PENCEGAHAN STRESS DAN DEPRESI DALAM SEGENGGAM GAWAI
PENCEGAHAN STRESS DAN DEPRESI DALAM SEGENGGAM GAWAI

Teknologi, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi didengar saat ini. Dimana seperangkat alat elektronik buatan manusia diciptakan untuk mempermudah segala macam pekerjaan, dengan berbagai macam teknik, teori, serta dasar – dasar ilmu pengetahuan. Tetapi bagaimana jadinya bila Teknologi di fungsikan sebagai dasar dari ilmu medis? Terutama dalam dunia psikologi dan kejiwaan.

Tentunya teknologi yang dimaksud adalah sistem telekomunikasi berupa Internet. Berdasarkan hasil survey Asosialsi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017, tercatat penggunaan internet dalam bidang kesehatan sebesar 51,06% untuk mencari informasi kesehatan. Kemudian 14,05% untuk konsultasi dengan para ahli kesehatan secara online. Dari  informasi tersebut penggunaan internet dalam bidang kesehatan hanyalah sebatas konsultasi.

Belum lagi menghadapi krisis berupa kesenjangan sosial yang mengakibatkan penurunan produktivitas manusia dalam jangka panjang. Hal tersebut terjadi karena faktor biologis, psikologis, serta kultur sosial yang berbeda. Membuat tingkat depresi, stres, dan penderita gangguan jiwa di dunia kian meningkat.

Menurut data WHO (2016) mencatat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, dan 47,5 juta terkena dimensia. Kesehatan jiwa masihlah menjadi problem atau masalah yang signifikan di dunia, maupun Indonesia sendiri.

Bahkan pada tahun 2013 hampir 6% penduduk Indonesia mengidap depresi dan kecemasan dalam rentang usia 15 tahun. Sementara gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000 orang.

Maka hal terpenting dalam penanganan gangguan jiwa adalah melakukan pencegahan dengan berbagai metode yang cocok pada masyarakat. Salah satunya dengan sentuhan teknologi.

Berbeda dengan zaman dulu dimana orang yang terkena masalah kejiwaan akan dipasung, dirantai, dan diasingkan atau bahkan harus menjalani serangkaian metode pengobatan ekstrem.

Teknologi kini mulai ambil bagian dalam pengembagan medis khususnya dalam pencegahan serta pengobatan penderita gangguan kejiwaan.

Beberapa peneliti melakukan terobosan baru dengan alat yang diberi nama DBT (Dialectical Behavior Therapy) SELF HELP adalah aplikasi berbasis Android dan iOS. DBT dapat digunakan di berbagai media termasuk telephone seluler, tablet dan iPod.

Penemuan tersebut bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan dalam pengobatan gangguan jiwa karena masalah pikiran, stress, gangguan emosional, gangguan makan, gangguan bipolar, diagnosa suicide, penyalahgunaan zat adiktif atau psikotropika.

Sayangnya aplikasi ini tidak dianjurkan untuk dioperasikan oleh orang awam, tetapi oleh terapis yang mengetahui dasar – dasar penggunaan DBT. Tetapi orang awam pun juga bisa mengoperasikanya apabila sudah mendapatkan penjelasan dan pembinaan terlebih dahulu.

Cara kerja aplikasi ini adalah dengan mencantumkan link yang terhubung pada terapis baik melalui website, e-mail, maupun nomor telepon seluler.

Yang kedua adalah RCTs (Randomized Controlled Trial) adalah model Internet Mobile Intervention atau IMI yang berfungsi untuk menurunkan Mayor Depresion Disorder (MDD) pada pasien penderita nyeri punggung kronik. Prinsip yang dipakai IMI adalah sistem CBT (Cognitif Behavior Terapy) yang dilakukan selama 6 minggu dengan 406 orang.

Responden yang sudah mengikuti semua sesi IMI sebanyak 78,3% dan 82,2%. Penelitian tersebut difungsikan untuk membuktikan IMI cocok dalam pencegahan depresi pada pasien penyakit kronis. Jika terbukti efektif, maka akan di kembangkan lagi untuk menangani pasien dengan panyakit kronis lainya.

Yang ketiga, adalah penelitian dari hasil systematic review dan metanalisis dalam  artikel – artikel yang dipublikasikan dari tahun 2000-2016. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui efek dari penggunaan e-Health dalam mencegah depresi dan kecemasan.

Review yang dilakukan oleh Naslund dkk terhadap beberapa artikel di Medline, PsychINFO, CINAHL, Scopus, Cochrane Central dan Web of Science tentang kesehatan jiwa berbasis e-Health dan m-Health menggunakan ponsel, online, atau perangkat lain.

Hasil scoping review dari 105 artikel jurnal terpublikasi dengan topik penggunaan perangkat smart (Smartphone) dan aplikasi mobile (Mobile Aplication) yang merupakan bagian dari e-Health. Tujuannya adalah untuk memberikan analisis dari penggunaan, khasiat, dan cara pencegahannya.

Terakhir adalah penelitian dalam program myCompass. MyCompass adalah program kesehatan masyarakat yang sangat efektif. Dimana dapat memfasilitasi perbaikan secara cepat dalam mengatasi gejala fungsi sosial pada penderita masalah kesehatan mental.

Pengobatan psikologis tersebut disampaikan melalui ponsel dan komputer, yang dirancang untuk mengurangi depresi ringan sampai kecemasan dan stres, juga meningkatkan kerja serta fungsi sosial.

Ponsel sebagai media pengobatan psikologis berbasis telepon memungkinkan secara real time dapat dijangkau secara luas untuk pemantauan diri dan manajemen diri dalam mengatasi masalah. Namun, penemuan tersebut hanya difokuskan pada gejala ringan dan sedang.

Semua teknologi baru tersebut memfokuskan sistematika penggunaan dengan smartphone karena dinilai lebih praktis serta hampir semua kalangan memilikinya.

Ditambah dengan gaya hidup masyarakat sekarang yang seakan tak pernah dapat dipisahkan oleh gawai, seperangkat peranti dengan fungsi praktis berukuran kecil.

Tentunya fungsi dari alat tersebut akan lebih efektif dengan adanya internet. Maka dari segi pencegahan serta penanggulangan penyakit gangguan kejiwaan, dapat di katakan sangat baik untuk masyarkat dengan perkembangan budaya sekarang.

No more articles