Saya tidak mengaminkan setiap kegelisahan dalam diri, sebab mereka mengamini itu sebagai tradisi yang patut lestari. Saat orang-orang tahu bahwa orang tua saya memiliki tiga anak perempuan, sebagian besar dari mereka terkejut, menyayangkan, dan juga kasihan. Menganggap bahwa bapak saya salah pilih bini. Lalu ibu menguatkan dirinya dengan dalil-dalil agama perihal keutamaan memiliki tiga anak perempuan.

Saya harus berteriak, ketika sepupu laki-laki cukup mengucapkannya secara pelan untuk didengar pendapatnya. Ada amarah yang bergejolak dalam diri, dilahirkan dengan vagina bahkan di luar kehendak saya. Memang salah, kalau saya terlahir seperti ini?

Saya tidak suka ketika segerombolan orang memandangi saya, di suatu sudut gerdu saat pulang larut malam selepas les di waktu SMA. Begitupun ketika kakak saya memutuskan untuk menikah muda, desas-desus hamil di luar nikah menyerbak ke penjuru desa. Ketika pangkas pendek dan bukannya rambut panjang, ketika kulit berbulu tersengat matahari bukannya putih mulus, ketika warna gelap menjadi pilihan pakaian dan bukannya warna pastel, tidak dianggap menjadi perempuan yang sebenarnya’.

Aturan tak tertulis yang mengatakan bahwa perempuan itu anggun, patuh, tidak berkata kasar, bisa masak, menyukai warna merah muda, tidak pulang larut malam, dipilhkan dan tidak memilih, serta standar masyarakat lain dapat mengkerdilkan perempuan sebagai manusia. Saya coba definisikan ulang diri saya. Menentukan mau jadi apa? Kenapa? dan Bagaimana? Lambat laun tanpa sadar saya sendiri yang mengambil peran dalam pengkerdilan itu sendiri.

“Ribet banget sih dia,” batin saya saat melihat perempuan membawa koper besar dan tas punggung untuk kegiatan satu minggu saja. Atau kernyitan di dahi saat melihat mereka yang memilih menggunakan makeup bold, sembari membisikkan pada diri, “Ngga mau begitu, terlalu cewek banget,” padahal bisa jadi polesan tersebut menjadi bagian apresiasi terhadap diri mereka sendiri yang terbentuk dari tradisi.

Internalized misogyny, keadaan di mana tanpa sadar saya memproyeksikan ide-ide seksis ke perempuan lain dan bahkan ke diri saya sendiri. Ketika seorang lelaki dengan eksibisionis dikabarkan memperlihatkan penisnya kepada perempuan di sebuah halte,  lalu si pembaca berita mengomentari,

Kalau saya jadi mbaknya, sudah saya tendang itu alat kelaminnya,” barangkali perempuan tersebut memiliki alasan-alasan tertentu yang menghalangi dirinya untuk melawan secara fisik.

“Perempuan itu terlalu banyak drama, menye-menye, dan baperan. Meskipun saya juga perempuan, tapi saya tidak seperti kebanyakan perempuan, karena itu saya lebih nyaman berkawan dengan lelaki”

“Penyiksaan kok bawa-bawa Tuhan, emang Tuhan kurang kerjaan apa?” Nayla, dalam Monolog 3 Perempuan.

“Kalau saya jadi mbaknya,” atau “Saya tidak seperti kebanyakan perempuan,” menjadi salah satu prolog dari internalized misogyny. Mendefinisikan secara sempit seseorang dengan gender tertentu. Hal ini juga dapat menjadi gerbang utama mewajarkan bahwa kekerasan seksual yang terjadi disebabkan oleh perempuan yang dianggap diam saja; tidak melawan; tidak berpakaian seperti yang telah diatur oleh Tuhan.

Saya nyaman dengan kaos yang digunakan, dan barangkali perempuan bergaun kuning yang saya lihat di gerbong kereta saat itu juga nyaman dengan gaunnya. Saya nyaman tanpa sunscreen atau sunblock, dan barangkali perempuan lain nyaman menggunakannya.

Mengaminkan bahwa diri kita memiliki kegelisahan, tidak harus menjadi standar yang dibuat oleh masyarakat jika tidak nyaman. Kita boleh untuk tidak melestarikan tradisi yang membuat tidak nyaman. Tidaklah perlu meremehkan, dan merendahkan, ketika memiliki cara yang berbeda dalam berekspresi tentang eksistensi diri.

No more articles