Lahirnya Joko Pinurbo Sebagai Seorang Penyair

Lahirnya Joko Pinurbo Sebagai Seorang Penyair
Lahirnya Joko Pinurbo Sebagai Seorang Penyair. Arsi | Journal
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

LPMJOURNAL.ID – Berawal dari buku karya sastrawan ternama Indonesia, Sapardi Djoko Damono yang berjudul Dukamu Abadi, Joko Pinurbo mulai jatuh cinta pada dunia persajakan. Ia menggaris bawahi setiap kata yang terdapat di dalam buku tersebut dan membedah maknanya. Diakuinya, dia berkali-kali membeli buku dengan judul yang sama, karena begitu jatuh cinta dengan setiap diksi yang digunakan Sapardi.

Joko Pinurbo atau yang akrab disapa Jokpin kemudian mulai haus pada sajak-sajak lain. Dia pergi ke pasar untuk membeli koran dan majalah bekas setiap ada jam kosong di asrama, tempat ia menempuh pendidikan SMA khusus bagi anak-anak yang akan menjadi Pastor. Tumbuh sebagai anak yang lugu dan jujur, Jokpin diharapkan orangtuanya untuk menjadi seorang Pastor di masa depan. Namun karena kegemarannya menulis dan membaca, ia lebih memilih menjadi penyair. “Saya dan orangtua saya memiliki cita-cita. Mereka ingin saya menjadi Pastor, tetapi itu kan bukan cita-cita saya. Saya bilang cita-cita saya menjadi penyair.” Ungkapnya saat sedang melakukan ibadah puisi, di Basabasi Cafe Condongcatur.

Pengertian ibadah puisi sendiri diadaptasi Jokpin dari ibadah puasa, yang mana kita harus menahan rasa lapar dan nafsu duniawi lain ketika sedang menulis, membaca ataupun membicarakan soal puisi.

Belajar Sajak dari Penyair Lain

Jokpin kemudian mulai mempelajari sajak-sajak dan puisi yang ditulis oleh penyair lain, mulai dari Remy Sylado hingga Yudhistira. Dia mengaku kaget bahwa puisi memiliki begitu banyak cara untuk ditulis. Setiap menemukan diksi yang indah dan menarik perhatiannya, dia catat di buku catatannya. Tujuannya agar ketika kelak menulis sajak, kata itu tidak dia gunakan. Jokpin menyebut kegiatan catat mencatatnya itu sebagai investasi diksi dan frasa.

Sebelum menjadi seorang penyair terkenal, Jokpin sudah menulis puisi dalam jumlah yang banyak. Hanya saja pada suatu waktu, dia membakar ratusan karya lamanya itu. “Saya malu jika draft pertama puisi saya dibaca orang.” Terangnya. Meski begitu, tidak semua puisi-puisi di awal karir kepenyairannya itu dimusnahkan. Kita masih bisa membaca sajak-sajak awal Joko Pinurbo di dalam buku Bulu Matamu: Padang Ilalang. Walau beberapa diksi memang telah  diganti demi efisiensi dan pengelompokan kata yang lebih tepat, namun sajak-sajak itu dipermak tidak secara radikal dan tetap mempertahankan kesatuan makna awalnya.

Jokpin mengamini bahwa apa yang telah dia baca sangat berpengaruh dalam merubah jalan hidupnya. “Saya merasa kalau saya tidak membaca buku Dukamu Abadi, mungkin saya tidak akan menjadi saya yang sekarang ini.” Ucapnya seraya mengenang masa-masa awal perjalanan karirnya. Masa-masa ketika dia harusnya mempersiapkan diri menjadi seorang Pastor tetapi malah menggeluti kesendirian untuk menulis bait demi bait yang kemudian melahirkan puisi.

Jokpin mengatakan jika ingin menjadi seorang penyair dan sastrawan maka setiap hari harus menulis, terlepas dari bagus atau tidaknya. Proses kreatif itu dia analogikan sebagai petani, yang kadang panennya begitu melimpah namun kadang juga sama sekali tidak ada. Meski begitu, dia mengingatkan untuk tidak menyerah “Setiap hari harus mencangkul, entah akan panen atau tidak.” Jokpin juga memberi tahu bahwa bulan yang bagus untuk menulis puisi adalah bulan yang namanya berakhiran –ber. “Bulan yang ada –ber nya itu bulannya para sastrawan. Karena bulan-bulan itu sedang basah-basahnya, alias hujan.” Ucapnya.

Namun Jokpin juga menegaskan bahwa cinta dan air mata saja tidak cukup untuk menghasilkan karya yang bagus, “Puisi Chairil Anwar bagus bukan karena dia jatuh cinta ataupun patah hati, tetapi karena dia memang paham bagaimana konsep puisi.”

Jangan Terlena dengan Popularitas

Ketika ditanyai tentang pandangannya terhadap popularitas, dia mengatakan bahwa popularitas memiliki dua sisi yaitu menyenangkan dan merepotkan. Menyenangkan karena popularitas baginya adalah sebuah istilah lain bahwa ada banyak orang yang mencintainya. Dan merepotkan karena popularitas menyita kesunyiannya sangat banyak. Namun dia mengaku senang bila ada yang mengenali dan meminta tanda tangan atau foto bersamanya. “Saya memberikan foto dan tanda tangan, sebagai amal kepada sesama manusia. Saya senang karena mereka menerima karya saya.” Tambahnya. Jokpin juga mengingatkan untuk tidak terlena dengan popularitas, bahwa jangan sampai popularitas itu mengalahkan kualitas karya yang dihasilkan.

Reporter : Rany

Redaktur : Rany

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email