama. Muncul dugaan bahwa ke-3 orang tak dikenal tesebutadalah anggota Intel. Setelah keluar, ketua RT beserta 3 orang itu menatapcuriga. Karena terparkir banyak sepeda motor di luar tetapi tidak ada siapa pundidalam asrama. Mendapati hal tersebut SN kembali di dera pertanyaan.

“Ini kenapa motor banyak tapi tidak ada orang?”

Kemudian SNmenceritakan bahwa teman – temanya dari Solo datang dan sedang pergi sementarauntuk bermain bola dilapangan. Untuk kedua kalinya, ketua RT beserta 3 orangasing (Intel) tersebut menentang di adakannya diskusi, dengan alasan mengganguketertiban dan membuat sampah. Mereka pun mengingatkan agar segera menghadapketua RT nanti pada pukul 8 malam.

Setibannya YN, selaku Ketua Asrama bersama kawan – kawan 4 paguyupan setiap daerah, sontak membuat SN langsung menceritakan semua hal yang terjadi. Setelah itu terdapat 10 orang yang di duga adalah anggota Intel memantau keadaan di sekitar asrama. Karena sudah jam 20.00 WIB, YN beserta SN menghadap ketua RT.

Setibanya disana merekalangsung disuguhkan dengan pemandangan yang tidak mengenakan, lantaran terdapatseorang tentara beserta 6 orang anggota intel di rumah ketua RT. Pengurusasrama meminta izin untuk melakukan diskusi, tetapi tanggapan yang diterima diluar dugaan. Dengan lantang mereka langsung menolak.

“DISKUSI DIBATALKAN, DANJANGAN LAGI MELAKUKAN DISKUSI!”

Kembalinya YN dan SNmembawa sebuah kabar kepada kawan – kawanya. Mereka mengatakan bahwa pak RT,seorang tentara, dan 6 Intel melarang mereka untuk melakukan diskusi. Sehinggamalam itu terpakasa diskusi dibatalkan, ditambah dengan banyaknya tentara danintel yang memantau di depan asrama bak mengintai buronan. Setelah itu, 4anggota paguyuban pergi meninggalkan asrama.

Mengingat gejolakrasisme yang masih beredar di Indonesia seakan melunturkan arti NKRIsebenarnya. Dikatakan sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman punserasa kurang tepat. Dipandang sebagai contoh negara dengan keanekaragamanbudaya terbanyak di Asia pun seakan hanya bualan.

Tentu hanya bualan jikayang lain mengangap sukunya, rasnya, keturunanya lebih baik dari yang lain.Akhirnya hanya saling menindas dan menyingkirkan, kalau hanya tersisa satu yangdi anggap paling baik memangnya itu bisa disebut Keberagaman?

No more articles