Merayakan Hari Anak Nasional di Kota

Ilustrasi : Journal | Adi
Ilustrasi : Journal | Adi
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Setiap 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN) Indonesia sejak 1984. Peringatan ini, salah satu tujuannya untuk menghormati hak-hak yang dimiliki tiap anak. Namun apakah tiap anak sudah mendapatkan haknya dengan benar?

Nyatanya hingga hari ini, masih banyak anak yang belum mendapat haknya karena beberapa hal. Dalam memenuhi hak anak, peran orangtua tentunya sangat diperlukan. Ada banyak cara yang diterapkan para orangtua untuk mendidik, membesarkan, dan memberikan hak anaknya.

Orangtua

Di kota, ada dua jenis orangtua yang paling menonjol, yang pertama adalah orangtua yang hidup dengan ideologi perkotaan. Orangtua jenis ini biasanya menjunjung tinggi hak pendidikan yang dimiliki anak. Pendidikan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Mulai dari di mana anak akan bersekolah, apa saja ekstrakurikuler yang harus diikuti anak, hingga les yang harus dihadiri anak sepulang sekolah, dikontrol langsung oleh orangtua.

Anak yang tumbuh dari orangtua jenis ini pada umumnya kehilangan hak bermain dan berekspresi karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menimba ilmu. Para orangtua yang menganut ideologi ini adalah mereka yang memiliki jenjang karir bagus dan berasal dari kalangan elite. Pekerjaan dan status sosial yang tinggi inilah yang membuat mereka kemudian menjadi sutradara dalam hidup anaknya, agar anak tumbuh sesuai harapan dan nantinya tidak menjadi ‘aib’ bagi keluarga.

Adapun jenis orangtua yang kedua adalah orangtua yang angkat tangan terhadap apapun yang terjadi pada anaknya. Mereka adalah kaum membutuhkan yang hampir tidak pernah mendapat santunan. Tidak ada kemauan untuk melepaskan tanggungjawab sebagai orangtua, namun keadaan menyudutkan mereka untuk melakukannya.

Anak yang lahir dari orangtua dan kondisi gelap perkotaan ini hampir tidak pernah menerima haknya. Mereka tidak sibuk menuntut ilmu apalagi bermain, karena harus mencari uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari bisa berbicara, anak sudah harus menghidupi dirinya sendiri, karena ketidakmampuan orangtuanya untuk menafkahi.

Sulitnya mencari pekerjaan akibat pendidikan yang terbatas membuat para orangtua jenis ini melakukan segala hal untuk bertahan hidup, mulai dari membuka usaha kecil-kecilan, bekerja sebagai asisten rumah tangga, pengumpul barang rongsok hingga menjual diri. Meskipun pada akhirnya, tetap saja tak ada hak anak yang mampu mereka penuhi.

Kedua jenis orangtua di atas adalah yang paling sering ditemui di perkotaan. Hal ini mengkonfirmasi bahwa masih banyak sekali anak yang kehilangan haknya, bahkan anak yang berasal dari kalangan atas pun mengalaminya. Namun bukan berarti semua orangtua di kota memperlakukan anaknya seperti itu, masih banyak orangtua yang mampu mencukupi hak dan kebutuhan anaknya sesuai porsi.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email