Ilustrasi Liberalisme dan Milenial
Ilustrasi Liberalisme dan Milenial. Repro/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Akhir-akhir ini, bisa kita rasakan dampak dari perbuatan kaum reaksioner dan moralis konservatif yang semakin brutal dalam merampas hak-hak dasar kita sebagai individu. Kelakuan mereka juga yang kemudian membuat generasi milenial menjadi panik dan paranoid dalam melakukan aktivitas-aktivitas mereka. Namun, kepanikan dan ketakutan mereka juga-lah yang kemudian semakin meng-alienasi mereka dari realitas sosial.

Mereka kemudian melupakan permasalahan-permasalahan keadilan yang tidak berkaitan dengan perilaku dari segelintir kaum reaksioner ini.

Berkaitan dengan esai saya yang berjudul “Hoaks dan Hantu Politik”, momen ini kemudian dimanfaatkan oleh elit politik. Melalui media-media yang menjadi kepanjangan tangan mereka, elit politik semakin membesar-besarkan masalah ini, meningkatkan kengeriannya, dan mengalihkan isu dari permasalahan-permasalahan sosial yang akan mengancam oligarki mereka jika tersebar dimuka umum. Momen ini juga dimanfaatkan oleh buzzer politik dengan membuat citra “progressif” kepada “pemimpin” mereka, dan menggaet milenial naif yang masih belum paham akan kenyataan yang terjadi di belakang layar.

Hak-hak individu memang sudah menjadi landasan dalam sebuah demokrasi. Milenial sudah sadar akan hal ini dan juga sudah mulai peduli dalam permasalahan-permasalahan HAM. Sayangnya, banyak dari mereka yang terperangkap oleh abstraksi dan menganggap pelanggaran hak terhadap individu hanya disebabkan oleh kebudayaan-kebudayaan “usang” yang kemudian melanggengkan kemunduran dalam pola pikir masyarakat.

Sayangnya juga, kepedulian ini hanya sekedar bentuk ketakutan dari mereka yang kemudian membuat mereka menjadi individu yang egois.

Mereka semakin malu dengan kebudayaan mereka dan menuhankan ideologi dan kebudayaan Barat yang mereka anggap sebagai kanon (tolak ukur) untuk mencapai kemajuan sebuah negara. Secara buta, mereka mendambakan setiap aspek ideologi dan kebudayaan yang ada secara mentah, mulai dari sistem ekonomi, hingga tren yang terjadi di sana.

Hal ini juga yang kemudian membuat milenial terperangkap dalam ilusi kebebasan yang ditawarkan oleh liberalisme. Mereka terperangkap oleh “kebebasan” individu yang ditawarkan dalam film-film Hollywood. Satu hal yang mereka lupakan, kebebasan tak akan pernah ada tanpa keadilan. Tanpa keadilan, kebebasan tak ubahnya sebuah lelucon yang dipentaskan dalam panggung ludruk.

Dan liberalisme, tak menginginkan kebebasan apapun selain kebebasan pasar untuk merusak dan mengeksploitasi sumberdaya alam dan membelenggu kaum buruh serta kaum tani yang tak mendapatkan akses untuk berdaulat di atas tanah mereka sendiri. Bagaimana mungkin sebuah kompetisi dinyatakan “adil” saat akses yang diterima oleh setiap orang sudah berbeda sejak lahirnya.

Bagaimana mungkin seorang anak buruh dapat berkompetisi dengan seorang anak tuan tanah yang mendapatkan segala akses untuk membentuk pendidikan mereka. Dan jika beasiswa dianggap sebagai salah satu jawaban, bagaimana mungkin beasiswa dapat diandalkan untuk mengakomodir setiap anak di-Indonesia yang tak memiliki dana untuk kuliah, bahkan sekedar untuk menamatkan SMA?

Maka jawaban dari saya adalah, pasar harus dikontrol dengan ketat agar pasar tidak mengontrol kita dan menentukan setiap senti dari takdir kita. Dan kita juga bisa belajar dengan budaya-budaya leluhur yang kita anggap “usang” dan konservatif. Budaya yang selama ini mengajarkan kita apa inti dari kolektivisme.

Budaya yang selama ini mengajarkan kita untuk menjadi masyarakat komunal yang mengutamakan kepentingan bersama ketimbang kepentingan individu. Budaya yang akan selalu melawan jika terjadi penindasan. Kita harus memperdulikan yang lain, dan berhenti untuk memperdulikan diri kita sendiri. Merakit kembali semangat kolektif dan sosialis yang sudah menjadi identitas kita sedari dulu.

Berhenti mendengarkan omong kosong dari buzzer dan influencer yang memerangkap mereka dalam realita palsu, dan mulai membaca media-media alternatif yang memberikan fakta tentang kebusukan rezim yang bersekongkol dengan oligarki dalam mempertahankan dinasti mereka.

Tulisan opini berjudul “Liberalisme dan Milenial” ini merupakan kiriman kontributor dengan nama pena Kanon. Jika kamu juga memiliki sedikit kegelisahan, kamu dapat menuangkannya melalui LPMJOURNAL.ID atau simak mekanisme pengiriman tulisan disini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email