Perubahan Tradisi Debat Pasangan Capresma dan Cawapresma

Perubahan Tradisi Debat Pasangan Capresma dan Cawapresma. Foto/Chandra
Perubahan Tradisi Debat Pasangan Capresma dan Cawapresma. Foto/Chandra
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email

Debat calon presiden mahasiswa (Capresma) dan calon wakil presiden mahasiswa (Cawapresma) sekaligus penutupan masa kampanye Pemilwa pagi tadi diadakan di Basement V, Universitas Amikom Yogyakarta (28/11/2019). Kegiatan Debat ini diadakan oleh Panitia Pemilwa untuk menjalankan salah satu jenis kampanye yang tercantum dalam Undang-Undang Pemilwa.

“Kita coba merealisasikan 2 poin ini, dimana yang poin kedua, orasi, itu kan jarang, kita coba realisasikan pada tahun ini. Sebelum masa kampanye itu dimulai, kita panaskan kampanye dengan orasi pada hari Senin minggu kemarin,” jelas M.Rifqi Despian selaku ketua panitia Pemilwa.

Terkait kurangnya antusias mahasiswa, Rifki menyayangkan ketidak-hadiran mahasiswa Amikom dalam kegiatan ini. Padahal panitia Pemilwa pada tahun ini telah merubah tradisi debat yang sebelumnya dianggap eksklusif.

“Yang tahun kemarin itu di Citra, menurutku itu eksklusif, jadi temen-temen yang mau masuk di situ walaupun kita terbuka pintunya lebar-lebar pasti enggan masuk. Maka kita coba alihkan ke Basemen V, dimana (Basemen V) enggak ada pintu,” ungkap Rifki.

Pada masa kampanye, panitia Pemilwa juga melakukan ajakan untuk tidak abstain dalam pemilihan (golput) dan kegiatan-kegiatan rangkaian acara Pemilwa kepada mahasiswa.

“Ketika masa kampanye tahun ini, jadi yang kampanye enggak cuma para paslon doang, kita dari panitia juga ikut mengampanyekan, tapi dalam konteks bukan kampanye memperkenalkan nomor satu, dua, tiga atau empat. Tapi kita lebih ke publikasi untuk mengajak teman-teman jangan golput. Ayo ramaikan, gunakan hak suaramu dalam Pemilwa tahun ini,” kata Rifki.

Salah satu peserta acara, Muhidin Al-Mujahidin mengaku menerima informasi diadakannya kegiatan ini dari sosial media miliknya.

“Saya kebetulan di-follow oleh (akun) Pemilihan Langsung Mahasiswa makanya saya mengikuti,” ungkap mahasiswa D3TI yang kerap dipanggil Aidil.

Ia juga mengatakan bahwa kegiatan debat kali ini bukanlah perdebatan untuk menuangkan aspirasi mahasiswa, tapi kegiatan ini dinilai demi kepentingan-kepentingan orang.

“Forum ini tidak melibatkan secara langsung mahasiswa. Nah, ini mungkin kerja-kerja ke depan antar calon presiden yang akan naik itu, hanya sebatas kerja-kerja antara perorangan atau komunitas. Artinya ini bukan forum-forum demokratis,” jelasnya.

Berbeda dengan Aidil, Hanif Fernanda P. yang merupakan  mahasiswa Ilmu Komunikasi tidak mengetahui sosial media Pemilihan Langsung Mahasiswa. Ia mengetahui kegiatan tersebut melalui spanduk-spanduk di area kampus.

“Kalau enggak ada itu (spanduk), mungkin saya enggak bakal tahu ada pemilihan-pemilihan begini. Saya agak penasaran dikit gimana pelaksanaannya sekalian untuk keperluan tugas jurnalistik juga,” jelasnya.

Kegiatan Debat ini juga sebagai penutupan masa kampanye Pemilwa 2019. Panitia Pemilwa memberikan toleransi waktu kepada seluruh paslon untuk pencopotan atribut kampanye.

“Seharusnya banner-banner ini udah dicabut sih, tapi kita kasih toleransi kepada semua pasangan calon. Kalau belum dilepas hingga jam 02.39 nanti malam, pada besok harinya kita kasihkan penalti.” tutup Rifki.

Reporter: Chandra Yoga dan Bayu Utomo

Editor: Adi Ariyanto

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email