lpmjournal.idSiang menjelang sore, tepatnya pukul 14.10 WIB, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia Dewan Kota (PPMI DK) Yogyakarta menyelenggarakan lokakarya pada Sabtu (11/05).

Bertempat di Gedung Badan Wakaf lantai 3, Lokakarya tersebut bertema “Digital Branding Management” dengan dua pemateri: Sigit Budhi Setiawan yang merupakan CEO & Founder Etnolab dan pemimpin redaksi Mojok.co, Agus Mulyadi.

Lokakarya PPMI DK Yogyakarta dibuka oleh Alfarisi dari LPM Rhetor yang bertindak sebagai pranatacara. Kemudian dilanjut dengan sambutan oleh penanggung jawab acara, Marlina dari LPMT Fenomena yang menyampaikan sambutannya dengan ucapan terimakasih kepada para peserta dan juga pembicara.

Setelah memberikan sambutan, jalannya acara diambil alih oleh Willy dari LPMT Fenomena yang juga bertugas sebagai moderator acara. Baru setelah itu Sigit menyampaikan materi “Digital Branding Management”.

Pentingnya SEO dan Berpikir Layaknya Homeless Media

Sigit menjelaskan bahwa korelasi antara teks, foto dan judul harus ‘klop‘. “Temen-temen menjadi editor di media konvensional, di buku atau majalah atau sejenisnya paling mengecek EYD. Di dalam mesin hari ini, tidak hanya itu yang dicek, tetapi bagaimana konten, judul dan sebagainya, bisa menjadikan Search Engine Optimization (SEO) bagus.”

Menurutnya, tidak cukup hanya dengan memiliki situs yang bagus, tetapi ‘nyampah‘ dimana-mana juga penting. Nyampah dalam arti memiliki banyak akun termasuk akun non-resmi untuk memanfaatkan pranala balik (backlink).

Jika berbicara mengenai brand, yang terbesit dalam pikiran hanya mengenai logo, tetapi tidak hanya itu, jelas Sigit. Ia menguraikan brand disini adalah kita, “kita semua adalah brand“. “Jadi brand dan sebagainya itu kan ‘ngapusi‘, hoaks yang membangun.” lanjutnya.

Berbicara media, secara umum, secara kelembagaan tidak ada untungnya sama sekali, dari hal tersebut maka kini muncullah homeless media. Perilaku dimana pengunjung harus membuka situs, sosial media, atau akun-akun marketplace untuk membeli suatu produk merupakan suatu cara yang usang. Sigit menyebut perilaku tersebut sebagai perilaku media yang so yesterday.

Sigit menyampaikan bahwa kini, media-lah yang membutuhkan pengunjung, bukan pengunjung yang membutuhkan media, inilah yang ia sebut sebagai homeless media.

Homeless Media mendobrak ke-baku-an dan esensi dari situs pengamat ranking ‘Alexa Rank’ yang hanya terfokus pada data traffic.

Sigit memaparkan bagaimana terciptanya engagement yang mempengaruhi Alexa Rank. “Engagement itu tidak hanya seberapa banyak orang share, komen, like, membuat reaksi dan sebagainya, tetapi view-nya juga mempengaruhi”.

Cara Homeless Media Mendapatkan Uang

Media yang eksis secara konvensional—seperti yang telah disinggung sebelumnya, tetap penting, bagaimana sebuah situs dengan SEO yang bagus, namun yang perlu diperhatikan juga yakni sisi ke-homeless-an dari media tersebut.

Saat menjelaskan alasan mengapa media kelembagaan bangkrut, Sigit memaparkan bahwa baik produksi maupun sirkulasinya tidak mencukupi dalam mengembalikan keuntungan, lain halnya dengan media kelembagaan dengan jumlah pekerja yang sedikit ataupun outsourcing karena dapat mengurangi pengeluaran kedua hal tersebut.

Hari ini banyak platform yang dapat dimonetisasi untuk mendapatkan uang yang sangat luar biasa, terang Sigit.

Beragam cara dapat dilakukan; pembuatan web series dan menggandeng suatu produk; selain menggunakan Google Adsense juga dapat memanfaatkan Facebook Instant Article, namun syaratnya yakni harus memiliki facebook pages yang terawat.

Selain berupa tulisan, konten video juga dapat dimanfaatkan untuk mendulang pundi-pundi rupiah, namun tentu harus memiliki pengikut yang tidak sedikit.

Sigit melanjutkan, dalam ‘mahkamah Kapitalisme‘, konten artikel dalam Google Adsense merupakan strata terendah. Ia menyamakan iklan dengan nalar jurnalisme saat ini yang hanya terfokus pada tiga keyword: darah, air mata dan air mani. Dalam pembuatan konten pun, dituntut untuk tetap otentik dan tidak melakukan copy-paste.

Branding Media Hari Ini

Secara umum, branding media tidak melulu membicarakan mengenai jurnalisme, tetapi juga bagaimana relasi kepada publik, pemasaran, dan di sisi lain juga terkait dengan antropologi, etnografi maupun konsumen.

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, yang dirangkum katadata.co.id menyebutkan pengguna internet terbanyak berasal dari kelompok usia produktif, yakni rentang usia 19-34 tahun, atau sekitar 49,52%.

Itu sebabnya Sigit sekali lagi menjelaskan pentingnya Homeless Media dan menyebutkan bahwa penggunaan internet melalui platform Deskrop atau laptop sudah so yesterday karena pengguna media hari ini sebagian besar menggunakan gawai pintar untuk mengakses internet.

