Login With Google

Sampul buku Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer karya Taufiq Rahman yang dominan satu warna mengingatkan saya pada buku Matematika 2c saat di bangku sekolah dasar (SD).

Esai pertama “Five Leaves Left: Musik Bunuh Diri yang Indah” mengisahkan para musisi bunuh diri. Salah satunya, Nick Drake asal Cambridge berumur 24 tahun. Ia ditemukan tergeletak tak bernyawa ditemani obat antidepresan.

Nick Drake memiliki genre musik folk akustik. Saya baru mengetahuinya saat membaca buku ini. Saya bukan penikmat musik folk barat, tapi selalu mendengar musisi lokal Indonesia, seperti  Efek Rumah Kaca, Iwan Fals, Rhoma Irama, dan paling jauh mendiang Gombloh.

Dalam buku ini saya tertarik pada esai “Kenapa Lagu Protes Iwan Fals, Slank, Rhoma Irama Berhasil?” Namun, menurut Bob Dylan tidak ada yang dinamakan sebagai lagu protes sosial atau Protest song. Hal ini senada dengan yang ia katakan “This here ain’t a protest song” sebelum menyanyikan “Blowing in the Wind” disetiap pertunjukan.

Selain itu, Tom Robinson seorang penulis lagu politis yang terkenal pada dekade 1970-an, berpendapat bahwa protest Song hanya untuk menguatkan latar belakang karier politik, agar dianggap pintar dan ingin dianggap eksis.

Membahas Protest song, ada kategorisasi yang sering dibicarakan. Secara de facto, lagu semacam “American Idiot” (Green Day) bergenre rok, “Dead Flag Blues” (Godpseed You Black Emperor) bergenre post-rock. Sedangkan, di dalam negeri ada “Rima Ababil” (Homicide) yang bergenre rap, selain itu ada “Di Udara” (Efek rumah kaca) yang bergenre indie rock alternative, lagu berkisah bagaimana kerasnya hidup seorang pembela hak asasi manusia seperti Munir harus meregang nyawa.

Begitu pula dengan musisi, seperti Iwan Fals, Slank, dan raja dangdut Rhoma Irama yang kebetulan sering menulis lagu protes sosial yang kadang malah meledak sebagai lagu hit.

Terlepas apa pun yang dikatakan tentang dangdut sebagai genre musik asli Indonesia atau istilah lain adalah “Dangdut is the music of my country”. Rhoma Irama yang kerap membawakan pesan-pesan anti kerusakan moral, demokrasi, dan hak asasi manusia. Hal ini menjadikan dangdut mudah diterima di khalayak masyarakat Indonesia. Dangdut Merupakan gabungan dari musik melayu deli dan variasi lagu India dengan sedikit bumbu heavy metal. Kelas pekerja merupakan basis massa Rhoma Irama yang sebelumnya musik melayu hanya bisa di nikmati oleh segelintir kelas menengah.

Lantas, bagaimana dengan Iwan Fals yang pertama kali datang dengan strategi minimalis dengan hanya bersenjata gitar akustik. Sama seperti Bob Dylan, Iwan Fals menambahkan musik elektrik pada pertengahan karier bermusiknya. Kekuatan bermusik Iwan fals bukanlah suara merdu yang mendayu-dayu. Tetapi, Iwan berhasil menciptakan standarnya sendiri dalam bermusik dengan ciri khas bermain gitar dan piawai mengunakan harmonika. Kekuatan Iwan Fals ada dalam hal puisi-puisi sakti dengan kekuatan kata-katanya yang sulit di tandingi.

Lain Iwan Fals lain Slank, grup band Indonesia yang berhasil menciptakan sebuah sikap, gaya hidup, dan tren bahasa nyeleneh yang dikenal dengan slengean atau dengan kata lain. rock ‘n roll lifestyle.

Berkat gaya hidup yang diterapkan sehari-hari itu menjadikan mereka memperoleh banyak pengikut. Bahkan, band yang menyebut penggemarnya dengan istilah slankers, sengaja membangun citra demi melawan label besar, serta menciptakan lagu kritik sosial untuk menguatkan kesan bahwa Slank merupakan grup band dengan gaya nyeleneh.

Buku karya Taufiq Rahman ini membuat saya mengenal tak sekedar musisi dalam negeri, melainkan juga musisi luar negeri. Contohnya, Nick Drake musisi yang mati muda asal Cambridge. Di lain hal, saya tidak menemukan kelarasan antara judul buku dan isi. Seharusnya, menggunakan judul Lokasi Ditemukan karena keterangan lokasi berupa nama kota sudah sangat mudah di temukan pada setiap esai.

Judul : Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer
Penulis : Taufiq Rahman
Editor : Harlan Bin
Penerbit : Elevation Books
Cetakan : Ketiga, April 2017
Tebal : 212 halaman
ISBN : 978-602-7673-335

Nantoi80 yang akrab di sapa dengan Dwi atau Nanto, lahir di Jakarta, 3 September 1997. Ia merupakan seorang yang suka dengan olahraga, terutama futsal dan sepakbola, sekaligus fans fanatik Liverpool FC. Mahasiswa yang memiliki kesukaan terhadap makanan berupa mie ayam tanpa ayam ini menempuh studi sarjana satu di jurusan Informatika, Universitas Amikom Yogyakarta. Nanto bisa disapa melalui email: [email protected] dan  twitter serta Instagram @nantoi80.

No more articles