Login With Google

Kita mulai dengan tantangan bangsa dalam kehidupan bernegara, baik internal maupun eksternal. Pada konteks eksternal, persaingan antar bangsa yang semakin rumit menjadi pengaruh dari globalisasi. Ditambah munculnya kapitalisme yang meng–intervensi perumusan kebijakan nasional. Menilik tantangan etika kehidupan yang terjadi pada internal bangsa, seperti kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal, serta pengabaian kepentingan daerah sehingga muncul fanatisme daerah dikutip dari TAP MPR No.VI Tahun 2001.

Kedudukannya sudah jelas, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara untuk mengatur penyelenggaraannya dan elemen lainnya, warga negara. Pancasila dapat dimaknai sebagai sistem nasionalisme, meliputi aspek etika/moral, politik, ekonomi, sosial budaya dan keamanan dalam rangka mencapai cita-cita dan tujuan bangsa.

Melalui proses panjang perumusan lima sila ini bermula dari 1 Juni 1945 pada sidang pertama BPUPKI, dilanjutkan 22 Juni 1945 pada panitia sembilan lalu dirumuskan Piagam Jakarta, dan final-nya pada sidang PPKI 18 Agustus 1945 yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945. Proses itulah yang kita maknai sebagai proses kelahiran Pancasila sebagai dasar negara.

Selain itu, Pancasila sebagai way of life yang menjadi logis ketika berbicara pemersatu bangsa. Ketika nilai-nilai Pancasila ditanamkan pada masing-masing individu sebagai filosofische grondslag yaitu sebagai fondamen, filsafat maupun pikiran yang mendalam maka akan timbul rasa yang dinamakan nasionalisme.

Kemudian akan mengacu pada kemajuan bangsa. Sikap nasionalisme akan menjawab tantangan kehidupan berbangsa. Dengan begitu apakah Pancasila diterapkan dalam kehidupan bernegara saat ini?

Meraba dan Menggenggam Pancasila

“Pancasila seharusnya hadir untuk memperbaiki sifat dan perilaku manusia dalam situasi apa pun.”

Pancasila sebagai lumbung kehidupan, sebuah bangsa besar akan mencapai puncaknya (kemerdekaan) ketika mengamalkan pemahaman terhadap dasar negaranya yang mempersatukan ribuan kepala di tengah kekacauan perbuatan penjajah.

Seharusnya bangsa Indonesia belajar dari sejarahnya sendiri bahwa Indonesia adalah bangsa yang lemah dari segala segi pengetahuan dan Pancasila menjadi solusi bangsa Indonesia untuk hidup berbangsa dan bernegara.

Pancasila tidak hanya diucapkan dalam upacara besar di negeri ini akan tetapi pancasila harus terus menetap dalam jiwa dan raga bangsa Indonesia, karena bangsa yang merdeka adalah yang terus menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai inti dari kehidupan bangsa ini.

Namun yang terjadi sekarang adalah Pancasila hanya sebatas hafalan. Kita sudah terbiasa sejak mengenyam pendidikan sekolah dasar untuk hafal pancasila, karena pada tahap itu memang lebih baik menghafalkan, masih sulit bagi kita untuk memahami apa itu Pancasila. Pengetahuan kita pun diuji masih pada level ingatan.

Kebiasaan menghafal itu terbawa-bawa hingga sekarang kita dewasa. Dan lucunya, kita masih menjadikan hafalan Pancasila sebagai pemaknaan pada nilai Pancasila.

Butuh penghayatan tentang nilai-nilai Pancasila, aplikasi secara nyata kelima sila Pancasila, bukan sekedar hafal. Kita tak butuh lagi Pancasila yang berdiam dalam ingatan, kita butuh Pancasila yang nyata dalam tindakan.

Warga negara yang baik, bukan yang hafal Pancasila tapi yang menerapkannya secara nyata. Tidak cukup hanya mengingat, namun bukti nyata tindakan. Pancasila yang direfleksikan lewat tindakan bertuhan, perikemanusiaan, persatuan, jiwa kerakyatan dan penerapan prinsip keadilan.

Pancasila tak akan menjadi apa-apa jika hanya berada dalam ingatan, namun Pancasila akan menjadi nyawa jika kita terapkan dalam tindak nyata. Seberapa banyak di antara kita yang mampu menghafalkan Pancasila? Banyak. Namun seberapa banyak di antara kita yang mampu menerapkan Pancasila secara nyata? Jumlahnya pasti kalah banyak dari yang hafal.

Pancasila harus benar-benar menjadi identitas perilaku warga negara Indonesia, sehingga bangsa mana pun akan mudah mengenali warga negara Indonesia dari perilakunya yang Pancasila. Pancasila bukan lagi sekedar pengetahuan, tapi menjadi cara hidup warga negara Indonesia.

