Pergeseran Persepsi Makna Menuntut Ilmu

Ilustrasi Pergeseran Persepsi Makna Menuntut Ilmu
Pergeseran Persepsi Makna Menuntut Ilmu. Repro/Bayu Utomo
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ اِلىَ اللَّهْدِ

Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat

Hadis tersebut menjadi dasar dari ungkapan “Lifelong learning” atau pembelajaran seumur hidup. Jika kita mau mengamati, kehidupan di dunia ini seakan tidak pernah sepi dari kegiatan belajar, sejak mulai lahir sampai hidup ini berakhir. Tapi ada perbedaan pandangan mengenai substansi dari tujuan belajar dalam realitas sosial saat ini.

Bagi orang yang sudah mengenyam pendidikan baik formal maupun non-formal selama bertahun tahun pasti sudah akrab dengan kata belajar, belajar merupakan proses untuk memahami dan mengetahui sesuatu yang belum kita ketahui. Seseorang bisa memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Tuhan memberi anugerah kepada manusia berupa akal dan pikiran, sehingga manusia bisa berfikir.

Pada saat ini ada dua sudut pandang dalam memaknai tujuan belajar dalam dunia pendidikan formal. Pandangan pertama menganggap bahwa tujuan belajar itu untuk memperoleh nilai yang bagus. Sedangkan pandangan kedua memandang bahwa tujuan belajar adalah untuk memperoleh ilmu sebanyak mungkin.

Nilai dalam perspektif pendidikan formal

Bagi orang yang menganggap nilai sebagai tolak ukur sebuah kepandaian, maka orang tersebut hanya memandang bahwa belajar tidak untuk mendapatkan ilmu atau memperdalam pengetahuan, sehingga mereka menganggap bahwa nilai itu segalanya. Ini terjadi karena mindset sebagian masyarakat kita, pendidik kita, pemerintah kita, menjadikan nilai sebagai tolak ukur kepandaian. Seperti, berlakunya nilai ijazah untuk masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, nilai ijazah juga menjadi pertimbangan bagi pimpinan perusahaan dalam menerima pegawai baru.

Dalam dunia pendidikan formal nilai menjadi indikator untuk mengukur kemampuan seseorang, tanpa adanya nilai, kemampuan seseorang tidak dapat diukur secara pasti. Bagaimana mengetahui seseorang mampu menuju jenjang yang tinggi jika tidak ada ukuran yang konkret. sehingga nilai dijadikan acuan seberapa banyak pengetahuan yang didapatkan. Inilah yang menjadi landasan perspektif masyarakat bahwa nilailah yang menentukan masa depan kehidupan. Pemerintah pun seakan mengamini hal tersebut, bisa dibuktikan dengan dijadikan hasil ujian nasional sebagai acuan  keberhasilan siswa dalam belajar.

Adanya pergeseran substansi belajar di perguruan tinggi saat ini, belajar tidak lagi menjadi prioritas untuk mahasiswa. Contoh sederhana, bisa kita lihat di kampus kita tercinta. Sebagian mahasiswa hanya berpikir pragmatis. Mereka memikirkan bagaimana memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) setinggi-tingginya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan tujuan belajar. Seperti memenuhi persyaratan dosen dengan mengutamakan presensi maupun menyontek demi nilai yang memuaskan. Padahal seperti yang kita ketahui bersama, bahwa kedua hal tersebut tidaklah dapat dijadikan tujuan dalam belajar, yaitu memperoleh pengetahuan.

Penutup namun bukan akhir

Memang dengan menyontek seseorang (terkadang) dapat meraih nilai bagus, tapi jika nilai yang bagus itu tidak diimbangi dengan perolehan ilmu yang tinggi, maka nilai itu tak berarti. Lihat saja pada realitas sosial ketika mahasiswa terjun ke masyarakat. yang berguna di masyarakat adalah mereka berilmu tinggi, bukan mereka yang ber-IP tinggi. Jika hanya mengandalkan nilai, maka bersiaplah tergilas oleh perubahan zaman, tapi jika mengandalkan ilmu pengetahuan, semua mimpi pasti akan bisa diwujudkan.

Kesimpulannya adalah manfaat nilai hanya bisa dirasakan sesaat, tapi manfaat ilmu pengetahuan bisa kita rasakan sampai akhir hayat.

Sebagai penutup, izinkan penulis menyematkan kutipan Catatan Najwa yang bikin melek generasi muda sekarang.

Belajar tentu keharusan yang tak boleh diabaikan.
Namun merugilah jika belajar disempitkan semata perkuliahan.
Nikmati kehidupan kampus dengan terus mengasah,
Jangan habiskan waktu dengan terus berkeluh kesah
Karena kalian adalah anak-anak muda pilihan
Yang berkesempatan mereguk dalamnya sumur ilmu pengetahuan
Bacalah sebanyak banyaknya buku, jangan main gadget melulu.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email