Pengabdian Masyarakat, Sebuah Tawaran Untuk Masyarakat Amikom

Pengabdian Masyarakat HIMMSI Amikom
Ilustrasi. Journal/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Saya penasaran. Saya ingin tahu. Sebenarnya, ‘pengabdian masyarakat’ itu seperti apa?

Berangkat dari rasa penasaran, saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi panitia di pengabdian masyarakat Himpunan Mahasiswa Manajemen Informatika dan Sistem Informasi (HIMMSI) Universitas Amikom Yogyakarta.

Saya sendiri adalah mahasiswa Sistem Informasi (SI) di kampus yang dahulu dikenal dengan tempat kuliah orang berdasi.

Untuk pertama kalinya, saya berkeinginan untuk berbaur dengan individu maupun masyarakat yang lain. Namun bukan berarti saya melebur. Hanya ingin tahu saja, bagaimana reaksi mereka atas kejadian tertentu, bagaimana interaksi antar sesama, dan masih banyak lagi. Bukan berarti selama ini saya hidup menyendiri terasingkan dalam gua. Saya hanya tak menyukai bising yang memekakkan telinga.

Hari Pertama, Beradaptasi

Sabtu, 11 Mei 2019. “Ternyata, Jogja panas ya,” ungkap saya pada diri sendiri. Ya, ternyata Jogja memang begitu menyengat saat di siang hari. Apalagi di atas jalan raya, ditambah lagi keriwehan membawa barang bawaan.

Perjalanan dari kampus memakan waktu kurang lebih satu jam. Berangkat saat sang surya menyombongkan sinarnya, membuat saya sedikit kesal menghadapinya. Tujuan kami Sanggar Bocah Menoreh (SBM), berlokasi di Dusun Slanden, Banjaroyo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta. Sedikit yang saya tahu, SBM ini merupakan komunitas anak yang telah ada sejak lima tahun lalu, tepatnya pada 15 Mei 2014.

Jalan menuju SBM tidak semulus perjalanan indekos-kampus. Pasalnya, baru beberapa menit berjalan kami sudah berada pada padatnya kota Istimewa. Setelah melepaskan diri dari jerat kemacetan kota, pikirku, hambatan telah usai dan saatnya mataku dimanjakan oleh pemandangan hamparan sawah yang menawan.

Namun, belum lama saya berekspektasi, sadel motor yang saya tumpangi mulai tak nyaman. Jalanan lebar mulai mengecil, aspal halus berganti jalanan gronjal akibat perbaikan jalan. Dan bisa ditebak, mata yang sudah saya atur untuk melihat pemandangan menawan nyatanya tak menurutinya dan mulai beralih menatapi jalanan.

Setibanya di lokasi tujuan, kekesalan yang saya alami sebelumnya mulai menyurut. Satu persatu anak datang berdatangan, antusiasme mereka menjadikan semuanya seakan kembali putih.

Bermain, bertepuk tangan, bernyanyi, kami lakukan bersama. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Seakan melepas semua kepenatan yang dihasilkan riuhnya perkotaan.

Sore hari di SBM, diisi dengan mengecat tong sampah bersama, kemudian dilanjutkan dengan menanam beberapa bibit pohon dalam botol plastik bekas tak terpakai yang sebelumnya telah dipotong sedemikian rupa.

Mba.. mba.. itu tadi adikku loh. Namanya Ana,” ujar seorang anak kecil bernama Wanda kepada saya. Wanda sendiri kelak ingin menjadi seorang dokter, kata Wanda. Dengan raut dan suara yang begitu menggemaskan, Wanda mengatakan, yang baru saja lewat di hadapan kami adalah adiknya, adik kecilnya yang berada dalam gendongan. Dialog-dialog menyenangkan pun tak berhenti pada orang yang sama saja.

Saat akan memasuki waktu berbuka puasa, semua bersiap-siap; mencuci tangan, mempersiapkan meja, duduk rapi, dan lain sebagainya.

Yuk.. sebelum berbuka, kita berdoa dulu,” ujar salah seorang di tengah kerumunan.