Sudah sepantasnya setiap penduduk Indonesia memegang teguh Pancasila sebagai cara hidup. Setiap warga negara menjadi perwujudan Pancasila. Tidak lagi menjadikan Pancasila sebatas hafalan, hanya ada dalam ingatan. Tetapi harus ada secara nyata dalam setiap tindakan. Sudah sepantasnya kita menjadi Pancasila yang sesungguhnya.

Beragam Terminologi dalam Melucuti Pancasila

Mendalami sila yang pertama pasti akan melibatkan sila kedua, ketiga, keempat dan kelima. Begitu pula menyelami sila kelima akan merangkul sila-sila lainnya.

Kita juga bisa memandang sila Pancasila melalui sudut pandang yang berbeda. Misalnya sudut pandang mana hulu mana hilir. Sila kelima adalah hilir, terminal akhir dari perjalanan keempat sila sebelumnya. Sedangkan hulunya adalah sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Cara pandang hulu hilir bisa juga diganti dengan struktur pohon: akar, batang, ranting, daun, buah. Sila pertama adalah akar di mana batang sila kedua, ranting sila ketiga, daun sila keempat dan buah sila kelima saling terkait.

Tersedia bermacam-macam terminologi untuk membedah Pancasila. Namun, penggunaan terminologi itu tidak dipakai untuk memecah keterpaduan dan keutuhan Pancasila.

Sila kelima merupakan output dari mekanisme kerja sila keempat. Dasar mekanismenya bertumpu pada nilai kerakyatan. Rakyat adalah pemilik sah negara ini. Mereka adalah juragan yang memberi mandat kepada para pejabat dan wakil rakyat.

Sumber nilai kepemimpinannya bertumpu pada hikmah dan kebijaksanaan melalui mekanisme musyawarah. Mekanisme tersebut tidak akan berjalan apabila tidak diikat oleh persatuan Indonesia.

Untuk itu, rasa kemanusiaan: sama-sama manusia, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, adil dan beradab menjadi modal untuk menjalin persatuan.

Sekat-sekat pembeda yang menghalangi hubungan kesetaraan antarmanusia lebur. Tidak ada yang merasa lebih kaya atau lebih miskin. Tidak ada yang merasa paling alim atau paling ngawur. Tidak ada suku yang lebih unggul dari suku lainnya.

Tidak ada yang menempatkan diri paling pintar atau paling bodoh. Semuanya lebur dalam kesetaraan sebagai hamba Tuhan Yang Maha Esa.

Pancasila di Tengah Pandemi

Hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dapat dikaitkan dengan kinerja komunikasi publik pemerintah dalam menangani pandemi yang disoroti oleh berbagai pihak. Problematika ini merupakan kontinuasi dari akumulasi persoalan sila ketiga, dua dan pertama yang nantinya berdampak pada output keadilan sosial pada sila kelima.

Lemahnya komunikasi tersebut imbas dari tidak berjalannya sila ketiga. Koordinasi antar pejabat yang semrawut, belum selaras untuk bersama mengatasi pandemi. Hal ini dikarenakan oleh kadar kemanusiaan di Negara ini yang mulai menipis akibat ditumpangi kepentingan politik, ekonomi dan kekuasaan. Para pejabat digaji, rakyat kehilangan pertimbangan kemanusiaan hingga pada akhirnya akar kejujurannya rapuh.

Budaya korupsi merupakan tontonan paling telanjang manakala akal jernih dan logika sehat yang membedakan manusia dengan hewan tidak berlaku lagi.

Seperti terminologi di atas, pada taraf ini manusia mengalami problem ketuhanan yang serius. Secara formalitas meyakini agama, namun secara substansial–nya belum terbimbing. Pertimbangan dalam menentukan sebuah pilihan sangat pendek langkahnya.

Hal ini mengakibatkan keadilan sosial pada sila kelima dalam hal keselamatan dan kesehatan manusia saat menghadapi pandemi jadi ikut semrawut.

Setiap alur keputusan dibimbing oleh kesadaran ketuhanan, kesetaraan kemanusiaan, kebersamaan persatuan, kepentingan kerakyatan dan kebahagiaan keadilan sosial. Lima pilar Pancasila harus benar-benar ditegakkan untuk menghadapi berbagai tantangan, mulai disintegrasi, pengentasan kemiskinan hingga persiapan memasuki pola hidup baru di tengah pandemi.

Sayangnya, setiap pilar dari lima sila Pancasila masih tersekat-sekat oleh sempitnya cara pandang dan kakunya sikap pandang.

Semoga dalam peringatan hari lahirnya Pancasila ini, kita menjadi manusia yang waras, tetap waras dan semakin waras. Kecuali yang tidak.

No more articles