Kotaku Tak Layak Huni
ilustrasi. Journal/Adi Ariy
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Tak tertampik, jalanan memang penuh sampah. Hari ini, bertemu polusi lebih mudah daripada menemuimu. Tak perlu mencari kemanapun, ‘ia’ ada dimana-mana. Anak-anak rusak, terus mengendus sesuatu di balik kaos kedodorannya, kadang mereka frontal menggunakan plastik. Mengerti apa yang mereka endus, kan? Klise. Hidup di kota memang sangat keras.

Tapi apa kalian mengerti mengapa mereka lebih sibuk mengendus daripada belajar? Di usianya yang masih dini, bermain pun tak lagi halal. Semua karena kerakusan si pemilik akses, tentu saja.

Pernah aku dan seorang teman berdiri di pinggir jalan, menunggu angkot 121 untuk pulang ke rumah. Tak lama, seorang anak dengan tubuh kurus kering dan kaos oblong khas ‘golongannya’ mendekati kami meminta uang. Angin membongkar habis rahasianya. Di atas bahu rapuh yang gemetar itu, ia simpan penyambung hidupnya. Aku terkejut dan segera memberinya uang. Namun temanku lebih merasa penasaran.

“Kau dapat uang dari orang-orang, bukannya membeli makanan malah beli ini?” Anak itu menatap temanku dengan emosi yang tertahan. Matanya kemudian berkaca-kaca. Aku tersayat melihat itu. Saat seusianya, aku bahkan tak tahu bagaimana caranya menyapu rumah.

“Lebih banyak tangan yang mengusirku daripada yang memberi uang. Mana cukup untuk hidup normal. Ini murah dan ampuh untuk tidak merasa lapar.” Dia menunjuk sesuatu di atas bahu kirinya itu kemudian berlalu setelah mengucapkan terimakasih.

Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Kita hanya membuncit bersama dalam alasan yang berbeda, yaitu memakan yang batil dan kehilangan yang memang  hak. Satu persatu temanku keluar masuk penjara, tertahan di panti rehabilitasi, parahnya banyak dari mereka bahkan hilang tak pernah ku dengar kabarnya lagi. Entah kehidupan keras bagaimana yang mereka jalani.

Katanya kotaku hari ini tak layak huni. Namun memang benar, jalanan berlubang di sana-sini, tumpukan sampah di setiap sudut, kadang berani ‘mereka’ hijrah ke jalan raya. Memangkas habis nilai seni dan keunikan khas yang dulu selalu berhasil menarik pengunjung dari berbagai negara. Banjir yang tak pernah usai, walau pembangunan drainase terus berjalan sepanjang tahun. Semua seolah mati. Orang-orang hidup bagai zombie. Aku bahkan lupa hijaunya rumput di lapangan bola atau jernihnya air sungai di belakang rumah. Kini, airnya bahkan menyerupai kopi.

Walau kotaku hari ini tak layak huni, aku pertama kali jatuh hati di sini. Anak-anakku masih harus belajar budayanya. Entah masa kecil bagaimana yang akan mereka jalani nanti, jika hidup dan tumbuh di kota ini. Tapi walau  ‘kau’ telah divonis mati, aku berharap ini hanya mati suri. Semoga para ‘dokter’ itu segera tertampar melihatmu dan mengembalikan detak jantungmu.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email