Login With Google

LPMJOURNAL.ID – Sabtu (20/07/19) lalu, sosialisasi mengenai magang bagi program studi (Prodi) Diploma 3 (D3) Manajemen Informatika (MI) dan D3 Teknik Informatika (TI) diselenggarakan di aula Business Student Center (BSC) Universitas Amikom Yogyakarta. Sosialisasi tersebut merupakan hasil tindak lanjut dari usulan Prodi D3 untuk mengadakan magang.

Hanif Al Fatta, selaku Ketua Prodi (Kaprodi) D3 MI mengatakan bahwa magang bagi prodi D3 tidaklah wajib untuk diambil, melainkan bersifat pilihan. Jika pun enggan untuk mengambil magang, mahasiswa dapat menggantinya dengan mata kuliah (matkul) pilihan lain dengan Satuan Kredit Semester (SKS) yang setara.

“Kalau tidak bisa, dapat mengganti dengan mata kuliah pilihan lain yang setara dengan empat SKS” ucapnya.

Ditemui di waktu yang berbeda, Melwin Syafrizal mengatakan bahwa, “magang itu dilakukan sebagai kredit enam belas SKS. Enam belas SKS itu minimal dilakukan 4 bulan dan maksimal 6 bulan.” Ucap pria yang menjabat sebagai Kaprodi D3 TI tersebut.

Melwin juga menambahkan bahwa kedepan ia diminta untuk menambahkan rekomendasi magang dengan opsi lain selain enam belas SKS, yakni delapan SKS dan empat SKS.

Kesiapan dan kendala

Dilihat dari kacamata lembaga, program magang harus memiliki kesiapan yang matang sebelum dapat dijalankan kepada mahasiswa. Persiapannya sendiri banyak melibatkan elemen kampus: mulai dari Prodi jurusan yang harus menyiapkan kurikulum; dosen yang harus menyiapkan diri untuk kemudian dapat membimbing mahasiswa; DAAK selaku administrasi yang harus dapat mencatat kegiatan, dan; sistem informasi yang harus mengetahui metode pelayanan untuk mahasiswa yang mengambil magang.

Kesiapan lain yang telah dilakukan oleh Prodi D3 yakni perihal pedoman, aturan, serta berkas-berkas telah disiapkan. Selanjutnya yang masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh lembaga adalah menyangkut sistem informasi kampus yang dirasa belum siap.

Seperti yang diutarakan oleh Melwin yang juga merupakan Kaprodi S1 Teknik Komputer (Tekkom) yang mengatakan bahwa, “sistem informasi universitasnya yang belum ready untuk mendata siapa yang magang, siapa yang di tempat magang itu, mengambil topik A, itu kan harus ada catatan. Sementara ini kita bikin di sistem kita sendiri,” pungkas pria dengan kepala plontos ini.

Mengenai penggunaan aplikasi penyimpan awan Drive untuk pendataan dan pendokumentasian terhadap animo mahasiswa yang mengambil magang. Melwin berharap semua dokumen tersebut dapat terintegrasi dengan kampus. Hal tersebut lantaran pihak Prodi masih membangun sendiri aplikasi untuk mendata mahasiswa yang mengambil program magang.

“Harapannya ini kalau bisa di develop sama kampus,” kata Melwin mengakhiri.

Mengenai sifat magang sebagai matkul pilihan dan bukan merupakan matkul wajib, Hanif menyarankan kepada mahasiswa yang dirasa tidak siap untuk proses magang —seperti kesulitan mencari tempat untuk magang atau kesibukan menyesuaikan dengan target magang— dapat mengambil matkul pilihan lainnya.

Alasan lain dijadikannya magang sebagai mata kuliah pilihan selain kesulitan mahasiswa dalam mencari tempat untuk magang, juga untuk mengantisipasi tertundanya waktu kelulusan mahasiswa.

“Kalau mendapatkan tempatnya saja susah berarti kan dia (mahasiswa, -red) secara otomatis ada beberapa bulan yang tidak efektif. apalagi kalau dia sampai terlambat mendapatkan tempat magang itu sampai satu tahun atau satu semester, berarti itu akan menunda kelulusan dia.” Ucap hanif ketika ditemui di ruang Kaprodi gedung enam lantai tiga.

Sulitnya mencari tempat magang

Menyiasati kesulitan tempat yang dihadapi oleh mahasiswa, pihak Prodi mencoba mengantisipasi hal tersebut dengan berkoordinasi dengan perusahaan yang menjadi mitra Amikom. Tentunya selain mencari sendiri tempat magang pilihan mahasiswa.

“Ada beberapa list perusahaan yang sudah ada di kita, tapi memang dari yang kemarin ada mitra Amikom yang siap dan tidak. Mahasiswa bisa mencari sendiri (tempat magang ,-red) atau mahasiswa bisa mencari berdasarkan rekomendasi kita”.

Mengenai sulitnya mencari tempat, Dian Ratri (17.01.3918) yang tahun ini mengambil matkul magang. Ia mengatakan bahwa, “ada juga sih, kan jadi kita enggak dapet referensi dari kampus, jadi kita bener-bener cari sendiri. Nah padahal kaya gitu kan lama, dan belum tentu perusahaannya sesuai harapan dan standar dari kampus. 

