Sejak dulu hingga sekarang, yang namanya kebebasan hidup merupakan dambaan semua orang, segala umur, berbagai generasi. Terlebih yang masih remaja dan manusia dengan rentang usia 20-an.

Anak-anak banyak yang protes kepada orang tua ataupun walinya sebab dikirim kan ke sekolah asrama, boarding ataupun pondok. Terlepas dari stereotype kebanyakan orang bahwa anak yang dipondokkan, seperti pesantren, pasti anak yang nakal dan bermasalah. Yah, segala macam stereotype tak berdasar lainnya. Anak-anak tidak ingin di sana karena banyak kekangan, batasan, peraturan, dan itu semua menghambat mereka untuk mengekspresikan diri. Lalu apa akibatnya? Kreativitas mereka terhambat, kemampuan adaptasi terhadap dunia luar menjadi lemah, dan alasan lainnya. Itu pendapat mereka.

Aku akan mengambil contoh yang mudah, yaitu mahasiswa. Setelah lulus SMA, para remaja ini pasti kebanyakan memiliki pandangan betapa senangnya akan hidup menjadi mahasiswa. Kebebasan yang benar-benar lepas membuat dia beranggapan, pasti hidupnya menjadi penuh makna. Sarat akan tantangan dan gairah.

Aku pribadi tidak heran, mengapa kebanyakan mereka memiliki anggapan seperti itu. Aku pun pernah merasakannya. Kalau ditanya, mengapa? Jawabannya, ya karena mereka belum merasakan yang sesungguhnya.

Menurutku, kebebasan merupakan suatu entitas mengerikan yang bisa menghinggap setiap individu manusia. Suatu momok yang mampu secara luar biasa kuat menghancurkan segala tujuan manusia yang telah ia tetapkan jauh-jauh waktu. Hingga berujung pada dibumihanguskannya kehidupan mereka.

Jika kalian heran, mengapa aku bisa memiliki pikiran seperti ini? baiklah, mari kita coba mengambil kasus untuk dijadikan bahan ratapan.

Ketika OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), mahasiswa baru mengikuti berbagai macam pelatihan, seperti halnya untuk menetapkan tujuan selama jenjang pendidikan perguruan tinggi yang mereka ambil. Kita hiraukan fenomena OSPEK yang masih mengimplementasi gaya pempeloncoan (Tidak ada efek menempa mental, yang terjadi hanyalah memupuk dendam berkelanjutan). Dari kegiatan pelatihan tersebut, mahasiswa baru dimotivasi lalu diwajibkan untuk merancang keinginan produktif dan tujuan mereka sebagai mahasiswa hingga menjadi wisudawan/i yang membanggakan kampus serta orangtua/wali.

Sebagaimana yang bisa kita tebak, kurang lebih keinginannya adalah mencapai IPK 3,5 keatas, menjadi mahasiswa berprestasi, aktif di beberapa organisasi, memiliki bisnis sendiri, tidak pernah bolos kelas, dan lain sebagainya. Kakak tingkat yang mengetahui hal tersebut, hanya bisa tersenyum pahit, mengernyit, lalu menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Mengapa? Ia mengalami flashback dirinya dulu dan bercermin dengan kondisi nya sekarang. Yang akan timbul di benak sang kakak tingkat hanyalah “Betapa naif nya dirimu dek…

Dan aku yakin, 50% lebih mahasiswa baru akan mengalami kondisi seperti kakak tingkat tadi. Dia akan menyadari kondisi aktual diri mereka sendiri lalu membuang keinginan, harapan, serta tujuan besar nya untuk kemudian menjalankan status mahasiswa mereka ala kadarnya. Yang penting kuliah jalan, mengerjakan tugas di waktu akhir pengumpulan secara asal-asalan asal dikumpulkan, memutuskan keluar dari organisasi dengan alasan tugas yang terus menumpuk sehingga tidak memiliki waktu luang untuk aktif di organisasi, dan kondisi memprihatinkan lainnya.

Kita akan masuk ke intinya. Mengapa fenomena pupus harapan itu bisa terjadi di kalangan mahasiswa (Terlebih)? Karena kebebasan.

Latar belakang berkurang signifikannya produktivitas mereka sebagai mahasiswa adalah ketidakmampuan dalam mengontrol kebebasan yang mereka miliki. Apa contoh tindakannya? Seorang murid ketika masih jenjang SMA atau SMP hanya melakukan kenakalan seperti bolos kelas, memanjat pagar sekolah karena telat, serta mengeluarkan baju seragam. Kemudian ketika menjadi mahasiswa, kenakalannya naik menjadi tier advance, seperti sering pergi clubbing, merokok/vaping, minum minuman keras, bahkan berani melakukan hubungan seksual baik itu dengan kekasihnya atau akses booking online yang sudah marak beredar di internet. Peristiwa terlalu banyak bermain bersama teman ketimbang fokus belajar merupakan efek dari ketidakmampuan dalam mengontrol kebebasan. Sehingga yang terjadi adalah rasa malas, dopamine hit (Tidak perlu lagi mengupayakan usaha keras terlebih dahulu untuk mencapai kesenangan), lalu waktu produktif menjadi berkurang drastis.

Bukan karena banyak tugas kampus yang mengakibatkan dia tidak memiliki waktu lebih untuk aktif di organisasinya, melainkan karena waktu luang yang dipunya terlalu banyak digunakan untuk bermain. Mereka sering mengatakan sedang gabut, padahal sebenarnya terlalu malas mengerjakan tugas yang sudah terlanjur menumpuk.

Lalu apa solusi nya? Buatlah batasan untuk diri sendiri. Bangunlah regulasi untuk individu terkait. Rancanglah peraturan untuk mengontrol gerak pribadi masing-masing. Mengapa melakukan itu? Agar seorang manusia tidak melampaui batas serta mampu mengontrol kebebasan yang dia miliki. Namun, jika dilakukan sendiri. Maka akan sering memberikan kompromi dan toleransi pada dirinya sendiri ketika seseorang tersebut telah melakukan kesalahan. Lambat laun batasan yang dibuat hancur sendiri.

Maka dari itu, carilah orang lain seperti teman atau sahabat untuk menjadi pengawas diri kita, sehingga mampu menindak tegas ketika kita melakukan kesalahan atau kelalaian dan melanggar peraturan yang kita buat sendiri.

Oleh karena itu, bersyukurlah kalian yang memiliki kondisi sedang dituntut, ditimpakan peraturan, dibatasi regulasi. Keadaan itulah yang bisa menjadikan diri individu lebih terarah dalam tindakannya.

Oleh: Yahya As Sholahi Al Ikhwani

No more articles