Pada hari di mana mereka memutuskan untuk berpisah, aku ada satu meja dengan isak yang ku tahan kuat-kuat. Aku telah mengetahui ini jauh sebelum mereka berkata, namun entah mengapa kehilangan selalu menghasilkan luka.

“Tak apa,” tanggap ku ketika mereka bertanya tentang pendapatku. Memang apa lagi yang harus aku katakan? Mereka telah jelaskan mengapa keputusan ini yang mereka ambil. Lagi pula, mereka adalah dua orang dewasa yang dapat berpikir. Lantas apa lagi? Mereka tahu yang terbaik untuk diri mereka sendiri.

Suatu hari di masa lalu, seorang wanita yang tak ku kenal sebelumnya, bertanya kepadaku, “siapa yang paling kamu sukai? Siapa yang paling kamu kagumi?” dapatkah kamu mengira apa jawabanku?

Aku, aku selalu menyukai, “aku” dalam setiap ceritaku. Aku selalu mengagumi, “aku” dengan ketangguhan dan kepercayaan akan dirinya sendiri. Terkadang, aku menginginkan menjadi, “aku” dalam setiap cerita yang aku tulis dengan sungguh.

Aku menyukai bagaimana “aku” bersikap, dan bagaimana seorang “aku” berpikir. Namun entah bagaimana, semesta tak pernah memperlakukan “aku” dengan baik. Namun “aku” tak pernah menyerah.

Biar kulanjutkan..

Tak lama setelah “tak apa” meluncur dari mulutku, perbincangan berlanjut untuk beberapa waktu yang tak lama, meski canggung menyelimuti kami. Seolah jarak sudah mulai terlihat dengan lebih jelas, sejak saat itu.

Ku ayunkan langkahku ke dalam kamar. Lampu yang memang belum dinyalakan, ku biarkan begitu saja. Ku hempaskan diriku ke ranjang, ku gigit kuat-kuat sarung bantal. Lalu isak-isak mulai menyebar ke ruangan.

“Ini kan menjadi terakhir kalinya aku menangis seperti ini” janjiku pada diri sendiri.

Tahun demi tahun pun berlalu, dan isak tangis selalu menemani di setiap malamnya. Menyisakan kenang sebelum bincang di meja makan itu terjadi.

Mereka tampak lebih bahagia setelah keputusan yang mereka ambil. Keluarga baru pun tampak saling akrab, dan aku merasa asing dengan diriku sendiri. Tak sepatutnya aku merasa seperti ini. Melihat mereka bahagia atas keputusan yang mereka pilih, harusnya juga membuatku merasakan hal yang sama.

Rumah tak lagi benar-benar menjadi tempat pulang yang nyaman. Tak lagi hangat, dan candaan yang gelarkan tawa. Rumah hanya sebagai tempat singgah, dan kenang yang tak kan lagi terulang. Bahkan kini ragu mendatangi, dan tanya pun bertanya tentang kebenaran, “benarkah ini yang disebut sebagai rumah.”

Tak lagi ada foto bersama kami yang terpasang di dinding mereka. Hanya ada foto mereka, dengan keluarga barunya. Foto bersama kami hanya ada di nakasku, yang tak pernah mereka singgahi lagi.

Tak ada perlakuan buruk yang ku dapat saat berkunjung di salah satunya. Tak ada cacian atau pun makian yang ku dapat. Tak ada.

Namun hilang, memang tak pernah menjadi utuh. Lengkungan yang selalu ku pahat di wajahku, adalah bukti nyata akan janji yang sekali lagi pada diriku sendiri.

Mereka memperlakukanku dengan baik, jadi tak ada dalih untuk memperlakukan mereka dengan buruk.

“Biarkan mereka bahagia.. biarakan mereka bahagia.. biarkan mereka bahagia dengan pilihan yang mereka ambil”

mantra yang selalu aku lantunkan pada diri di tengah isak yang menyelimuti.

Entah bagaimana ini kan berakhir. Inikah “aku” yang selalu aku kagumi? Apakah aku memanglah aku yang tak pernah mereka tahu?

Perjalananku tak akan berhenti sampai paragraf ini berakhir. Aku masih inginkan aku yang lebih. Aku masih inginkan semesta memperlakukan aku dengan lebih baik. Aku masih tetap sukai aku dalam setiapku. Aku masih tetap kagumi aku.

No more articles