Mendengar kata Kebijakan, maka hal pertama yang muncul adalah sebuah konsep dan asas buatan orang lain yang dibalut dalam manisnya kembang gula. Seakan berkata “Aku adalah orang yang memiliki kuasa sehingga akan memberi kebijakan demi keselamatan bersama”

Tentunya hal itu lumrah bagi seorang yang memiliki kedudukan tinggi. Lalu apakah Kebijakan itu mencekikku?

Seandainya memang merugikan maka bukan Kebijakan namanya, tapi Absolutisme. Dimana orang yang memiliki otoritas lebih tinggi dapat menekan keinginannya pada siapapun tak peduli perintahnya merugikan atau menguntungkan. Tetap, statis, dan tak dapat diubah.

Bahkan praktek tersebut nyatanya juga dilakukan dalam instansi pendidikan. Ketika orang yang memiliki otoritas tertinggi memberikan mandat pada otoritas dibawahnya, kemudian ia menekan otoritas yang lebih kecil dan seterusnya.

Ketika sebuah instansi pendidikan membuat sebuah kebijakan, dimana mahasiswanya harus melakukan kegiatan pembelajaran secara online. Maka hal pertama yang terlintas adalah konsep. Bagaimana cara melakukanya? Dengan apa kita akan melakukanya? Atau Seperti apa cara kita melakukanya?

Tentunya akan terlintas berbagai pertanyaan akan hal tersebut. Lalu apakah Kebijakan Mencekik kita? Belum bisa dikatakan mencekik bila kita paham dengan konsep kebijakan tersebut. Misalnya mengapa kita harus bertindak demikian.

Sering sekali sebagai otoritas yang kecil Mahasiswa menyalahkan Dosen atau Dosen yang menekan otoritas di bawahnya seperti mahasiswa. Banyak sekali kasus tersebut di dunia nyata. Anggapan bahwa “Dosen selalu benar” adalah tindakan absolutisme.

Asal kalian tau kalian sama-sama sedang dicekik dan saling melilit tali rantai untuk dibawa ke neraka sama-sama. Dalam sudut pandang mahasiswa mereka adalah korban. Dalam sudut pandang dosen mereka juga korban tapi otoritas mereka lebih tinggi, itulah yang membedakan.

Ada pula kejadian dimana saking tidak taunya atau mungkin malas, atau bisa saja disebutkan Mereka Yang Makan Gaji Buta, merasa otoritas mereka yang tinggi maka tidak akan masalah membuat peraturan nya sendiri. Tanpa ada angin tiada hujan memaksakan kehendak dengan tugas yang bahkan membingungkan, ambigu dan tak pasti.

Di satu sisi mengharuskan mahasiswanya melakukan sesuatu tanpa kepastian. Sembari kena tekanan mental. Karena dihantui dengan hukuman nilai, cercaan, dan tekanan otoritas yang lebih tinggi.

Pernah sebuah kejadian dimana pemberlakukan kuliah online menekankan bahwa pengiriman data ujian online harus tepat waktu dan pihak yang bersangkutan tidak mau tau penyebabnya serta tetek bengek lainya ditanggung mahasiswa atau individu.

Maka langsung banyak kartu ucapan berisi sumpah serapah dan hujatan. Di sisi lain para staf yang bekerja nyatanya juga dicekik oleh otoritas diatasnya. Kemudian tanpa sadar ikut mencekik otoritas dibawahnya.

La Voila, kebijakan yang seharusnya menjadi sesuatu Yang Bijak apakah memang dapat dipraktekkan dengan mudah? Nyatanya tidak. Perlu sosialisasi, perlu kerja sama antara semua pihak, dan perlu sikap untuk saling memahami.

Tyasih Ivana Mariyam

No more articles