Login With Google

Kita mungkin sangat akrab dengan tesis yang menitikberatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kompetisi dari pola produksi kapitalisme. Ditambah dengan perkembangan riset dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang melonjak drastis selama dua abad terakhir seiring dengan kemunculan kapitalisme.

Tapi bagaimana jika kompetisi tidak bisa lagi adil dan mencapai tahap akhirnya? Dalam perkembangan riset terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, malah justru berpihak ke pasar yang akhirnya menghambat terrealisasikannya gagasan-gagasan baru yang berpihak kepada kemajuan hidup umat manusia.

Hal ini bisa kita lihat akhir-akhir ini saat kepentingan pasar tidak lagi berpihak pada kemajuan umat manusia, dan malah bersifat destruktif kepada lingkungan hidup. Saat krisis yang diciptakan oleh pasar sendiri justru mengakibatkan eksploitasi yang semakin intensif terhadap sumber daya alam dan manusia, sehingga kerusuhan terjadi dimana-mana dan climate change digaungkan di seluruh negara.

Terbukti dengan adanya rancangan Omnibus Law dan penghapusan AMDAL yang jelas berpihak kepada kepentingan investor. Saya rasa sudah waktunya kita bersama untuk melihat dan mencari alternatif baru dari pola produksi dan relasi sosial umat manusia, dan satu-satunya jawaban bagi saya adalah sosialisme.

Ya, mungkin opini saya kali ini terlalu impoten dan masih jauh dari kapasitas jurnal akademis karena keterbatasan data dan keamatiran saya dalam menulis. Namun saya rasa tulisan saya mampu menjadi hipotesis awal yang bisa dipertimbangkan sebagai penelitian lanjutan.

Mungkin kita bisa mengingat-ingat kembali suatu film dokumenter yang sempat viral beberapa waktu lalu, Sexy Killers. Disini kita bisa memberikan salah satu gambaran bagaimana kompetisi yang dihasilkan oleh kapitalisme sudah tidak mampu menghasilkan inovasi bagi perkembangan kehidupan umat manusia, karena adanya monopoli dan konsentrasi ekonomi yang melahirkan oligarki.

Saya rasa, terlalu naif jika kita kembali menitik beratkan persoalan ini pada permasalahan moral dan etika, dan kembali lari dari kenyataan bahwa oligarki adalah produk dari kapitalisme. Kesenjangan sosial yang mereka ciptakan juga membuat perbedaan kekuatan politik antar individu dalam satu tatanan demokrasi yang berimbas pada penguasaan suatu kelas yang dominan terhadap negara.

Di film itu bisa kita lihat bagaimana kelas yang dominan mengkonsentrasikan kekayaan mereka dalam suatu grup atau korporasi, sekaligus memegang jabatan dalam pemerintahan.

Negara sebenarnya bisa saja memberikan subsidi panel surya dan juga mengalokasikan dana riset pada sumber daya alternatif sembari meminimalisir penggunaan batu bara, tapi hal ini menjadi mustahil karena ternyata usaha batu bara sendiri dimonopoli oleh orang-orang di lingkar kekuasaan, sehingga mereka akan fokus kepada tujuan untuk memberikan keuntungan bagi usaha yang mereka miliki (Batu Bara).

Jelas saja mereka tidak mau mengalokasikan dana untuk inovasi terhadap sumber daya baru yang ramah lingkungan karena hal itu tidak menguntungkan bagi mereka. Maka kompetisi bukan lagi bertujuan untuk memunculkan inovasi, tapi justru berimbas pada monopoli dan eksploitasi.

Yang mana yang bisa memonopoli pasar, dia yang menang.

Bagi saya, inovasi tidak melulu lahir dari kompetisi antar individu, namun dari kontradiksi kita dengan alam. Contoh: anggap, kita masih menggunakan pembangkit listrik (Thesis), namun ternyata pembangkit listrik tenaga batu bara mulai memberikan kerusakan terhadap lingkungan (Anti-Thesis), maka kita membuat inovasi dan melakukan riset terhadap sumberdaya baru yang terbarui dan ramah lingkungan (Synthesis).

Hal ini hanya mungkin kita lakukan jika kita kerjakan secara kolektif dan terbebas dari kepentingan pasar serta akumulasi modal. Maka satu-satunya jalan adalah menyingkirkan kepentingan-kepentingan itu dari negara dengan menyingkirkan kelas yang mendominasi negara dari kepemimpinan mereka dan mengambil alih alat produksi dari tangan mereka.

Mustahil jika kita melakukan hal ini sedang negara mempunyai kepentingan dari kelas yang mendominasi, yang mungkin akrab kita sebut sebagai oligarki untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa oligarki adalah representasi dari kepentingan kelas borjuasi.

Sudah saatnya kita mencari alternatif baru untuk menyelamatkan bumi ini dan kepentingan anak cucu kita mendatang, dan yang paling memungkinkan adalah sosialisme.


Syarif Atamimi, kontibutor

No more articles