Ketidaktahuan Makna Korupsi hingga Cocoklogi berkedok Opini

Ketidaktahuan Makna Korupsi hingga Cocoklogi berkedok Opini. Repro/Bayu
Ketidaktahuan Makna Korupsi hingga Cocoklogi berkedok Opini. Repro/Bayu
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Sebelum tulisan ini dipublikasi, ada satu tulisan konstributor (di lpmjournal.id) yang terkesan mengadu domba Lembaga Mahasiswa (LM) dengan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB). Tulisan tersebut seakan-akan menggiring opini bahwa ARB yang ada di Universitas Amikom Yogyakarta (selanjutnya Amikom) melakukan kajian secara ‘ngasal’ dan mencoba memprovokasi karena tidak adanya press release hasil konsolidasi.

Hal ini bermula dari keresahan penulis pada story yang dipublikasikan oleh akun Instagram @lon_ndoo, seperti yang penulis paparkan di dalam tulisannya yang berjudul “Demokrasi Dikorupsi hingga Mempertanyakan Dana LM”. Story tersebut mengatakan “AMIKOM BUTUH EVOLUSI!!!! BUKAN KOALISI!!!”, sehingga saya menganggap wajar jika orang yang tidak pernah hadir di dalam setiap diskusi ARB, kaget saat dia melihat story tersebut.

Ketika berada di dalam lingkungan ARB, orang-orang sontak tertawa ketika membaca tulisan tersebut, kecuali saya. Bagaimana bisa tertawa? Saya merasa bahwa nama ARB telah dirusak oleh story tadi. Si penulis opini tersebut telah ngawur dan malah menyebabkan provokasi dengan metode cocokologi yang mungkin telah dipelajari dari talkshow komedi malam dan pengetahuan akan konsep yang minim.

Saya sempat berkomunikasi dengan si penulis untuk mendiskusikan tulisannya sembari ngopi santai, namun ia menolak dan malah menantang saya membuat opini tandingan. Kemudian saya menulis opini sederhana ini untuk meladeni tantangannya meskipun saya ragu apakah nalar yang malang itu mampu menerima tanggapan opininya.

Cocoklogi Antara Dua Story dari Dua Akun yang Berbeda

Metode ini sebenarnya yang membuat anak ARB terbahak-bahak ketika membaca tulisan tersebut. Bagaimana dia mengaitkan story dengan story undangan konsolidasi yang di publikasi oleh akun @budiilesmono hanya karena menggunakan font yang sama. Sejak kapan ARB menetapkan aturan penggunaan font bagi anggotanya? Selain dua story yang dikaitkan, ia juga tidak memahami perbedaan konteks dari kedua story tersebut.

Story dari akun Instagram @lon_ndoo
Story dari akun Instagram @lon_ndoo

Story tersebut berisi ajakan kepada mahasiswa umum untuk ikut serta dalam seluruh kegiatan politik kampus. Untuk memantik mahasiswa agar aktif dalam kegiatan politik, @lon_do menggunakan AD/ART Lembaga Mahasiswa BAB VIII tentang keuangan pasal 18 yang memberitahukan bahwa dana yang dipakai untuk aktivitas Lembaga Mahasiswa salah satunya berasal dari persentase jumlah Mahasiswa Baru di Amikom.

Sedangkan, mahasiswa baru tidak tahu alur uang yang dipergunakan oleh LM. Maka dari itu, ada harapan untuk mengundang mahasiswa baru untuk bukan hanya aktif dalam aksi, namun juga aktif dalam memantau kegiatan dalam Lembaga Mahasiswa, terkusus kepada BEM dan SEMA yang juga menyusun program kerja dan regulasi yang mengikat terhadap mahasiswa Amikom.

Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut juga ada kesalahan, karena @lon_do tidak memperhitungkan mahasiswa apatis terkait kulturasi kuat di Amikom, seperti penulis tersebut yang telah gagal faham dalam menanggapi story tadi. Maka dari itu kedepannya, @lon_do juga harus menyertakan konteksnya.

Story dari Akun @budiilesmono

Story ini hanya berisi ajakan bagi Mahasiswa Amikom untuk mengikuti konsolidasi yang diselenggarakan oleh ARB Amikom untuk menindak lanjuti kecacatan Pemilwa berdasarkan persetujuan ARB pusat. Penulis opini tersebut kemudian mengkait-kaitkan story dari akun tersebut dengan story @lon_do, hanya karena font yang dipakai mirip.

Alih-alih mengklarifikasi langsung kepada pemilik akun, penulis opini malah terburu-buru menuliskan opininya tentang story tersebut. Entah mungkin terlalu primitive, sehingga penulis opini tidak mengetahui bahwa instagram memiliki fitur Direct Message. Atau mungkin ia memiliki semacam kompleks mesias sehingga merasa bahwa dia telah mengetahui segalanya.

Poster yang Tidak Meyakinkan

Ini mungkin bisa jadi kritik untuk ARB Amikom, agar kedepannya memperbaiki kualitas poster yang dibuat. Namun sekali lagi, apakah penulis tersebut tidak bisa mengklarifikasi langsung kepada yang bersangkutan? Sedangkan di era modern ini, segala bentuk komunikasi dapat kita lakukan dengan praktis  dan efisien.

Mengingat hal ini, saya jadi ingat dengan lagu The Upstairs yang berjudul Alexander Graham Bell. Lirik lagu ini mengutarakan rasa syukur seseorang kepada tuhan yang telah menciptakan Graham Bell, karena mempermudah komunikasinya.

Terdegradasinya Makna Korupsi

Korupsi adalah  kerusakan yang ditimbulkan dari penyelewengan kekuasaan. Wajar jika banyak yang salah menafsirkan kata ini, karena di KBBI sendiri kata korupsi didefinisikan sebagai “penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara.” Namun, saya heran jika seseorang yang mempunyai tingkat literasi yang tinggi, gagal mendefinisikan korupsi.

Hal ini layaknya kasus kesalahpahaman masyarakat umum dengan kata Anarkis. Anarkis dalam KBBI diartikan sebagai orang yang melakukan tindakan merusak. Sedangkan definisi asli dari anarkis adalah orang yang mengikuti paham Anarkisme. Kosakata se-simple korupsi saja masih salah ditafsirkan, apa lagi opini yang berisikan 500 karakter lebih?

Harapannya, si penulis opini tersebut ikut serta dalam kegiatan ARB yang selanjutnya agar tidak ‘sok’ tau, kemudian mengeluarkan opini absurd nan bodoh. Tulisan ini, merupakan dedikasikan kepada LPM Journal karena rasa sayang saya, mengingat saya termasuk dalam keluarga Journal. Kehadiran LPM Journal juga diharapkan dalam konsolidasi ARB selanjutnya.

Kepada kolumnis “Demokrasi Dikorupsi hingga Mempertanyakan Dana LM”, saya berpesan agar main lebih jauh lagi dan tidur lebih malam lagi supaya update dengan perkembangan yang terjadi disekitarnya. Jangan tiba-tiba meminta pernyataan sikap namun malas menghadiri proses yang dilakukan. Jika pers saja tidak mau tau, bagaimana mahasiswanya tidak apatis? Shame On You!

Tulisan opini berjudul “Ketidaktahuan Makna Korupsi hingga Cocoklogi berkedok Opini” ini merupakan kiriman kontributor bernama Syarif Attamimi yang juga pemilik akun Instagram @lon_ndoo. Jika kamu juga memiliki sedikit kegelisahan, kamu dapat menuangkannya melalui LPMJOURNAL.ID atau simak mekanisme pengiriman tulisan disini

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email