Nasionalisme (rasa patriotik) diartikan sebagai “Imagine Community” oleh Benedict Anderson. Imagine community sendiri menurut pengertiannya adalah sebuah komunitas yang saling berbagi bayangan satu sama lain melewati konstruksi sosial yang dibentuk sehingga menciptakan pola pikir bahwa mereka tergabung dalam ilusi bernama negara.

Maka dari itu saya mampu mengatakan Indonesia sebagai sebuah mimpi, mimpi bisa menjadi mimpi buruk dan mimpi baik. Pada kenyataannya, Indonesia merupakan mimpi baik bagi segelintir kecil orang yang melihat Indonesia sebagai peluang profit yang sumber daya alam dan manusianya mampu dieksploitasi dengan mudah.

Namun bagi sebagian besar lainnya, Indonesia adalah mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Yang mereka ketahui tentang Indonesia adalah jejakan sepatu militer dan popor M-16 yang tak henti membentur kepala mereka yang menolak untuk diam.

Mudah bagi kita yang hidup bergelimbang privilese untuk mengungkapkan rasa nasionalisme kita terhadap negara. Karena bagi kita yang tak pernah merasakan penggusuran di Kulon Progo, Indonesia adalah mimpi baik yang memberikan kita kesempatan untuk hidup Bahagia.

Namun, apakah hal yang sama juga didapati oleh pedagang kaki lima yang tergusur di Gondomanan? Saya rasa bukan kewajiban mereka untuk mengumandangkan Indonesia Raya, karena Indonesia pada kenyataannya adalah alat yang digunakan untuk meludahi mereka.

Indonesia tak memiliki wujud karena Indonesia hanyalah mimpi, wujudnya Indonesia adalah manusia yang mewakili hukum dan pembagian kekayaan, mereka yang kemudian dibayangkan dengan aparat, hakim, dan pemerintah, yang kemudian membuat ilusi tatanan masyarakat yang dinamakan sebagai sistem.

Mungkin terdengar njelimet, tapi yang Namanya ide tentu saja sifatnya kompleks, tidak seperti materi yang mudah dipahami.

Lalu, apa yang harus kita lakukan?” Membangun sebuah ide bernama keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang berimajinasi tentang komunitasnya. Yang penting dalam suatu negara bukan bendera atau simbol-simbol lainnya, namun manusia dan sumber daya yang tersimpan didalam suatu wilayah.

Karena simbol, pengertiannya dapat berubah sewaktu-waktu. Pancasila dan merah putih contohnya; Di-era Soekarno, Pancasila adalah simbol perlawanan dari imperialisme dan kolonialisme, hal yang selalu digaungkan Soekarno dalam setiap pidatonya.

Di-era orde baru, penafsiran dari Pancasila berubah menjadi Soeharto itu sendiri. Siapa yang tidak menuruti aturan main Soeharto, maka tentu mereka adalah musuh dari Pancasila.

Dan di-era reformasi sekarang, penafsiran bagi Pancasila berubah menjadi nasionalisme buta yang selalu mendukung rezim, sistem, dan perangkat-perangkatnya, tidak peduli meskipun apapun yang mereka lakukan adalah pengrusakan, penggusuran, dan eksploitasi sepihak.

Sistem yang harus kita rubah, bukan hanya penafsiran dari ide saja. Metode kepemilikan, pembagian kekayaan, dan hukum yang harus berjalan dengan patron keadilan dan kemanusiaan.

Perumusan ulang tentang apa saja yang menjadi hak-hak manusia. Meruntuhkan tatanan-tatanan lama yang kolot, yang sudah terlalu lama menguasai kita hingga masuk ke dalam pemikiran-pemikiran kita melalui media-media yang mereka dapatkan lewat kekuasaan, mereka ini yang kemudian dinamakan oligarki.

Seluruh proses perombakan langsung ini yang kita namakan sebagai Revolusi. Saat semua ini sudah kita laksanakan, baru nasionalisme yang berwujud mimpi tersebut berubah menjadi materi yang nyata dan mampu dinikmati oleh semua orang secara kolektif.

Jika tidak, maka selamanya nasionalisme hanyalah omong kosong belaka dan tidak memberikan dampak apapun bagi kehidupan manusia selain perusakan, kehancuran, dan kebencian satu sama lain seperti yang terjadi di Papua. Mereka-mereka yang akhirnya jadi korban dari NKRI harga mati.

No more articles