Login With Google

Tiap Sabtu dan Minggu sore, Akhmad Yovi Widiyanto menjadi penghuni tetap lapangan sepak bola (alun-alun) Desa Bangsri, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara. Di areal pedagang kaki lima dan tempat bermain anak-anak, ia dan teman-temannya melakukan hal yang berbeda.

Berbekal buku-buku yang dibawanya menggunakan tas ransel gunung, mahasiswa 20 tahun bersama temannya itu langsung menempati trotoar di pinggiran lapangan. Buku-buku tersebut kemudian dijejerkan di atas banner bekas yang ia bawa. Di pohon-pohon pinggiran lapangan, dipasangi spanduk dan kertas penanda gerakan literasinya: Adventure Book Jepara.

Sebagai pemuda yang peduli dengan literasi, Yovi prihatin terhadap masyarakat, khususnya pemuda yang belum memiliki minat baca. Buku seolah menjadi beban akademis di sekolah tanpa fungsi peningkatan kualitas kompetensi seseorang untuk kehidupan ke depannya. Maka bersama teman-temannya, ia berusaha meluruskan itu.

“Banyak orang yang punya minat baca sebenarnya, tapi mereka belum bisa menjangkau buku. Tidak sedikit pula yang berani mendatangi rumah baca yang ada. Kami membawakan buku-buku tersebut,” kata mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI Jakarta Timur ketika ditemui, Minggu (02/08/2020).

Indonesia termasuk negara yang minat literasinya rendah. Hasil studi World’s Most Literate Nations yang diterbitkan Central Connecticut State University menunjukkan, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara –kedua dari peringkat terbawah setelah Bostwana.

Sementara para pendiri bangsa Indonesia ialah para penggila buku yang melahap berbagai jenis buku. “Miris memang. Dengan cara ini mungkin bisa menyebarkan virus membaca dengan baik,” ujarnya.

Gerakan literasi yang dikelola Yovi dan teman-temannya, tersedia kurang lebih 150 buku dari bermacam genre. Semua buku yang disediakan berasal dari kantong Yovi sendiri dan donasi teman-temannya.

“Semua ini (buku) dari kita. Buku saya sendiri dan koleksi dari teman-teman. Kita juga mempersiapkan semua ini dengan sukarela,” kata Yovi.

Beberapa kali, ia mendapatkan buku dari pembaca. Bagi Yovi, pemberian buku dari pembaca akan sangat berarti bagi ia dan teman-teman pegiat gerakan tersebut.

“Pernah beberapa kali dikasih buku dari yang baca. Biasanya mereka baca, kemudian balik bawa buku. Buku apapun itu,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ruang baca yang ada di Jepara sangat minim. Sebagian besar rumah baca yang ada di Jepara hanya sekedar persinggahan singkat tanpa tujuan utamanya, yakni meningkatkan minat literasi.

“Kebanyakan rumah baca yang ada di Jepara hanya sekedar tempat mengadakan acara. Mereka terlihat gerakannya jika ada acara. Setelah itu, mereka bubar. Tidak ada kelanjutannya,” ungkapnya.

Melihat realitas tersebut, Yovi menghadirkan buku di tengah masyarakat secara langsung. Hal tersebut juga dinilai meminimalisir kemungkinan anak-anak malu ke tempat baca tersebut.

“Ketika buku-buku terjejer kaku di rak-rak sunyi gedung perpustakaan, Adventure Book membuat buku berada di keramaian. Mendobrak gaya lama perpustakaan yang identik dengan petugas yang marah ketika pengunjung berisik, atau pembaca yang menyendiri di antara tumpukan buku, atau kungkungan ruangan persegi,” jelasnya.

Analis dengan pegiat perpustakaan jalanan menabrak pakem tersebut. Mereka berusaha agar buku bisa dibicarakan di ruang publik, agar buku bisa lebih hidup dan bermanfaat.

Dengan adanya ruang baca tersebut, Yovi berharap akan ada ruang lainnya, seperti ruang diskusi untuk membahas permasalahan yang ada di daerah.

“Tujuan awalnya juga menginginkan teman-teman yang aktif di masyarakat punya forum berdialog. Nantinya juga aku bisa belajar dari mereka yang punya kapasitas untuk menyelesaikan permasalahan daerah,” harapnya.

Namun setelah beberapa bulan dibukanya Adventure Book Jepara masih nihil harapan itu. Yovi menganggap masyarakat di Jepara kurang kesadaran akan permasalahan di daerah sendiri.

“Mereka masih berpikiran bahwa gerakan seperti ini cuma sebatas agenda peningkatan literasi. Padahal sebenarnya sikap kritis dan kesadaran akan permasalah daerah juga akan terbangun dengan sendirinya,” tambahnya.

Sementara itu, pemerintahan Jepara sedang mengupayakan pembangunan budaya baca masyarakat. Salah satunya melalui pencanangan Gerakan Indonesia Membaca (GIM) yang diselenggarakan di Jepara baru-baru ini. Dengan pencanangan ini harapanya dapat mendukung enam literasi dasar.

Ketua Pengurus Daerah Forum Taman Bacaan Masyarakat Muhammad Hasan mengatakan GIM sendiri dimaksudkan sebagai upaya membangun budaya baca masyarakat untuk mendukung pelaksanaan enam literasi dasar (literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan). GIM ini diselenggarakan secara lintas sektoral dengan melibatkan berbagai pihak seperti lembaga/instansi pemerintah, swasta, organisasi sosial, kemasyarakatan, keagamaan, kepemudaan, profesi, satuan pendidikan formal dan nonformal, organisasi mitra PAUD dan Dikmas.

Selain itu, GIM juga mendorong partisipasi pemangku kepentingan dan masyarakat untuk berperan serta dalam meningkatkan jumlah melek huruf. ”Di Jepara, selain didukung oleh OPD seperti Disdikpora Jepara, Bappeda Jepara, Diskarpus Jepara, dan Diskominfo Jepara, GIM melibatkan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) yang menaungi 25 komunitas TBM yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Jepara, Asosiasi Guru Pegiat Literasi (AGPL) Kabupaten Jepara, dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Jepara,” tuturnya.

Terkait pencanangan gerakan literasi tersebut, merujuk aktivitas grup literasi Jepara yang diikutinya, Yovi mengatakan bahwa belum ada pembahasan mengenai cara meningkatkan minat literasi.

“Di grup tersebut juga ada Den Hasan (Muhammad Hasan), pembahasannya cuma share informasi-informasi buku dan share link-link video. Belum ada teknis peningkatan literasi di Jepara,” imbuhnya.

Reporter: Adi Ariy

No more articles