Sigit memperkirakan bahwa nantinya konten berupa video dan visual lebih mendominasi ketimbang konten dalam bentuk teks. Ia menjelaskan, Konten dalam bentuk teks sebenarnya juga sudah so yesterday, namun dengan masih adanya rezim SEO, Alexa Rank dan sebagainya membuat pegiat media dengan konten tulisan harus tetap menjaga itu.

Sigit menerangkan bahwa media konvensional bukan hanya berupa media cetak, namun situs daring juga dapat dikategorikan media konvensional. Mengapa? Karena pengunjung masih harus mencari berita dengan mengunjungi sebuah situs daring.

Nantinya, ia melanjutkan, media-lah yang mencari orang. Ia memberikan gambaran bahwa Homeless Media yang menurutnya paling berhasil saat ini adalah Homeless Media dari Najwa Shihab dan Narasi.tv.

Hal tersebut lantaran, pengguna tidak perlu lagi untuk mengunjungi narasi.tv untuk mengetahui berita terbaru dari Najwa, melainkan berita-berita tersebut sudah tersedia menghiasi timeline kita sehari-hari.

Manajemen Branding Media Hari ini

Menurut Sigit, saat ini yang paling penting untuk dibangun adalah Storytelling Pers Mahasiswa (Persma). “Pers Mahasiswa ini harus hadir di tengah-tengah antara media mainstream yang konvensional dan media kekinian yang Homeless atau yang individu, tetapi kalian mempunyai cita-cita politik sebagai pers mahasiswa.

Dimana yang kalian produksi itu bukan hanya teks-teks biasa, jika kalian bertarung dengan hardnews ataupun Mojok.co pasti kalah, mereka punya uang, sumber daya manusia dan sebagainya. Pers Mahasiswa di Jogja ini ada banyak, kalian harus membangun storytelling yang baru.”

Ia melanjutkan, “Orang itu, sudah melihat pers mahasiswa, asumsinya adalah aktivis, tukang bikin berita dan sebagainya itu paling ya main-main, tidak ada seriusnya. Kalau dibandingkan dengan media umum juga kalah.

Selalu Image-nya kalah, padahal tulisan kalian, tanpa label pers mahasiswa, entah itu di hipwee yang juga diisi orang-orang seumuran kalian, atau dimojok, yang juga oleh orang-orang kalian, lebih mendapat legitimasi ketimbang yang ada label pers mahasiswanya. Nah itu branding yang paling mudah dilakukan.”

Menurut Sigit, pers mahasiswa harus sesuai dengan ekosistem digital hari ini. Selain itu, pers mahasiswa harus membangun storrytelling yang ingin dibangun mengenai seperti apa itu pers mahasiswa.

Apakah dengan liputan mendalam a la tirto.id, ataukah Persma digambarkan tidak memproduksi konten sampah seperti yang bertebaran di Internet.

Jurnalisme itu tidak selalu dalam bentuk 5W+1H yang tertulis.

Sigit mengistilahkan hal tersebut dengan Hegemoni Intelektual, bahwa teks skrip itu harus ditulis dalam bentuk ketikan. Produk jurnalistik tidak harus melulu selalu tulisan, melainkan bisa dalam bentuk lainnya, entah visual, video, ataupun yang lainnya.

Setelah pembahasan panjang lebar oleh Sigit Budhi Setiawan usai, Lokakarya dilanjutkan dengan pemaparan Agus Mulyadi mengenai Digital Branding Management Mojok.co.

Agus menjelaskan bahwa Mojok lahir pada tahun 2014, berawal dari tulisan orang-orang yang hanya diterbitkan di Facebook dan tidak mungkin menembus dapur redaksi media besar.

Ketika itu, konten Mojok berkutat pada isu agama dan politik, namun kalah pamor dengan Kompas yang juga memiliki konten serupa. Akhirnya konten-konten bertema tersebut tetap  diangkat oleh Mojok, namun secara ‘receh‘.

Pada awal kemunculan Mojok.co, mereka sangat yakin dengan hanya memproduksi teks dengan sirkulasi melalui Facebook dan Twitter, namun ketidakfamiliaran generasi yang bukan lagi ‘muda ketua-tuaan’ dengan kedua platform tersebut membuat Mojok gagal meraih pangsa pasar anak muda, apalagi hanya berbekal tulisan.

Menurut Agus, Jurnalisme yang hanya mengandalkan tulisan itu memiliki masa depan yang suram. Hal tersebut lantaran anak muda cenderung lebih menyukai visual ketimbang teks, dan Mojok sudah mulai berbenah ke arah sana.

Setelah Pemaparan dari Agus dan sesi tanya jawab, maka usai sudah Lokakarya Persma Jogja pertama dengan tema “Digital Branding Management” ini. Terakhir, pemberian kenang-kenangan kepada kedua pembicara oleh Sekertaris Jendral Persma Jogja dan Penanggung Jawab Lokakarya.

Lokakarya Persma Jogja Digital Branding Management. Dokumentasi/Panitia Lokakarya Persma Jogja

Sekjend PPMI Jogja, Sri Wahyuni (kanan) sedang bersalaman dengan Sigit Budhi Setiawan (kiri).Dokumentasi/Panitia Lokakarya Persma Jogja

Lokakarya Persma Jogja Digital Branding Management. Dokumentasi/Panitia Lokakarya Persma Jogja

Marlina (kanan) selaku Penanggung Jawab Lokakarya memberikan kenang-kenangan kepada Agus Mulyadi (kiri).Dokumentasi/Panitia Lokakarya Persma Jogja

No more articles