Banyolan serta tawa, tak pernah absen dalam penantian kami menunggu azan magrib kala itu.

Setelah berbuka, anak-anak pun bergegas meninggalkan sanggar, entah akan menuju tempat ternyamannya; rumah. Atau menuju tempat peribadatan. Entahlah, saya tak dapat memastikannya.

Seusai melaksanakan salat magrib, panitia pun bersiap-siap untuk kembali ke titik awal, kampus. Pikirku keseruan hari ini akan berlangsung jua di malam harinya, namun tidak. Tapi tidak apa, kami pun berpisah untuk menuju tempat ternyaman kami masing-masing.

Hari Kedua, Bermain Kembali

Minggu, 12 Mei 2019. “Ternyata, jogja panas ya,” masih menjadi ungkap saya pada diri. Walaupun berangkat lebih awal dari hari kemarin, nyatanya kota pelajar ini tak berubah, tetap panas.

Cuaca memang tak berubah dari hari lalu, namun sudut pandang diri lah yang coba saya ubah. “sebentar lagi bertemu, sebentar lagi bertemu,” ucapku. Bertemu dengan teman-teman, dan belajar banyak hal dari mereka.

Hari kedua, diisi dengan belajar ecobrick. Apakah kamu tahu tentang ecobrick? Kalau belum, kamu bisa mencari tahu lengkapnya di internet hehe.

Tapi saya akan coba memberi gambaran singkat, kira-kira begini. Ecobrick, merupakan metode untuk mengurangi limbah anorganik. Caranya? Dengan memasukkan sampah anorganik kering ke dalam sebuah botol yang juga kering. Namun proses pemasukan sampah tersebut tidak ngasal. Semua ada ilmunya―kata seorang Saintis, melainkan sampah-sampah tersebut dijejaki menggunakan sebuah benda (seperti kayu) hingga begitu padat dan tidak bisa dimasukkan sampah anorganik lagi. Tujuannya, untuk menghindari botol yang telah terisi sampah tadi supaya tidak penyok saat dibuat sebuah kerajinan. Misalnya botol tadi akan dibuat sebuah kursi―tentu dengan botol-botol ecobrick lain, maka tidak rusak saat diduduki oleh orang lain.

Saya banyak belajar dalam pengabdian masyarakat pertama saya. Saya harap, ini bukanlah yang terakhir, dan berharap ada pengabdian masyarakat lain, kelak.

Terimakasih untuk HIMMSI yang telah memberikan saya kesempatan dalam kepanitiaan pengabdian masyarakat yang bertemakan lingkungan ini. Terimakasih juga untuk Willa Lutfi atau kak Weladalah―orang-orang menyapanya, atas pemberian edukasi tentang ecobrick. Terimakasih juga untuk teman-teman Sanggar Bocah Menorah. Terimakasih karena telah mau belajar bersama dan memberi pelajaran yang begitu luar biasa.

Ternyata, pengabdian masyarakat itu menyenangkan.

Sebuah Tawaran

Jawaban dari sebab saya mengikuti kegiatan ini. Tentu belajar tak hanya melulu dari dalam kelas, menatap monitor, mendengarkan penjelasan dosen bernada merdu sampai ketiduran pintar.

Meski dua hari tersebut begitu melelahkan, namun pengabdian masyarakat ini begitu memberikan pelajaran yang begitu banyak untuk saya, apalagi untuk kalian yang selama ini hanya terfokus pada persoalan akademis untuk mendapatkan selembar ijazah dan nilai A. Pun jika kalian belum pernah mengikuti pengabdian masyarakat, cobalah untuk sesekali mengikutinya dan merasakan keseruannya.

Teruntuk kalian yang pernah mengikuti pengabdian masyarakat, bagaimana pendapatmu? Apakah pengabdian masyarakat harus dijadikan sebagai agenda rutinan kampus? Dan sebaiknya lagi, pengabdian masyarakat jangan hanya diselenggarakan oleh kalangan organisasi saja. Monggo, sebuah tawaran untuk masyarakat Amikom. Tabik.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email