Selain terdapat kendala dalam mencari tempat magang, aturan mengenai lokasi magang juga sedikit berbeda antara Prodi D3 TI dengan Prodi D3 MI.

Jika lokasi magang untuk Prodi D3 MI dibatasi hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lain halnya dengan Prodi D3 TI yang telah mencakup pulau Jawa, seperti yang diungkapkan oleh Melwin, “kalau D3 TI, sudah ada yang permohonan (magang, -red) ke Jakarta, Surabaya, dan Semarang.”

Melwin menambahkan bahwa tidak dapat dipungkiri jika kedepan, lokasi magang dapat mencakup wilayah yang lebih luas lagi.

“Rekomendasi di pulau Jawa, tetapi dimungkinkan ke depan memang kita buka juga untuk luar pulau Jawa sampai luar negeri.” tutupnya.

Pengalaman tambahan

Dengan program magang ini, harapan dari Hanif yakni mahasiswa dapat memperoleh pengalaman di tempat magang yang tidak didapatkan di dalam kelas sembari menambah relasi dengan perusahaan tempat mahasiswa magang.

Keuntungan lainnya terletak pada saat penyusunan laporan Tugas Akhir (TA) bagi mahasiswa D3. Yakni dengan menjadikan perusahaan tempat mahasiswa melakukan magang sebagai objek penelitian.

“Ketika magang itu selesai maka tugas akhirnya selesai tinggal menulis laporan tugas akhirnya saja. Dari tempat magang mereka akan mendapatkan surat bahwa mereka pernah menempuh proses magang selama setiap jam dan itu akan kita jadikan dasar sebagai keluarnya nilai sebagai mata kuliah magang dan sebagai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) dimana mereka sudah pernah (magang, -red)”.

Mahasiswa akan belajar bagaimana bekerja di perusahaan tempat ia magang. Untuk itu, pesan dari Melwin kepada mahasiswa yang mengambil matkul magang yakni mahasiswa harus dapat memposisikan diri sebagai pekerja di tempat magang.

Ia (Melwin) menambahkan bahwa dengan magang, mahasiswa juga akan belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab. Tidak hanya bagi mahasiswa, melainkan juga untuk perusahaan maupun institusi tempat mahasiswa tersebut magang.

“Kalau mahasiswa kan dia mau ngerjain tugasnya atau tidak itu nanti paling ngaruh ke nilai. Kalau di tempat magang dia enggak kerja, itu akan berpengaruh kepada operasional. Dia enggak bisa main-main disitu, ada tanggung jawab yang diemban lebih besar.”

Dalam pengambilan matkul magang, Dian mengatakan jika awalnya memang rumit karena harus mengurus proposal. Namun dengan mengambil magang, nantinya hal tersebut akan mempermudah pembuatan TA.

“Kalau ambil TA kita harus nentuin sendiri apa yang mau kita buat, gimana sistemnya, dan syaratnya ga boleh ketinggalan jaman. Maksudnya harus lebih bagus daripada projek kakak tingkat sebelumnya.” Ungkap Dian.

Tidak mengganggu kuliah, asal..

Dian mengaku tidak ada masalah dengan jadwal kuliah dan magang, “enggak juga, kan dah ga ada kuliah wajib.  Tinggal besok pilihan saja,  kalo selama nyari sih aku enggak keganggu juga, ya intinya pinter-pinter manage pasti bisa enggak keganggu.”

Komentar serupa juga ditujukan oleh Dedy Hermawan (17.01.3918), ia mengatakan, “kalau mengganggu (kuliah, -red) enggak sih, soalnya magang sudah termasuk jam kuliah. Jadi kita full magang dan enggak ada kuliah waktu magangnya.” sebut Dedy yang kini magang di perusahaan Imersa.

Kepada seluruh mahasiswa yang mengambil matkul magang, Melwin berharap agar mahasiswa dapat mengambil pelajaran di tempat magang mengenai bagaimana bisnis itu mulai dibangun dan akhirnya bisa terus tumbuh seperti saat ini.

Pengalaman-pengalaman yang diperoleh mahasiswa di tempat magang tidaklah diperoleh sewaktu di kuliah. Melalui tempat magang, juga dapat menjadi modal bagi mahasiswa jika di kemudian hari ingin membangun perusahaan sendiri. Melwin sedikit menyentil mengenai mahasiswa yang ingin segera lulus sekaligus mendambakan memperoleh pekerjaan dengan cepat.

“Rugi banget sebenarnya, andaikata mahasiswa yang pengen lulus cepat dan kemudian pengen kerja cepat setelah lulus tapi enggak punya experience untuk bagaimana kerja di sebuah perusahaan.” ucap Melwin.

Untuk itu, Ia menekankan perihal kuliah tepat waktu, “kuliah tepat waktu bagus agar mahasiswa belajar bagaimana dia (mahasiswa, -red) memanajemen waktu serta ngejar target.” Tutup Melwin.

Reporter: Ahmad Fadlilah, Ersla Agung
Penulis: Adi Ariyanto
Editor: Bayu Utomo
No more articles